WebNovels

Chapter 26 - Mata dari luar dunia

Langit yang retak itu terus melebar.

Bukan seperti retakan kaca.

Lebih seperti luka yang dipaksa terbuka di tubuh dunia.

Angin dingin yang tidak berasal dari dunia ini mulai mengalir keluar dari celah raksasa itu.

Raka merasakan seluruh tubuhnya merinding.

Energi menara yang mengalir ke dalam tubuhnya tiba-tiba bergetar tidak stabil.

Di dalam retakan—

sesuatu bergerak.

Awalnya hanya bayangan.

Lalu perlahan terbentuk seperti mata raksasa yang terbuka.

Satu mata.

Namun ukurannya lebih besar dari seluruh puncak menara.

Pupilnya berputar seperti galaksi yang hidup.

Penjaga pertama langsung berlutut.

Tubuh batunya retak semakin dalam.

"Makhluk luar…"

Pria berambut putih berbisik dengan wajah pucat.

"Bukan…"

"Itu bukan makhluk."

"Dia adalah sesuatu yang bahkan para pencipta menara tak berani sebut namanya."

Monster raksasa penghancur menara berhenti bergerak.

Puluhan matanya menatap ke langit.

Untuk pertama kalinya—

ia terlihat takut.

Makhluk dari jantung menara juga berhenti tersenyum.

"Tidak mungkin…"

Ia menatap retakan langit itu.

"Aku hanya membuka jaringan energi…"

"Seharusnya tidak sampai—"

Suara dari langit tiba-tiba terdengar.

Bukan suara.

Lebih seperti pikiran yang menembus kepala semua orang sekaligus.

"Akhirnya."

Seluruh menara di dunia bergetar bersamaan.

"Gerbangnya terbuka."

Raka mengepalkan tangannya.

Cahaya merah dari tubuhnya semakin terang.

"Siapa kau?"

Mata raksasa di langit itu berputar perlahan.

Seolah menatap langsung ke jiwa Raka.

"Kunci."

"Aku telah menunggumu."

Jantung Raka berdegup keras.

Energi menara di tubuhnya bergetar semakin liar.

Makhluk dari jantung menara menatap Raka dengan wajah berubah.

"Jangan dengarkan dia!"

Namun suara dari langit itu terus berbicara.

"Menara-menara ini…"

"…dibangun untuk menutupku."

Petir merah menyambar di seluruh langit.

"Dan kau baru saja membuka semuanya."

Penjaga pertama mencoba berdiri.

Namun tubuhnya runtuh lagi.

"Tidak…"

"Dunia belum siap."

Monster raksasa penghancur menara menggeram keras.

"MAKA AKU AKAN MENUTUPNYA!"

Ia melompat ke udara dan menghantam retakan langit itu.

BOOOOOOOM!

Langit bergetar.

Namun retakan itu tidak tertutup.

Sebaliknya—

retakan itu melebar lebih jauh.

Sebuah tangan raksasa mulai keluar dari dalamnya.

Jari-jari hitam yang panjangnya seperti gunung.

Makhluk dari jantung menara mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya wajahnya benar-benar panik.

"Dia bangun…"

Raka menatap tangan raksasa itu.

Lalu sesuatu di dalam pikirannya terbuka.

Potongan ingatan yang bukan miliknya.

Menara.

Perang kuno.

Makhluk dari langit.

Dan dunia yang hampir dihancurkan.

Suara dari langit kembali bergema.

"Serahkan dirimu padaku, Kunci."

"Dan aku akan membiarkan dunia ini tetap ada."

Raka diam beberapa detik.

Angin dari retakan langit membuat jubahnya berkibar.

Aldren berteriak dari belakang.

"Raka! Jangan!"

Makhluk dari jantung menara juga berteriak.

"Kalau dia mendapatkanmu—"

Raka mengangkat tangannya.

Semua suara langsung berhenti.

Ia menatap makhluk di langit itu tanpa rasa takut.

Lalu ia berkata pelan.

"Aku mengerti sekarang."

Mata raksasa itu menyempit.

"Mengerti apa?"

Raka tersenyum kecil.

"Kenapa menara dibuat."

Ia membuka kedua tangannya.

Seluruh energi menara di dunia langsung bergetar.

Cahaya merah memenuhi langit.

"Kalian semua salah."

Monster raksasa.

Makhluk dari jantung menara.

Dan makhluk dari langit.

Raka menatap mereka semua.

"Aku bukan kunci untuk membuka pintu."

Energi merah di tubuhnya berubah semakin terang.

Seluruh jaringan menara menyala seperti bintang.

"Aku adalah…"

Tanah di bawah menara retak.

Energi dari seluruh dunia mengalir ke tubuhnya.

"...kunci untuk menghancurkan pintu itu selamanya."

Mata raksasa di langit tiba-tiba melebar.

Untuk pertama kalinya—

suara itu terdengar marah.

"BERHENTI!"

Namun sudah terlambat.

Raka mengepalkan tangannya.

Dan seluruh menara di dunia menjawab.

Langit mulai runtuh.

Retakan raksasa itu mulai pecah seperti kaca yang dihancurkan dari dalam.

Makhluk dari langit mengaum marah.

Tangan raksasanya mencoba keluar sepenuhnya.

Namun cahaya merah dari menara menahannya.

Penjaga pertama berbisik dengan suara lemah.

"Dia…"

"Dia mengorbankan dirinya."

Aldren menatap Raka dengan mata gemetar.

"Raka… jangan…"

Namun Raka hanya tersenyum.

Cahaya merah mulai menelan tubuhnya.

Ia menatap dunia untuk terakhir kalinya.

"Lagipula…"

Langit mulai runtuh sepenuhnya.

"...menara selalu butuh penjaga baru."

BOOOOOOOOOOM.

Cahaya merah menelan seluruh langit.

Dan dunia pun berubah selamanya.

More Chapters