WebNovels

Chapter 32 - Tamu yang Tahu Terlalu Banyak

Jamuan makan di rumah Kaivan sederhana saja, tanpa kemewahan. Namun di balik kesederhanaan itu, kehangatan mengalir begitu nyata. Tawa dan percakapan ringan saling bersilang di antara suapan, merajut keintiman yang terasa langka dan berharga. Setiap gigitan seolah menarik hati mereka semakin dekat, menjembatani perbedaan jalan hidup yang pernah mereka tempuh dipertemukan oleh takdir yang tak terduga.

Usai sarapan, suasana perlahan berubah. Ada kesiapan sunyi untuk memulai hari. Kaivan melirik Felicia, menangkap raut wajahnya yang seolah tak punya tujuan pasti.

"Kenapa tidak ikut kami ke bengkel?" tawarnya ringan. "Kau bisa sekadar melihat-lihat."

Felicia ragu sejenak. Namun rasa ingin tahu mengalahkan kegelisahannya. Ia mengangguk, dan tak lama kemudian mereka pun berangkat bersama.

Bengkel itu jauh dari kata biasa. Di balik dindingnya yang tampak usang, bagian dalamnya dipenuhi energi yang terfokus. Mesin-mesin kecil berdengung pelan, meja-meja penuh dengan papan sirkuit dan tumpukan ponsel bekas. Semuanya tampak kacau, namun memiliki keteraturan tersendiri.

Radit langsung larut dalam pekerjaannya, jemarinya lincah membongkar casing ponsel dengan obeng kecil. Sementara itu, Kaivan mengenalkan Felicia pada yang lain.

"Yang tinggi itu Radit," katanya. "Dia bagian bongkar dan daur ulang. Yang pakai kemeja itu Frans, urusan logistik. Zinnia yang mencatat dan mengurus koleksi. Kalau aku… ya, mengerjakan apa pun yang perlu dikerjakan."

Pandangan Kaivan lalu beralih pada sosok di dekatnya tegap, bermata tajam.

"Dan ini Thivi "

"Aku sekretaris sekaligus pemasok stok ponsel bekas," potong Thivi dengan senyum tipis penuh wibawa. Suaranya elegan, namun mengandung ketegasan yang halus. "Aku memastikan semuanya berjalan dengan benar di sini."

Dari sudut ruangan, Zinnia akhirnya angkat bicara. Tatapannya tenang saat menunjuk Felicia. "Lalu dia siapa?"

Kaivan menjawab tanpa ragu. "Felicia. Dia menginap di rumahku semalam. Ada sedikit masalah, dan aku serta Thivi membantu. Hari ini dia cuma melihat-lihat."

Felicia tersenyum kecil. Matanya menyapu ruangan dengan rasa ingin tahu yang tenang. Awalnya, ia hanya ingin mengamati. Namun semakin lama ia berdiri di sana, perhatiannya tertambat pada detail-detail kecil: cara Radit memisahkan chip, ketelitian Zinnia mencatat setiap komponen, dan suasana serius namun hangat yang menyelimuti tim kecil itu.

"Bagian apa saja yang kalian ambil?" tanyanya.

Pertanyaannya membuat semua tangan terhenti. Suaranya lembut, namun ada daya tarik aneh di dalamnya. Felicia berdiri tegap, mata merah delapannya berkilau. Dengan pakaian sederhana pun, ia memancarkan karisma yang tenang. Ia bukan sekadar bertanya ia ingin memahami.

Radit, yang tadi begitu fokus, menyandarkan tubuhnya. Ia mengusap kening sebelum menjawab, "Pin konektor, chip, dan lapisan emas di tombol."

Ia menunjuk tumpukan komponen yang tersusun rapi, gerakannya penuh kebanggaan seorang perajin. Namun Felicia belum berhenti. Ia melangkah lebih dekat, anggun namun mantap. Semua mata tertuju padanya. Ia bukan lagi sekadar tamu ia mulai menyatu dengan irama ruangan itu.

"Bagaimana dengan motherboard dan kaki RAM?" tanyanya sambil sedikit membungkuk, menatap tumpukan komponen elektronik di atas meja. Senyum samar terukir di bibirnya, namun sorot matanya tajam, seolah menantang asumsi yang selama ini tak pernah dipertanyakan. "Kalau dilebur, masih ada sekitar tiga puluh sampai empat puluh persen emas di dalamnya."

Sejenak, waktu seakan berhenti. Radit menoleh. Frans terdiam di tengah gerakan. Bahkan Kaivan, yang tengah membongkar perangkat, mengangkat kepalanya dengan ekspresi campuran antara terkejut dan ragu.

"Serius? Sebanyak itu?" tanya Kaivan, setengah tak percaya.

Felicia mengangguk tenang. "Iya. Asal tahu tekniknya. Bongkar, pisahkan tiap lapisan, lalu larutkan dengan Aqua Regia campuran asam nitrat dan asam klorida, satu banding tiga. Kalau larutannya tepat dan proses pemurniannya hati-hati, hampir semua emasnya bisa diambil."

Keheningan menyelimuti bengkel itu. Bukan canggung, melainkan penuh kekaguman. Seolah sebuah pintu pengetahuan baru saja dibuka oleh seseorang yang awalnya hanya ingin melihat-lihat.

Frans berdiri cepat, matanya berbinar. Ia meraih tumpukan perangkat yang belum disentuh. "Kalau begitu, kita tak boleh buang waktu," katanya sambil menarik satu perangkat dan mulai membongkarnya.

Kaivan bangkit dari kursinya, kini sepenuhnya fokus. "Aku ambil asam klorida," ucapnya, melangkah cepat menuju pintu.

Di meja lain, Radit meraih solder, melilitkan kawat dengan gerakan cepat dan presisi. "Hei, aku tak mau ketinggalan," gumamnya.

Felicia berdiri di belakang mereka, seperti mentor yang baru saja membuka potensi murid-muridnya. Sesekali ia memberi arahan, suaranya lembut namun tak bisa diabaikan.

"Jangan tekan terlalu keras di sudut RAM," katanya. "Bisa retak, dan serpihan emasnya hilang."

Suasana berubah. Denting alat, desis solder, dan gesekan obeng menyatu menjadi simfoni kerja. Intens, namun hangat. Frans, yang biasanya santai, melirik Felicia dan tersenyum.

"Kau membuat kami merasa seperti ilmuwan," katanya.

Felicia tertawa pelan, elegan namun tajam. "Kalau itu membuat kalian jadi lebih pintar, aku tak keberatan."

Tak lama kemudian, Kaivan kembali membawa botol bening berisi cairan. Ia langsung menuju meja, memutar perangkat di tangannya, mencari sudut terbaik.

"Baik," gumamnya. Dengan kehati-hatian, ia mengangkat sebuah chip dari casing dan meletakkannya di baki kecil.

Radit, yang biasanya ceria, tampak serius. Ia memiringkan kepala, meneliti motherboard yang setengah terbongkar.

"Felicia," panggilnya tanpa menoleh, "emasnya masih ada di lapisan-lapisan itu, kan? Kita perlu asam untuk menariknya keluar?"

Felicia mendekat, menunjuk bagian yang ia maksud. "Benar. Kalian butuh Aqua Regia." Ia melirik Kaivan. "Jangan lupa masker dan sarung tangan. Larutannya berbahaya. Hati-hati."

More Chapters