WebNovels

Chapter 38 - Ternyata Dialah Sang Pemburu

Radit hanya mengangkat bahu, berpura-pura polos.

Ketegangan menggantung, berat dan rapuh, saat dua anak buah Julian melangkah maju. Batang besi di tangan mereka berkilau di bawah cahaya neon. Wajah mereka kosong, sikap mereka mematikan.

Radit memutar batang besinya dengan ringan, logamnya berdengung memecah diam. "Kaivan," katanya mantap, "yang dua ini punyaku. Kau urus yang muka sial itu."

Kaivan mengangguk singkat, lalu melangkah ke depan. Tatapannya terkunci pada Julian, yang bersandar di kursinya seperti raja murahan. Julian membalas dengan senyum tipis. Mata mereka saling bertaut dalam keheningan yang hanya bisa ditembus oleh dendam.

Setiap langkah Kaivan terasa berat, seolah menginjak pecahan kaca. Udara menegang, dingin dan tajam. Di ujung ruangan, Julian bangkit perlahan, memutar pisau lipat kecil di antara jari-jarinya, lambang kesombongan sekaligus ancaman.

"Tanding ulang?" ejek Julian, berdiri tegak, bilah pisau menangkap cahaya neon yang redup. "Kali ini, aku pastikan kau tak akan bangun lagi."

Kaivan berhenti beberapa langkah darinya. Matanya menyipit, senyum tipis dan tajam terukir di bibirnya. "Tanding ulang lagi?" ucapnya rendah dan tenang. "Maksudmu saat aku menendang kepalamu sekali lagi?"

Senyum Julian goyah. Kilasan kekalahan pahit melintas di matanya, menyulut amarah. Tanpa peringatan, ia menerjang, lututnya melesat ke arah wajah Kaivan.

Kaivan menggeser tubuh, tendangan itu hanya membelah udara kosong. Julian berputar, mengayunkan pisau. Bilahnya melintas dekat, namun Kaivan merunduk, menyisakan kehampaan yang terbelah.

"Kau kira aku masih Julian yang dulu?" geramnya, melompat mundur, pisau menari di sela jarinya.

Kaivan tetap diam. Dadanya naik turun dengan ritme tenang, matanya membaca setiap gerakan kecil lawannya.

Di seberang ruangan, Radit berhadapan dengan dua pria bersenjata besi. Serangan mereka tajam dan kejam. Radit meliuk di antaranya, seperti penari di tengah kekacauan. Salah satu menyerang dari kanan.

"Serangan kanan!" teriaknya.

Radit mengangkat besinya, menangkis, lalu menusuk ke arah lutut. Jeritan membelah udara saat pria itu ambruk. Yang kedua menerjang, namun Radit merunduk. Hantamannya menghantam dinding. Radit berputar dan mendaratkan pukulan ke perutnya, membuatnya terkulai.

Sementara itu, Julian kembali menyerang. Kaivan tetap tenang. Saat pisau melesat ke dadanya, ia melangkah menyamping, memutar tubuh dengan halus, lalu menghantam wajah Julian dengan sikut. Bunyi tumpul kering terdengar. Julian terhuyung, darah menetes dari hidungnya.

Namun ia belum selesai. Dengan gerakan cepat, Julian mengayunkan pisau ke sisi Kaivan. Kaivan menahan dengan pergelangan tangan, mengarahkan bilah itu menjauh tanpa terluka.

"Kau lambat," ejek Kaivan, senyumnya tipis dan menusuk.

Julian menggeram. Sebelum ia sempat menyerang lagi, teriakan Radit menggema. "Kaivan! Hati-hati!"

Kaivan menyeka memar di pipinya, lalu meloncat menyamping, menghindari tusukan mematikan. Gerakannya cepat dan presisi, pisau itu hanya menemukan udara kosong. Ia mendarat dengan mantap, sikap siap, matanya menyapu setiap bayangan.

Julian menerjang ke depan, pandangannya melirik Felicia di seberang ruangan. "Sayang! Kejar dia! Jangan biarkan dia lolos!"

Felicia, yang tadi berdiri terpaku, akhirnya bergerak. Langkahnya tajam dan terukur. Rambut panjangnya tergerai di belakang, wajahnya tak terbaca, mata menatap dengan tekad tak tergoyahkan.

Kaivan berlari ke lorong sempit. Napasnya semakin cepat, jarinya mencengkeram Tome Omnicent. Langkah kaki Felicia menggema semakin dekat, iramanya menekan seperti ancaman yang mendesak.

"Kaivan!" panggilnya, suaranya tenang namun setajam pisau. Ia melompat, meraih Kaivan, bergerak seperti pemburu sunyi.

Kaivan berputar. Bertarung jarak dekat dengan Felicia adalah bunuh diri. Ia mengangkat Tome itu. Saat ujung jari Felicia menyentuh sampulnya, sebuah kekuatan tak kasatmata menyala.

Felicia membeku di udara, tertahan oleh gelombang tak terlihat. Matanya membelalak ketika getaran menjalar di tubuhnya.

"Ugh… sakit kepala yang sama lagi?" erangnya. Lututnya menghantam lantai, kedua tangannya mencengkeram kepala saat dunia berputar.

Kaivan memanfaatkan celah itu, menyelinap pergi, menyatu dengan bayangan lorong. Saat akhirnya ia berhenti, ia bersandar pada dinding, dadanya naik turun, namun pikirannya tetap jernih. Ia membuka Tome itu, halaman-halamannya berdenyut lembut, seolah menunggu perintah.

More Chapters