"Apa pun maksudnya, aku harus melakukannya. Buku ini tidak pernah salah," tekadnya pelan sambil mengembuskan napas.
Setelah membersihkan debu dari pakaian lusuhnya, Kaivan meninggalkan gudang dan menuju kafe tempat teman-temannya sudah menunggu.
Berdiri di ketinggian menghadap kota, Ludwig Café memancarkan nuansa rustic sekaligus elegan. Dekornya sederhana, namun hangat. Lampu-lampu temaram menggantung di langit-langit, memandikan meja-meja dengan cahaya keemasan yang menciptakan suasana akrab dan nyaman.
"Kaivan! Di sini!" seru Frans sambil melambaikan tangan dengan semangat.
Kaivan membalas dengan senyum tipis dan melangkah mendekat. "Maaf agak telat. Ada urusan yang harus kuselesaikan," katanya sambil duduk.
Radit yang duduk santai menepuk bahu Kaivan dengan tenang. "Santai, baru mulai kok. Ayo, jangan sampai makanannya dingin." Ia mengangkat gelasnya, seolah mengajak bersulang.
"Ini pertama kalinya aku makan makanan seenak ini," ujar Radit pelan. Matanya berkilat oleh sesuatu yang tak terucap. Ia terdiam sesaat, seakan teringat masa-masa sulit yang pernah ia lewati.
Di seberang meja, Zinnia tersenyum lembut. "Aku juga," katanya hangat. "Mungkin bagi orang lain ini hal biasa, tapi buatku ini berharga."
Frans condong ke depan dengan senyum lebar. "Serius? Kalian belum pernah makan di tempat kayak gini? Kalau begitu kita harus pesan lebih banyak! Malam ini kita rayakan hasil kerja keras kita, kan?"
Kaivan mendengarkan dengan tenang, senyum samar masih bertahan di wajahnya. "Buatku ini bukan yang pertama," katanya pelan, penuh makna. "Tapi aku setuju. Kita jadikan ini tradisi, sebulan sekali, atau bahkan tiap minggu kalau memungkinkan."
Ia memandangi mereka satu per satu: Radit dengan sikapnya yang tegas tapi hangat, Zinnia dengan perhatian dan ketulusannya, serta Frans dengan optimisme cerianya. Mereka adalah orang-orang yang membuatnya tak lagi merasa sendirian.
Ketenangan itu terpecah oleh dering ponsel Kaivan. Nada khasnya langsung menarik perhatian semua orang. Ia mengangkatnya, alisnya terangkat saat melihat nomor yang tak dikenal. Dengan rasa penasaran, ia menjawab, "Halo?"
"Kaivan, dua karung besarnya sudah siap. Kata ayahku, harganya dua puluh juta," suara Thivi terdengar cerah, meski terselip sedikit keraguan.
Kaivan terdiam sejenak, pandangannya melayang ke langit malam bertabur bintang di balik jendela, seakan mencari jawaban di sana. Akhirnya ia berkata tenang, "Baik… aku datang hari Sabtu sama teman-temanku."
Radit meletakkan sendoknya dengan bunyi pelan, memiringkan kepala berusaha menangkap pembicaraan. Zinnia menyeruput minumnya dengan santai, namun matanya mengamati Kaivan. Frans, dengan senyum santainya, seakan sudah menebak ada sesuatu yang menarik.
"Kamu di mana? Kok aku dengar musik?" tanya Thivi penasaran.
Kaivan melirik teman-temannya yang kini sepenuhnya memperhatikan. Ia menghela napas singkat sebelum menjawab.
"Ah, aku lagi di restoran rooftop. Makanya ada musik."
Dari seberang terdengar helaan napas kesal yang dibuat-buat.
"Nggak adil! Kamu enak-enakan makan, aku malah di sini. Pokoknya aku ke Bandung hari Sabtu!" ujar Thivi, setengah menggoda, setengah bersikeras.
Kaivan tersenyum tipis sambil menggeleng. "Iya, iya."
Panggilan berakhir, namun tatapan penasaran teman-temannya membuat Kaivan merasa seperti ketahuan basah.
Radit yang pertama angkat bicara, suaranya sedikit berat namun penuh rasa ingin tahu. "Itu pemasok ponselmu, kan?" tanyanya sambil mengangkat alis.
Zinnia duduk tegak dengan ekspresi geli. "Kenapa kedengarannya seperti kamu bicara dengan seseorang yang seumuran?" godanya, membuat Frans terkekeh.
"Pasti cewek! Jelas banget," sela Frans antusias. Ia bersandar santai, memutar serbet di jarinya. "Namanya siapa, Kaivan?"
Rasa panas merayap ke tengkuk Kaivan, tapi ia berusaha tetap tenang. "Iya… dia anak dari pemasok itu. Namanya Thivi," akunya singkat.
Belum sempat menambahkan apa pun, Zinnia menyela dengan senyum tipis yang tajam. "Dasar cowok," katanya, nadanya agak masam meski matanya serius.
Radit langsung tertawa keras, menepuk bahu Kaivan sampai ia hampir tersedak minumannya. "Siapa sangka kamu yang dulu selalu dibully itu sekarang begini. Aku masih ingat pernah ngebantuin kamu waktu sekolah!"
"Sudah, sudah, utangmu sudah lunas," balas Kaivan cepat sambil berdiri.
"Aku harus pergi. Ada urusan. Duluan."
Ia melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan teman-temannya yang saling bertukar pandang sambil tertawa.
Frans bersandar ke kursinya, menggeleng pelan dengan senyum puas.
