WebNovels

Chapter 24 - Perang menara di seluruh dunia

Cahaya merah dari menara tempat Raka berdiri menyala semakin terang.

Namun cahaya itu tidak berhenti di sana.

Di kejauhan—

ribuan kilometer dari tempat itu—

sebuah menara tua yang tertutup salju tiba-tiba bersinar.

Lalu menara lain di tengah gurun.

Dan satu lagi di tengah lautan.

Satu per satu…

menara-menara kuno di seluruh dunia mulai bangun.

Pria berambut putih menatap langit dengan wajah tidak percaya.

"Itu tidak mungkin…"

Penjaga pertama menatap Raka dengan tatapan dalam.

"Kau membangunkan semuanya."

Makhluk dari jantung menara tersenyum tipis.

"Ah… sekarang aku mengerti."

Ia menatap Raka dengan penuh minat.

"Kau tidak hanya menjadi penjaga menara ini."

Ia tertawa pelan.

"Kau menjadi penjaga semua menara."

Raka mengepalkan tangannya.

Ia bisa merasakan semuanya.

Setiap menara.

Setiap segel.

Setiap retakan yang mulai melemah.

Kekuatan itu mengalir di tubuhnya seperti arus listrik yang tak ada habisnya.

Namun di bawah retakan raksasa—

makhluk penghancur menara itu menggeram marah.

Puluhan matanya menyala seperti matahari merah.

"Kau pikir rantai baru bisa menahanku?"

Ia mengangkat tubuhnya lebih tinggi.

Batu-batu puncak menara runtuh saat tubuh raksasa itu keluar lebih jauh.

Raka menatapnya tanpa berkedip.

"Aku tidak mencoba menahanmu."

Makhluk itu berhenti bergerak.

Puluhan matanya menyipit.

"Lalu apa yang kau lakukan, penjaga?"

Raka mengangkat kedua tangannya.

Di langit—

cahaya merah dari menara-menara di seluruh dunia mulai saling terhubung.

Seperti jaringan raksasa yang melintasi bumi.

Penjaga pertama berbisik pelan.

"Jaringan segel…"

Pria berambut putih membeku.

"Itu hanya teori…"

Raka menjawab tanpa menoleh.

"Teori yang kau ajarkan padaku."

Makhluk dari jantung menara tertawa kecil.

"Ini semakin menarik."

Namun tiba-tiba—

seluruh menara berguncang keras.

Makhluk raksasa itu menggeram dengan suara yang membuat udara bergetar.

"KAU TERLAMBAT."

BOOOOOOOM!

Dengan satu gerakan—

ia menghancurkan puluhan rantai batu yang masih menahannya.

Tubuhnya akhirnya keluar sepenuhnya dari retakan.

Ukurannya begitu besar hingga kepalanya menembus langit malam.

Langit di atas menara retak seperti kaca.

Pria berambut putih berbisik dengan wajah pucat.

"Dia… benar-benar keluar…"

Aldren yang masih ditahan penjaga pertama tertawa gila.

"Bagus!"

"Akhirnya sesuatu yang layak dilawan!"

Makhluk dari jantung menara menatap monster raksasa itu dengan senyum tipis.

"Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bertemu."

Monster itu menoleh padanya.

"Pengkhianat."

Makhluk dari jantung menara tertawa.

"Aku hanya memilih sisi yang lebih menyenangkan."

Lalu—

monster itu menatap langsung ke arah Raka.

Puluhan matanya menyala bersamaan.

"Penjaga kecil."

"Jika kau ingin perang…"

Ia mengangkat tangannya yang sebesar gunung.

"…maka aku akan menghancurkan setiap menara yang kau miliki."

Ia menghantam tanah dengan cakarnya.

BOOOOOOOM!

Gelombang kejut raksasa menyapu seluruh puncak menara.

Namun Raka tidak bergerak.

Cahaya merah dari tubuhnya justru semakin terang.

Ia merasakan jaringan menara di seluruh dunia mulai aktif.

Energi dari mereka mengalir ke satu titik.

Ke dirinya.

Penjaga pertama menatapnya dengan serius.

"Jika kau melakukan ini…"

"Kau mungkin tidak akan bertahan hidup."

Raka tersenyum tipis.

"Aku tahu."

Pria berambut putih berteriak.

"Raka! Jangan—"

Namun Raka sudah mengangkat tangannya tinggi ke langit.

Cahaya dari seluruh menara di dunia menyatu menjadi satu.

Sinar raksasa jatuh dari langit.

Langsung menuju tubuh Raka.

Makhluk raksasa itu akhirnya menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat pada makhluk sepertinya.

Kejutan.

"Apa yang kau lakukan…?"

Raka membuka matanya.

Namun sekarang—

matanya bukan lagi mata manusia.

Mereka bersinar seperti inti matahari merah.

Suaranya bergema di seluruh menara.

"Bukan hanya aku penjaga menara."

Ia menunjuk monster raksasa itu.

"Menara-menara itu…"

"...dibangun untuk melawanmu."

Cahaya dari langit semakin besar.

Seluruh dunia mulai bergetar.

Dan untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun—

perang menara benar-benar dimulai.

Namun tepat sebelum cahaya itu menghantam—

sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Makhluk dari jantung menara tiba-tiba tersenyum sangat lebar.

Dan berbisik pelan.

"...akhirnya."

Pria berambut putih menoleh padanya dengan ngeri.

"Apa maksudmu…?"

Makhluk itu tertawa.

"Semua ini…"

Ia menunjuk Raka.

"...adalah yang aku tunggu."

Lalu—

ia menancapkan tangannya langsung ke jantung menara.

CRAAAAAAACK.

Dan segel terbesar menara itu…

akhirnya pecah.

More Chapters