WebNovels

Chapter 19 - Kunci menara

Cahaya merah dari tanda di tangan Raka meledak memenuhi ruangan.

WHOOM!

Gelombang energi menyapu seluruh puncak menara.

Urat-urat hitam di dinding langsung berdenyut lebih cepat.

Seolah menara itu sendiri merespons kehadiran Raka.

Raka jatuh berlutut.

Tangannya terasa seperti terbakar.

"AAARGH!"

Rasa panas menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuh.

Makhluk dari jantung menara tersenyum puas.

"Akhirnya bangun juga."

Pria berambut putih langsung melangkah maju.

"Berhenti!"

Ia mengangkat tangannya.

Udara di sekitar mereka langsung menekan seperti gravitasi tiba-tiba menjadi lebih berat.

Namun makhluk itu hanya meliriknya sekilas.

"Tenang saja."

Ia menatap Raka dengan mata merah menyala.

"Aku hanya membangunkan sesuatu yang sudah ada di dalam dirinya."

Raka terengah-engah.

Di kepalanya tiba-tiba muncul kilasan gambar aneh.

Menara.

Namun bukan menara yang sekarang.

Menara yang baru dibangun.

Ratusan orang bekerja di sekelilingnya.

Dan di tengah semua itu…

berdiri seorang anak kecil.

Anak itu menatap menara yang belum selesai.

Di tangannya ada simbol hitam yang sama seperti milik Raka.

Raka menggertakkan giginya.

"Apa ini…?"

Makhluk itu tertawa pelan.

"Itu kenangan."

"Kenangan yang kau lupakan."

Pria berambut putih menatap Raka dengan ekspresi tajam.

"Jangan dengarkan dia."

Makhluk itu mengangkat alisnya.

"Oh?"

"Kau masih ingin menyembunyikan kebenaran?"

Ia menatap Raka lagi.

"Baiklah."

Makhluk itu mengangkat tangannya.

Cahaya merah dari jantung menara yang pecah tiba-tiba berkumpul di udara.

Lalu cahaya itu membentuk bayangan masa lalu.

Raka melihat sosok seorang pria berdiri di depan menara yang baru selesai dibangun.

Pria itu adalah…

pria berambut putih.

Namun wajahnya lebih muda.

Ia berdiri di depan seorang anak kecil.

Anak itu…

Raka.

Suara dari bayangan itu terdengar jelas.

"Menara ini membutuhkan kunci."

"Dan hanya seseorang yang terikat dengan jantungnya yang bisa menjadi kunci itu."

Anak kecil itu bertanya.

"Kenapa aku?"

Pria berambut putih dalam bayangan itu tersenyum tipis.

"Karena kau yang pertama kali menyentuh jantung menara."

Bayangan itu menghilang.

Ruangan kembali sunyi.

Raka menatap pria berambut putih dengan mata gemetar.

"Kau…"

Suaranya hampir tidak keluar.

"…mengorbankanku?"

Pria itu tidak menjawab.

Makhluk dari jantung menara tertawa keras.

"Akhirnya kau mengerti."

Ia menunjuk ke arah menara.

"Selama ini kau bukan pewaris."

"Kau hanyalah kunci yang menjaga menara tetap tertutup."

Raka merasakan dadanya seperti dihantam sesuatu.

"Kalau begitu…"

Ia menatap tangannya yang bercahaya merah.

"…kenapa menara memanggilku kembali?"

Makhluk itu tersenyum sangat lebar.

Senyum yang hampir terlihat kejam.

"Karena kunci sudah rusak."

Ia menunjuk ke arah jantung menara yang pecah.

"Dan sekarang…"

Ia membuka kedua tangannya.

"…menara ini akhirnya bisa lahir kembali."

Tiba-tiba seluruh menara bergetar sangat kuat.

BOOOOOOM!

Retakan raksasa muncul di lantai puncak.

Dari dalam retakan itu keluar cahaya merah yang jauh lebih terang.

Makhluk itu berbisik dengan suara penuh kegembiraan.

"Sudah waktunya."

Raka merasakan sesuatu bangun di dalam tubuhnya.

Tanda hitam di tangannya mulai berubah bentuk.

Dan suara asing terdengar di dalam kepalanya.

"Kunci telah terbuka."

Namun suara itu bukan milik makhluk di depan mereka.

Suara itu…

datang dari dalam diri Raka sendiri.

More Chapters