WebNovels

Chapter 21 - Sesuatu yang lebih tua dari menara

Retakan di lantai puncak menara terus melebar.

KRRRRAAAAK…

Suara batu yang terbelah menggema seperti guntur di dalam ruangan.

Dari celah hitam itu, udara dingin yang pekat menyembur keluar.

Bukan sekadar dingin.

Tapi dingin yang terasa hidup.

Raka mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya sejak tanda di tangannya menyala, ia merasakan sesuatu yang aneh.

Menara…

takut.

Urat-urat hitam di dinding bergetar tidak teratur.

Beberapa bahkan mencoba menjauh dari retakan itu seperti makhluk yang panik.

Pria berambut putih menatap celah itu dengan mata membesar.

"Itu tidak mungkin…"

Makhluk dari jantung menara menyipitkan mata.

"Ah."

Ia tampak benar-benar terkejut untuk pertama kalinya.

"Jadi mereka masih ada."

Aldren yang tertahan oleh batu tertawa pelan.

"Lebih banyak kekuatan…"

Ia menjilat darah di bibirnya.

"Aku suka."

Tiba-tiba—

Sesuatu bergerak di dalam kegelapan retakan.

Bukan satu.

Bukan dua.

Puluhan mata merah perlahan terbuka di dalamnya.

Pria berambut putih mundur selangkah.

"Raka…"

suaranya bergetar.

"Jangan biarkan itu keluar."

Raka menatap retakan itu.

Melalui hubungan aneh dengan menara, ia bisa merasakan sesuatu.

Makhluk itu…

bukan bagian dari menara.

Ia jauh lebih tua.

Jauh lebih dalam.

Makhluk dari jantung menara tersenyum tipis.

"Lucu sekali."

Ia menatap Raka.

"Menara ini dibuat untuk menahan banyak hal."

"Tapi bahkan penciptanya pun tidak tahu…"

Ia menunjuk ke retakan.

"…apa yang ada di bawah fondasinya."

Tiba-tiba—

Sebuah tangan raksasa muncul dari dalam celah.

Kulitnya hitam seperti batu yang terbakar.

Cakar-cakarnya panjang dan bengkok.

Ia mencengkeram lantai menara.

DUUUM!

Seluruh puncak menara berguncang hebat.

Aldren tertawa gila.

"Ya…!"

"Keluar!"

Raka langsung mengangkat tangannya.

Urat-urat hitam menara bergerak cepat seperti ular raksasa.

Mereka melilit tangan makhluk itu.

Namun—

CRAAACK!

Urat-urat itu langsung putus seperti benang.

Makhluk itu mulai menarik tubuhnya keluar.

Pria berambut putih berteriak.

"Itu adalah sesuatu yang bahkan menara tidak bisa menahan!"

Makhluk dari jantung menara menatapnya santai.

"Kau yang membangun menara."

"Dan kau tidak tahu?"

Ia tertawa pelan.

"Kau membangun penjara…"

"Lalu menaruhnya di atas neraka."

Retakan itu semakin terbuka.

Kini kepala makhluk itu mulai terlihat.

Bentuknya tidak jelas.

Seperti bayangan yang terus berubah.

Namun satu hal jelas—

ukurannya jauh lebih besar dari seluruh ruangan puncak menara.

Raka merasakan menara bergetar panik.

Ia mengepalkan tangannya.

"Jika menara takut padanya…"

Ia menarik napas dalam.

"Berarti aku juga harus takut."

Makhluk dari jantung menara menatapnya penasaran.

"Lalu?"

Raka mengangkat kepalanya.

Matanya sekarang bersinar merah seperti tanda di tangannya.

"Tapi aku masih penjaga menara."

Ia mengangkat kedua tangannya.

Seluruh menara tiba-tiba bergemuruh.

Dari dinding, lantai, dan langit-langit—

rantai batu raksasa muncul satu per satu.

Puluhan.

Lalu ratusan.

Makhluk di retakan itu menggeram marah.

Suara geramannya membuat udara bergetar.

Pria berambut putih menatap Raka dengan tidak percaya.

"Kau…"

Raka berteriak.

"SEMUA RANTAI MENARA!"

"IKAT DIA!"

Rantai-rantai itu meluncur seperti tombak raksasa.

BOOM!

BOOM!

BOOM!

Mereka menancap ke tubuh makhluk itu dari segala arah.

Makhluk itu mengaum.

Aldren menatap dengan mata gila.

Makhluk dari jantung menara tersenyum lebar.

"Ah…"

Ia berbisik.

"Akhirnya permainan yang menarik."

Namun kemudian—

CRAAAAAACK.

Salah satu rantai menara…

putus.

Lalu rantai kedua.

Lalu ketiga.

Pria berambut putih berbisik pelan.

"Raka…"

"Jika semua rantai itu putus…"

Makhluk itu mulai menarik tubuhnya keluar dari retakan.

Dan sekarang mereka bisa melihat sesuatu yang membuat darah mereka membeku.

Di punggung makhluk itu—

tertanam ratusan menara yang hancur.

Seperti dunia yang pernah mencoba mengurungnya…

dan gagal.

Makhluk dari jantung menara berbisik kagum.

"Jadi kau yang menghancurkan mereka semua."

Makhluk itu akhirnya mengangkat kepalanya.

Dan menatap langsung ke arah Raka.

Puluhan mata merahnya menyala bersamaan.

Lalu ia berbicara dengan suara yang membuat seluruh menara retak.

"Penjaga."

Raka membeku.

Makhluk itu tersenyum.

"Aku sudah lama menunggumu."

Dan tiba-tiba—

tanda di tangan Raka retak.

More Chapters