WebNovels

Chapter 22 - Rahasia menara pertama

Suara retakan dari tanda di tangan Raka terdengar sangat jelas.

KRAK.

Garis merah di telapak tangannya terbelah seperti kaca yang pecah.

Raka menahan napas.

"Ini… tidak mungkin…"

Makhluk raksasa dari bawah fondasi menara menatapnya dengan puluhan mata merah yang menyala.

Senyumnya perlahan melebar.

"Segelnya melemah."

Seluruh menara bergetar lebih keras.

Rantai-rantai batu yang menahan tubuh makhluk itu mulai retak satu per satu.

CRAAACK!

Satu rantai putus.

Lalu yang lain.

Pria berambut putih langsung berteriak.

"Raka! Jangan biarkan segelnya hancur!"

Namun Raka justru merasakan sesuatu yang berbeda.

Melalui hubungan dengan menara, ia merasakan kenangan yang bukan miliknya.

Bayangan masa lalu tiba-tiba memenuhi pikirannya.

Langit berwarna merah tua.

Di tengah tanah yang hancur, berdiri sebuah menara pertama.

Jauh lebih besar dari menara yang Raka kenal.

Di sekelilingnya berdiri ratusan orang berjubah.

Dan di depan mereka—

pria berambut putih yang lebih muda.

Ia memegang tangan seorang anak kecil.

Anak itu adalah Raka.

Namun wajahnya lebih muda.

Dan matanya bersinar merah sejak awal.

Suara pria itu bergema dalam kenangan.

"Menara ini bukan sekadar penjara."

Ia menunjuk ke tanah di bawah mereka.

"Di bawah dunia ini…"

"Ada makhluk yang tidak bisa mati."

Para penyihir di sekelilingnya mulai mengaktifkan segel raksasa.

Cahaya merah memenuhi langit.

Pria itu melanjutkan.

"Kita tidak bisa membunuhnya."

"Jadi kita akan mengurungnya."

Ia menatap anak kecil di depannya.

Tatapannya penuh penyesalan.

"Dan untuk menjaga segel itu…"

Ia menempelkan tangannya ke dada anak itu.

"...kita membutuhkan wadah hidup."

Anak kecil itu bertanya polos.

"Apa itu berarti aku akan tinggal di menara?"

Pria itu terdiam lama.

Lalu menjawab pelan.

"Selamanya."

Kenangan itu hancur seperti kaca.

Raka kembali ke puncak menara.

Napasnya berat.

Matanya menatap pria berambut putih dengan penuh kemarahan.

"Jadi…"

suaranya bergetar.

"Sejak awal…"

"kau menciptakanku untuk ini?"

Pria berambut putih tidak menjawab.

Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.

Makhluk dari jantung menara tertawa kecil.

"Oh, akhirnya dia tahu."

Ia berjalan santai mendekati Raka.

"Menarik sekali."

Ia menunjuk pria itu.

"Dia bukan sekadar pencipta menara."

Ia menyeringai.

"Dia penciptamu."

Aldren yang masih terjebak batu menatap mereka dengan kebingungan.

"Tunggu… apa?"

Raka menatap pria itu.

Matanya dipenuhi emosi yang campur aduk.

"Kau… ayahku?"

Pria berambut putih menutup matanya.

Lalu akhirnya berkata pelan.

"...ya."

Keheningan memenuhi ruangan.

Namun makhluk raksasa dari bawah retakan mulai tertawa.

Suara tawanya mengguncang seluruh menara.

"Keluarga yang menyentuh."

Ia mulai menarik tubuhnya keluar lebih jauh.

Retakan di lantai semakin melebar.

Sekarang setengah tubuhnya sudah terlihat.

Tubuhnya seperti gabungan bayangan dan batu hidup.

Di punggungnya masih tertanam ratusan menara yang hancur.

Makhluk itu menatap Raka lagi.

"Anak penjaga."

"Kau akhirnya mengingat."

Raka mengepalkan tangannya.

Tanda di tangannya terus retak.

Cahaya merahnya mulai tidak stabil.

Makhluk dari jantung menara menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

"Jika segel di tubuhmu pecah…"

Ia tersenyum.

"...maka menara ini tidak lagi punya penjaga."

Pria berambut putih tiba-tiba berteriak.

"Raka!"

"Jika segel itu hancur—"

Makhluk raksasa menyelesaikan kalimatnya dengan suara berat.

"—aku akan bebas."

BOOOOM!

Separuh lantai puncak menara runtuh.

Tubuh makhluk itu sekarang hampir sepenuhnya keluar.

Raka berdiri di tepi retakan raksasa.

Ia menatap tangannya yang retak.

Lalu menatap ayahnya.

"Jadi selama ini…"

"hidupku hanya untuk menjadi kunci penjara?"

Pria berambut putih menunduk.

"...aku minta maaf."

Makhluk dari jantung menara bertepuk tangan pelan.

"Drama keluarga yang luar biasa."

Ia menatap Raka.

"Jadi sekarang pertanyaannya sederhana."

Ia membuka tangannya lebar.

"Apakah kau akan tetap menjadi penjara…"

Puluhan mata merah makhluk raksasa itu menyala bersamaan.

"...atau kau akan membuka pintunya?"

Tanda di tangan Raka retak lebih besar.

KRAAAK.

Namun tiba-tiba—

Raka mulai tertawa pelan.

Semua orang menatapnya.

Raka mengangkat kepalanya.

Matanya sekarang bersinar lebih terang dari sebelumnya.

"Aku baru menyadari sesuatu."

Makhluk dari jantung menara menyipitkan mata.

"Oh?"

Raka menunjuk retakan raksasa itu.

"Jika aku adalah kunci…"

Ia mengepalkan tangannya.

"...maka aku juga yang memutuskan siapa yang boleh keluar."

Seluruh menara tiba-tiba bergetar lagi.

Namun kali ini—

bukan karena makhluk di bawahnya.

Melainkan karena sesuatu yang bangun di dalam menara itu sendiri.

Pria berambut putih berbisik pelan.

"Raka… apa yang kau lakukan…?"

Raka tersenyum tipis.

"Memanggil sesuatu yang bahkan menara ini takut bangunkan."

Dari dinding menara—

mulai terdengar langkah kaki berat.

Satu.

Dua.

Tiga.

Makhluk dari jantung menara akhirnya kehilangan senyumnya.

Ia berbisik pelan.

"...tidak mungkin."

Aldren menatap kegelapan koridor menara dengan mata membesar.

"Dari dalam menara…"

"Sesuatu yang lain juga keluar."

Dan langkah kaki itu semakin dekat.

DUM.

DUM.

DUM.

Lalu sebuah suara tua bergema dari kegelapan.

"Penjaga baru telah bangun."

Semua orang membeku.

Karena suara itu…

datang dari penjaga menara sebelumnya.

Yang seharusnya sudah mati ratusan tahun lalu.

More Chapters