Dengan hati-hati, Kaivan mendekati Frans, memastikan dirinya tidak mengejutkannya. Dengan suara pelan, ia membuka percakapan. "Hei… lagi ngapain di sini?" Nadanya ramah, disisipi rasa ingin tahu yang tulus.
Frans menoleh cepat, terkejut. Ada kilatan waspada di matanya. "Kamu siapa? Kenapa nanya begitu?" suaranya tegas, meski terselip kegugupan.
Kaivan tersenyum tipis. "Aku suka melihat orang yang sedang jatuh cinta. Jadi… siapa gadis beruntungnya?"
Frans berkedip, jelas tak menyangka pertanyaan itu. Namun ada sesuatu dari ekspresi Kaivan yang membuatnya merasa aman. Akhirnya ia menunjuk ke arah seorang gadis yang sedang mengobrol bersama teman-temannya. "Yang itu… namanya Tira. Aku mau menyatakan perasaanku hari ini. Siapa tahu… kami bisa mulai pacaran."
Kaivan membuka Tome Omnicent yang selalu ia bawa. Halamannya berbalik sendiri, berhenti pada satu petunjuk yang terasa aneh namun jelas:
"Tunggu pukul satu dua belas, di depan gedung. Putuskan tali tipis penahan ember cat. Biarkan Frans menuntun Tira ke depan, hingga pandangan mereka bertemu."
Kaivan menutup buku itu dengan tenang, lalu menatap Frans mantap. "Tunggu dulu. Jangan sekarang. Kita tunggu setengah jam, biar suasananya lebih tenang."
Frans mengernyit. "Kenapa harus nunggu? Bukannya makin banyak orang malah makin serius?" Nada bicaranya ragu, sarat ketegangan.
Senyum Kaivan tetap lembut. "Kamu ingin momen yang benar-benar Tira ingat. Bukan sekadar tontonan ramai. Percayalah… keajaiban sering muncul dalam keadaan sunyi."
Pandangan Frans bergantian antara Tira dan Kaivan. Keinginan untuk segera bertindak berbenturan dengan kepercayaan rapuh yang perlahan tumbuh. Akhirnya, ia menghela napas panjang dan mengangguk. "Baiklah. Kita tunggu."
Mereka duduk di bangku yang tersembunyi di balik semak-semak, tetap bisa mengawasi Tira. Seiring waktu berlalu, alun-alun menjadi lebih lengang. Kerumunan perlahan bubar, meninggalkan suasana yang lebih tenang.
Kaivan melirik jam tangannya. "Sudah waktunya. Ikuti aku." Ia berdiri dan melangkah mantap. Frans mengikutinya, kini lebih tenang. Mereka menuju gedung yang disebutkan Tome. Di sana, Kaivan menemukan ember cat besar yang tergantung pada tali tipis. Tanpa ragu, ia mengeluarkan gunting dan memotong tali itu dengan presisi.
Kaivan menoleh, sorot matanya tajam. "Sekarang. Panggil Tira, tapi jangan langsung bicara. Biarkan dia mendekat."
Frans sempat ragu, namun menurut. Ia melangkah ke depan dan memanggil dengan suara tenang namun tegas. "Tira."
Matahari siang menyelimuti kota dengan kehangatan lembut. Bayangan memanjang di atas trotoar. Di dada Frans, kegugupan mengamuk seperti badai. Dari kejauhan, Tira berjalan santai menghampiri, rambutnya berkilau terkena cahaya matahari.
Tiba-tiba, sebuah teriakan terdengar dari atas. "Hati-hati di bawah!" seru seorang pekerja bangunan. Frans dan Kaivan refleks mendongak. Sebuah ember cat bergoyang liar di ujung tali yang mulai rapuh.
"Tidak…" gumam Frans panik. Matanya langsung tertuju pada Tira yang masih belum menyadari bahaya.
Tali itu putus.
Ember jatuh meluncur cepat ke bawah, tepat ke arahnya. Dalam sekejap, kegugupan Frans lenyap. Ia melempar buket bunganya ke udara, lalu berlari menghampiri Tira.
"Tira! Awas!" teriaknya.
Ia meraih pinggang Tira dan menariknya ke dalam pelukannya, melindunginya sepenuh tenaga. Tubuh mereka bertabrakan, namun Frans memosisikan diri sebagai tameng. Ember itu menghantam tanah dengan dentuman keras di belakang mereka. Debu berhamburan. Tira terjatuh ke dalam pelukannya.
Kerumunan di sekitar terdiam. Beberapa orang menutup mulut, terkejut. Frans memeluk Tira erat. Detak jantungnya berpacu. Pandangan mereka bertemu, begitu dekat hingga ia bisa merasakan hangat napasnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Frans parau, matanya menyusuri wajah Tira.
Tira terdiam sejenak. Pipinya memerah, sorot matanya melunak. "Aku… aku baik-baik saja," bisiknya, tersenyum malu.
Kaivan mendekat dengan langkah santai. Ia mengambil buket bunga yang jatuh, membersihkan debunya, lalu menyerahkannya pada Frans. "Ini," katanya dengan senyum bermakna.
Frans mengangguk, lalu menatap Tira penuh ketulusan. "Maaf… aku ingin menyatakannya dengan cara yang lebih baik." Ia menyodorkan buket itu. "Tapi aku tidak mau menunggu lagi. Tira… maukah kamu jadi pacarku?"
Keheningan menggantung. Tira menatapnya lama, masih berada dalam pelukannya. Sesaat kemudian, senyum lembut merekah. "Iya, Frans," jawabnya pelan. "Aku mau."
Wajah Frans langsung bersinar. Ia hampir tak percaya. Tira kemudian pamit untuk kembali ke teman-temannya.
Kaivan menepuk bahunya ringan. "Berhasil, ya."
Frans tertawa lepas. "Kamu luar biasa! Tanpa kamu, aku nggak bakal berani."
Kaivan tersenyum. "Aku cuma sedikit mendorong. Ngomong-ngomong, aku mau mulai bisnis. Mau ikut? Aku butuh partner buat usaha ponsel bekas."
"Serius? Kedengarannya keren!" jawab Frans antusias. "Ayo kita coba."
Beberapa jam kemudian, Kaivan duduk sendiri di tepi sungai kecil. Angin sore menyapu rambutnya. Di tangannya, Tome Omnicent bergetar samar.
"Pergilah ke utara, tiga hari lagi," bisik suara dari dalamnya.
"Ke utara? Bukan ke PT TLI?" gumam Kaivan. Di halaman buku, garis-garis tinta mulai membentuk peta yang hidup.
"Luar biasa…" bisiknya. Lalu ia mengernyit. "Tapi aku tidak punya kendaraan."
Jawaban muncul singkat: Pulang sekarang.
Saat Kaivan tiba di rumah, kejutan menantinya. Ibunya berdiri di garasi, tersenyum di samping sebuah motor baru. "Kaivan, kamu baru keluar dari rumah sakit. Mulai sekarang, pakai ini ya. Biar kalau harus pergi jauh, tidak repot."
