WebNovels

Chapter 25 - Kebaikan Tanpa Imbalan

"Dia memang selalu begitu… misterius, dan entah bagaimana selalu lolos dari momen seperti ini."

Zinnia mengangkat bahu sambil menyesap kembali minumannya.

"Itulah Kaivan. Tapi aku penasaran dengan gadis itu, Thivi, kan? Sepertinya ada cerita lain di sana."

Radit masih tertawa kecil sambil menusuk potongan daging berikutnya.

"Dia cuma nggak tahan digoda. Kaivan banget."

Di luar kafe, Kaivan menghirup udara malam yang sejuk. Aroma makanan masih terbawa angin, menjadi sisa kehangatan dari suasana ramai yang baru saja ia tinggalkan. Langkahnya tenang, namun pikirannya berat oleh teka-teki sunyi Tome Omnicent yang kini digenggam erat di tangannya. Lampu jalan menumpahkan cahaya lembut ke trotoar yang lengang, membuat setiap langkahnya bergema pelan, menemani perjalanannya menembus malam.

Di dalam kafe, tawa perlahan mereda menjadi keheningan yang lebih reflektif. Zinnia mengaduk minumannya, alisnya sedikit berkerut.

"Aku belum pernah benar-benar bertanya… buku itu sebenarnya apa," gumamnya. "Jangan-jangan cuma buku catatan biasa?"

Frans, yang duduk di seberangnya, tersenyum kecil. Namun kilat rasa ingin tahu jelas terlihat di matanya.

"Kelihatannya seperti buku tua yang penting," katanya sambil membentuk siluet buku di udara. "Kadang aku merinding cuma melihatnya, seolah punya auranya sendiri."

Radit yang sejak tadi memutar sendoknya akhirnya angkat bicara.

"Nanti saja kita tanya langsung. Kaivan nggak mungkin menyembunyikan sesuatu kalau itu nggak penting."

Di tempat yang ditunjukkan oleh Tome Omnicent, Kaivan tiba di sebuah taman yang diterangi lampu-lampu redup. Dalam sunyi malam, seorang gadis duduk di tepi jalur pejalan kaki, sikapnya anggun namun wajahnya diselimuti kesedihan yang tenang. Rambut hitam legamnya terurai di bahu, berkilau seperti sutra di bawah cahaya taman yang samar.

Kaivan berhenti sejenak, mengamatinya dari kejauhan. Udara di sekeliling mereka tenang, hanya sesekali disela oleh desir daun yang digerakkan angin.

Dengan langkah pelan namun mantap, ia mendekat. Dari saku celananya, ia mengeluarkan selembar tisu, gerakannya lembut dan penuh ketulusan.

"Kenapa kamu menangis?" tanyanya lirih, suaranya menyatu dengan bisikan angin malam. "Mungkin ini bisa membantu."

Perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya. Mata yang basah bertemu dengan tatapan Kaivan yang tenang, dan untuk sesaat, waktu terasa berhenti, memberi ruang bagi emosi yang menggantung di antara mereka. Dengan gerakan halus, ia menerima tisu itu.

"Maaf," gumamnya hampir tak terdengar. "Aku… sudah punya pacar."

Kaivan berkedip, sedikit terkejut dengan jawaban yang tak ia duga. Namun ia tetap tenang, hanya menghadiahkan senyum tipis yang penuh pengertian, lalu membuka Tome Omnicent di tangannya. Huruf-huruf samar berkilau di atas halaman:

Dekati dia sampai kalian menjadi cukup dekat, selama ia masih dibebani kesedihan.

Dalam hatinya, Kaivan bergumam, Baiklah… mungkin ini bagian dari petunjuk yang lebih dalam.

Namun sebelum ia bergerak, tulisan baru kembali muncul:

Dia telah kehilangan kepercayaan pacarnya. Bodoh.

Kaivan menutup buku itu perlahan dan menatap kembali gadis tersebut. Ia tahu langkah selanjutnya harus diambil dengan hati-hati. Tanpa suara, ia berjalan ke penjual minuman terdekat dan kembali membawa sebotol air.

"Kamu sudah banyak menangis. Pasti dehidrasi," katanya pelan sambil menyerahkan botol itu. "Minumlah dulu."

Gadis itu menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Setelah meneguknya, Kaivan bertanya dengan suara lembut namun mantap,

"Jadi… kenapa kamu di sini, menangis sendirian?"

"Aku merasa gagal," jawabnya setelah jeda singkat. Suaranya membawa beban melankolis yang dalam. "Dan aku… bingung dengan segalanya."

Kaivan mengangguk pelan, merasakan ada sesuatu yang lebih besar tersembunyi di balik kata-katanya. Dengan senyum kecil yang menenangkan, ia memperkenalkan diri.

"Aku Kaivan. Kalau kamu?"

Gadis itu menatap tangan yang ia ulurkan tanpa bergerak.

"Felicia," jawabnya singkat.

Keheningan kembali turun, namun kini terasa lebih tenang, bukan kosong. Kaivan menurunkan tangannya dengan sopan, tak ingin memaksa. Ia tersenyum tipis.

"Kalau begitu, Felicia… apa ada yang bisa kubantu?"

Felicia menggeleng perlahan, rambut panjangnya bergoyang tertiup angin malam.

"Tidak perlu. Sudah kubilang, aku punya pacar."

Kaivan mengangguk. Ia mengerti bahwa ia harus memberi ruang. Namun kesedihan yang melekat pada Felicia seperti kabut tipis tak bisa ia abaikan. Jauh di dalam hatinya, ada dorongan untuk melindungi sesuatu yang rapuh di balik kesedihan itu, sesuatu yang bahkan melampaui perintah Tome.

"Ini nomor ponselku," katanya pelan sambil menyerahkan secarik kertas. "Kalau terjadi apa-apa, jangan ragu untuk meneleponku."

Felicia berdiri beberapa langkah darinya, tubuh rampingnya dibingkai cahaya lampu taman. Rambut hitamnya terurai bebas, wajahnya yang indah dan tenang seperti pahatan dewi. Ia menerima kertas itu tanpa kata, jemarinya yang panjang menggenggamnya erat, sementara mata merah karmanya menatap Kaivan, dalam dan sulit dibaca.

"Terima kasih," ucapnya akhirnya, dingin namun terkendali. Ia sempat memalingkan wajah sejenak, lalu menatap Kaivan kembali, seakan menimbang ketulusan di setiap kata yang ia dengar.

Kenapa dia begitu baik? pikirnya. Kami bahkan baru saling mengenal.

Kaivan membalas dengan senyum tipis, lalu berbalik pergi. Langkahnya pelan dan terukur, bunyi sepatunya menyatu dengan bisikan angin, menciptakan melodi sunyi yang menjadi bagian dari malam.

Felicia tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung Kaivan yang perlahan menghilang di kejauhan. Ia menghela napas pelan.

"Orang ini… benar-benar aneh," gumamnya.

More Chapters