WebNovels

Chapter 36 - Asap Menjelang Kejatuhan

"Radit," suaranya tenang, namun cukup tajam untuk menembus keheningan. "Kau masih bisa bertarung, bukan?"

Radit menoleh perlahan, rahangnya mengeras. "Hei, kau pikir aku siapa? Jangan bicara seolah aku bukan petarung." Nadanya singkat, bukan hanya karena marah, tapi karena harga dirinya terusik. Ia adalah tembok yang selalu diandalkan semua orang. Keraguan adalah luka yang tak pernah ia izinkan ada.

Kaivan tidak menjawab. Ia menarik napas panjang, membiarkan gelap ruangan menekan dari segala arah. Ruang itu terasa semakin sempit di setiap detak jantung. Ketegangan menggantung berat, hingga getaran samar terdengar dari atas, seperti langkah kaki raksasa tak terlihat yang sedang menuruni tangga gaib.

Di luar, Thivi dan Frans menunggu di dalam van. Thivi, mencolok dengan jaket neon dan legging bermotif hewan yang ketat, mencengkeram sabuk pengaman dengan jari-jari pucat. "Mereka bakal baik-baik saja, kan?" bisiknya, nyaris tak terdengar.

Frans tidak menjawab. Pandangannya tetap tertuju pada pusat perbelanjaan itu, seolah mencoba menebak dari mana bahaya akan menerobos. Bangunan tersebut menjulang seperti mulut menganga, siap menelan siapa pun yang berani mendekat.

Tiba-tiba, sebuah teriakan membelah malam.

"HEY, PENAKUT! TURUN KE SINI! BERDUA SAJA SUDAH CUKUP UNTUK MENGHANCURKAN KALIAN!"

Suara Kaivan menggelegar di lorong-lorong mall yang membusuk, mengguncang dinding kosong yang rapuh.

Radit menengadah, terkejut sesaat, lalu terkekeh singkat. "Kau gila. Benar-benar tak punya rasa takut."

Kaivan menyalakan rokok. Nyala api sesaat menerangi wajahnya. Ia menyodorkan rokok itu ke arah Radit. "Mau satu?" tanyanya, setenang biasa.

Radit mengangkat alis, sedikit terpana oleh ketenangan Kaivan, namun ia menerimanya tanpa ragu. "Kenapa tidak," katanya sambil mengisap dalam. Asap melayang malas ke atas, membentuk bayangan samar di bawah cahaya bulan pucat.

Langkah kaki dari lantai atas semakin jelas. Orang-orang berlari turun, tak menyadari jebakan licin yang menanti. Saat sepatu pertama menginjak anak tangga, kekacauan pun meledak. Satu per satu mereka tergelincir, jatuh sambil menjerit panik. Tubuh-tubuh membentur besi dan beton, suara benturan dan teriakan menggema di ruang kosong.

Kaivan mengisap rokoknya, asap mengepul santai saat ia menatap pemandangan itu dengan mata tenang. Di sampingnya, Radit tersenyum puas. "Kau jenius," katanya. "Sederhana, tapi kejam."

Kaivan hanya mengangguk, senyum tipis terukir di bibirnya. "Ini baru permulaan."

Di lantai dua, Kaivan berdiri tegak. Tubuhnya tampak kecil di tengah reruntuhan, namun tatapannya menyala dengan tekad sunyi. Ia meletakkan tangan di bahu Radit, sebuah isyarat jelas, saatnya bergerak.

Radit mengangguk. "Baiklah. Kita pastikan mereka tak akan melupakan ini."

Mereka mulai menaiki tangga, berhati-hati di permukaan licin yang kini menjadi senjata mereka sendiri. Setiap langkah diambil dalam diam, hanya napas dan dentuman jantung yang terdengar. Cahaya bulan menyusup melalui jendela retak, menebarkan perak terpecah di dunia yang telah ditinggalkan.

Di bordes lantai tiga, mereka berhenti. Sebuah lorong gelap terbentang di depan. Kaivan mengangkat tangan, memberi isyarat untuk menunggu.

"Ada yang tidak beres," bisiknya.

Radit mencoba mencairkan suasana. "Katanya gedung tua ini berhantu." Namun bahkan ia tak mampu menyembunyikan ketegangan dalam suaranya.

Kaivan melirik sekilas, ekspresinya sulit dibaca. Tome Omnicent di sisinya berdenyut pelan, seolah hidup, iramanya membimbing pikirannya. Dengan hati-hati, ia membuka halaman-halamannya yang berdesir seperti tersentuh angin entah dari mana.

"Dua orang," gumam Kaivan lirih. "Di balik dinding itu. Mereka menunggu kita."

Radit menyipitkan mata ke arah bayangan, sadar ia takkan melihat apa yang Kaivan lihat. "Buku itu luar biasa. Bisa baca pikiran juga?"

"Bukan pikiran," jawab Kaivan pelan. "Hanya apa yang perlu kita ketahui."

Percakapan berhenti di sana. Dengan isyarat singkat, mereka bergerak. Langkah cepat dan presisi membawa mereka maju seperti bayangan yang meluncur di udara. Radit menyapu ke kanan, Kaivan ke kiri, mendekati dinding yang telah ia tunjuk. Detik-detik sebelum bentrokan terasa seperti jarum jam yang menunggu saatnya berdentang.

Kaivan mengangkat tangan kirinya sebagai aba-aba. Dalam sekejap, mereka menerjang bersamaan. Radit menghantam dinding dengan bahunya, sementara Kaivan menyusup dari sisi sempit, menyerang dengan ketepatan sempurna.

Suara retak membelah udara saat bobot Radit merobohkan plester. Dua sosok di baliknya tertangkap basah, refleks mereka terlambat sepersekian detik. Salah satu mengangkat senjata, namun Radit lebih cepat. Ia menghantam pergelangan tangan pria itu, membuat pistolnya terlempar dan jatuh berderak ke lantai.

More Chapters