WebNovels

Chapter 30 - Tekanan Dari Tatapan Kakak Perempuan

Kira, kakak perempuan Kaivan, melangkah perlahan keluar dari ruang tamu menuju dapur. Langkahnya tenang, namun ada beban berat yang diam-diam menekan pikirannya. Setiap gerakan kecil memecah kesunyian malam, membentuk ritme lembut yang bergema di seluruh rumah.

Di dapur, Kira membuka lemari es, mengambil sebotol air, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Ia minum dengan tegukan pelan, matanya tertuju pada jendela, pada bayangan samar dirinya sendiri yang terpantul di sana—seolah ia sedang menatap versi lain dari dirinya, yang masih berusaha memahami apa yang baru saja ia saksikan. Pikirannya dipenuhi tanda tanya, namun tak satu pun memberi jawaban.

Di ruang tamu, udara terasa membeku. Kaivan duduk di antara Thivi dan Felicia, masing-masing tenggelam dalam diamnya sendiri. Kaivan menunduk, kepalan tangannya bertumpu kuat di atas lutut, seakan menahan dirinya agar tetap tenang. Thivi duduk kaku di sampingnya, menggigit bibir, sesekali melirik Kaivan, ragu apakah ia harus membuka suara. Sementara itu, Felicia—pipinya masih memerah—menjaga pandangan tetap tertunduk, tenggelam dalam rasa malu yang menyesakkan.

Setelah waktu yang terasa seperti keabadian, Kira kembali. Langkahnya mantap namun penuh kehati-hatian. Ia duduk di sofa, meletakkan gelas dengan lembut. Tatapannya menyapu ketiganya—tajam, namun tidak meledak-ledak. Justru keheningannya yang menekan ruangan tanpa suara.

"Jadi," akhirnya suara Kira terdengar, tenang namun sarat wibawa. Setiap katanya jatuh seperti palu di udara yang beku. Pandangannya berpindah dari Kaivan, ke Thivi, lalu ke Felicia—menuntut kejujuran.

Kaivan mengangkat wajahnya. Ia menghela napas panjang. "Kak… aku tidak pernah berniat membuat semuanya terlihat seperti itu," ucapnya pelan. "Aku hanya ingin membantu mereka. Felicia dan Thivi… mereka butuh tempat tinggal. Aku pikir…"

Kalimatnya terhenti, tersangkut di tenggorokan. Ia kembali menunduk, mencari cara berbicara tanpa memperdalam kesalahpahaman. Kira tetap diam, menunggu, sorot matanya tak bergeser.

Akhirnya, ia menoleh ke Felicia. "Jadi, kamu Felicia?" Nada suaranya melunak, meski ketajaman terukur masih tersisa.

Felicia meluruskan tubuhnya, berusaha tegar. "Iya, aku Felicia," jawabnya lembut namun mantap. Ia menundukkan kepala dengan sopan. "Maaf sudah datang ke sini. Kami tidak bermaksud merepotkan."

Kira mengangguk kecil, belum berkata apa-apa. Tatapannya lalu beralih ke Thivi, yang duduk gelisah sambil menggenggam ujung tank top-nya.

"Dan kamu Thivi?" lanjut Kira, kini fokus pada gadis berambut pendek itu.

Thivi mengangguk cepat. Suaranya lembut, namun terburu-buru. "Iya, aku Thivi. Aku juga minta maaf kalau kehadiran kami jadi beban. Aku… hanya ingin memastikan ini bukan kesalahan Kaivan." Ia tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana, namun senyum itu terasa dipaksakan—seperti payung yang dibuka di tengah badai emosi.

Kira sedikit menyipitkan mata, seolah membaca lebih dalam wajah Thivi. Namun sebelum ia sempat berbicara, Thivi menambahkan dengan nada nyaris ceria, "Dan… sepertinya tidak apa-apa kalau calon kakak iparku tahu soal ini. Aku hanya ingin semuanya baik-baik saja."

Ekspresi Kira berubah. Salah satu alisnya terangkat, kilatan terkejut muncul di matanya, lalu melembut menjadi senyum tipis. "Calon kakak ipar?" ulangnya, nada suaranya skeptis, namun sudut bibirnya terangkat samar.

Thivi mengangguk lagi, kali ini lebih percaya diri. "Iya. Aku akan membantu Kaivan dalam hal apa pun," katanya mantap, meski pipinya memerah oleh rasa malu.

Felicia, merasakan ketegangan mulai mencair, ikut bersuara. "Aku juga akan membantu, Kak. Karena… aku juga akan tinggal di sini," tambahnya tulus. Nadanya jujur, seperti janji sunyi bahwa ia ingin menjadi bagian dari rumah ini, meski hanya untuk sementara.

Kira mengangguk perlahan, senyumnya melebar penuh pengertian. "Baiklah. Besok pagi, kita masak sarapan bersama. Aku harap kalian berdua sungguh-sungguh ingin membantu."

Dengan kata-kata itu, udara terasa jauh lebih ringan. Ketegangan yang tadi menyelimuti ruangan perlahan mencair, digantikan kehangatan yang mengalir di antara mereka. Tawa kecil pun terdengar, membersihkan kekakuan yang sempat bertahan.

Malam pun benar-benar tiba, membungkus hari dengan kelembutan sunyi. Bulan menggantung rendah di langit, cahayanya menyelinap masuk lewat jendela kamar Kaivan. Di luar, dunia terdiam; angin berbisik lembut di antara dedaunan.

Kira, dengan ketenangan dan kebijaksanaannya, menatap mereka bertiga lalu berkata lembut, "Sudah larut. Kita istirahat saja. Besok harus bangun pagi."

Ucapannya mengalun seperti nina bobo—tenang namun tegas—penjaga agar rumah tetap diselimuti kehangatan. Kaivan, Felicia, dan Thivi mengikuti Kira menaiki tangga. Namun di tengah perjalanan yang damai itu, rasa penasaran tiba-tiba mengusik hati Thivi.

Matanya berbinar. Ia menatap ke langit-langit dan bertanya, polos namun penuh rasa ingin tahu, "Kaivan, di lantai paling atas itu ada apa?"

Kaivan, sedikit terkejut, menjawab santai, "Oh, cuma atap. Biasanya dipakai buat jemur pakaian."

Jawaban sederhana itu justru menyalakan sesuatu di dalam diri Thivi—tarikan sunyi menuju langit malam. Tanpa berpikir panjang, ia mempercepat langkah. Kaivan dan Felicia, tertular energinya yang tiba-tiba, menyusul dari belakang.

Saat mereka tiba di atap, langit malam menyambut. Bintang-bintang berkilau seolah menyapa kedatangan mereka. Dunia di atas terasa berbeda—lebih luas, lebih tenang—disentuh oleh keheningan yang hampir suci.

Angin sejuk membelai wajah mereka ketika mereka duduk berdampingan, membiarkan keheningan berbicara. Tak satu pun merasa perlu memecahnya; karena terkadang, kebersamaan lebih dalam daripada kata-kata.

More Chapters