WebNovels

Chapter 4 - Sentuhan Ajaib Monkey Ape

Di sudut kota Jakarta yang hiruk-pikuk, di mana suara klakson mobil beradu dengan teriakan pedagang kaki lima seperti simfoni yang tak pernah reda, hidup seorang pemuda bernama Andi.

Usianya baru 28 tahun, tapi wajahnya sudah dipenuhi garis-garis kelelahan, kulitnya kasar karena terpapar matahari dan polusi sepanjang hari. Rumah kontrakannya kecil di kawasan Tanah Abang, dinding plester putihnya mengelupas seperti kulit pohon tua, dan udara di dalamnya selalu lembab, bercampur aroma tanah basah setiap kali hujan turun.

Setiap pagi, bau kopi hitam pekat dari warung tetangga menyusup melalui jendela kayu yang retak-retak, bercampur dengan hembusan asap knalpot dari jalan raya yang hanya berjarak beberapa langkah. Andi bisa merasakan getaran kendaraan lewat di lantai kayu rumahnya, yang berderit pelan setiap kali dia bergerak.

Andi bekerja sebagai kurir ojek online, mengendarai motor tua yang mesinnya bergetar kasar di bawah tubuhnya, membuat tangannya pegal dan telapaknya panas karena memegang stang yang terik. Punggungnya sering nyeri setelah seharian melintasi kemacetan, di mana hembusan angin panas bercampur debu membuat matanya perih dan hidungnya tersumbat.

Gaji bulanannya tak pernah cukup; sebagian besar lenyap untuk membayar hutang ayahnya yang meninggal dua tahun lalu karena serangan jantung. Ayahnya, seorang pedagang kecil di pasar tradisional, meninggalkan tumpukan tagihan medis dan pinjaman dari rentenir yang bunganya seperti ular berbisa yang terus membengkak. Ibu Andi, seorang janda tua di kampung halaman di Jawa Tengah, sering menelepon dengan suara lemah yang bergetar melalui speaker ponsel murah Andi, layarnya retak seperti jaring laba-laba. "Andi, Bu lagi sakit nih. Bisa kirim uang untuk obat?" katanya kemarin malam, suaranya seperti angin malam yang dingin, membuat hati Andi terasa sesak.

Hari itu, 3 Desember 2025, Andi pulang lebih awal karena hujan deras mengguyur kota. Air hujan membasahi jaket jeansnya yang sudah usang, membuat kainnya menempel lengket di kulitnya dan tubuhnya menggigil kedinginan.

Dia melempar tas kerjanya ke lantai kayu yang dingin dan berdebu, suara tas jatuh bergema pelan di ruangan sempit. Duduk di kursi plastik yang kakinya goyang, Andi merasakan angin dingin menyusup melalui celah pintu, membawa aroma hujan basah yang segar tapi juga bau amis dari got yang meluap di luar.

Perutnya keroncongan, tapi dompetnya hanya berisi 100.000 rupiah sisa tips hari itu—uang kertas yang kusut dan lembab karena hujan.

Dalam keputusasaan yang menyelimuti seperti kabut tebal, Andi teringat iklan yang sering muncul di ponselnya: M9WIN, situs judi online dengan slogan "Anti Rungkad" yang menjanjikan tak akan bangkrut. Dia pernah mencoba sekali-dua kali, merasakan sensasi jantung berdegup kencang saat slot berputar, tapi selalu kalah kecil-kecilan.

"Hanya hiburan," gumamnya pada diri sendiri, tapi dalam hati, itu pelarian dari realita yang pahit seperti kopi tanpa gula. Malam itu, dengan tangan gemetar karena dingin dan gugup, Andi membuka aplikasi M9WIN.

Layar ponselnya menyala terang dalam kegelapan ruangan, cahaya biru menyilaukan matanya yang lelah. Gambar monyet liar dari game Wild Ape #3258 muncul, dengan warna-warna cerah seperti neon di malam kota: ungu, kuning, dan merah yang berkilauan. Suara efek slot machine yang ceria—lonceng kemenangan yang ting-ting—mengalun dari speaker kecil, kontras dengan deru hujan di atap seng rumahnya yang bocor pelan, tetesan air jatuh seperti ritme drum yang tak beraturan.

"Dengan deposit rendah, siapa tahu," bisik Andi, suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Dia mentransfer 100.000 rupiah dari rekening BCA-nya, jarinya menyentuh layar dingin ponsel, prosesnya cepat seperti yang diiklankan: "Proses Kilat." Jantungnya berdegup lebih kencang, seperti mesin motornya yang overheat, saat dia memutar slot pertama.

Gulungan berputar dengan suara whirring mekanis yang halus, simbol-simbol monyet, pisang emas, dan harta karun berkelebat cepat di layar, membuat matanya fokus hingga terasa panas. Bau kopi sisa pagi tadi masih menempel di cangkir di meja, aroma pahitnya bercampur dengan keringat di telapak tangannya yang licin.

Putaran pertama kalah—suara buzz kegagalan yang rendah membuatnya menghela napas panjang, hembusan nafasnya hangat di udara dingin ruangan. Kedua juga kalah. Andi merasa panas di dada, seperti api kecil yang menyala, sementara keringat menetes di punggungnya meski hujan membuat suhu turun.

Konflik emosional mulai merayap seperti ular dingin di perutnya. "Kenapa aku begini? Ayah pasti kecewa," pikirnya, kenangan ayahnya muncul jelas: sosok pria tua dengan tangan kasar karena kerja keras, aroma tembakau dari rokok kretek yang selalu dia hisap saat mengajarinya bermain kartu remi di teras rumah kampung.

Udara malam desa dulu segar, bercampur bau daun jati yang gugur, kontras dengan bau asap knalpot di sini. Tapi sekarang, Andi merasa seperti pecundang, rasa bersalah menyengat seperti cabai di lidah. Istrinya yang dulu, Rima, meninggalkannya karena lelah dengan kemiskinan mereka—kata-katanya masih bergema: "Kamu harus berubah, Andi. Jangan bergantung pada keberuntungan." Suara Rima waktu itu lembut tapi tegas, seperti angin yang menyapu daun kering.

Andi bangkit dari kursi, kursi plastik berderit keras, dan dia berjalan mondar-mandir di ruangan sempit. Lantai kayu dingin menyentuh telapak kakinya yang telanjang, dan dia merasakan hembusan angin dingin dari celah jendela, membawa aroma tanah basah dan sampah basah dari luar yang membuat hidungnya mengerut.

Dia kembali ke ponsel, memegangnya erat hingga jarinya memutih, dan memutar lagi. Kali ini, simbol monyet liar muncul berturut-turut—suara "Wild Ape Bonus!" meledak seperti petasan, musik upbeat mengalun keras hingga menutupi suara hujan.

Layar bergetar di tangannya, getaran itu merambat ke lengannya seperti listrik kecil. Kemenangan kecil: 500.000 rupiah. Adrenalin membanjiri tubuhnya, membuat darahnya terasa hangat mengalir, dan dia lupa sejenak pada dinginnya ruangan.

Dia terus main, deskripsi sensorik dari game seolah nyata: warna-warna cerah slot seperti lampu neon di malam Jakarta yang berkedip-kedip, suara koin jatuh digital seperti hujan recehan yang jatuh ke ember besi, dan sensasi jari menyentuh layar yang semakin panas karena penggunaan lama.

Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 21:00, suara jam dinding tik-tok samar di balik musik game. Andi sudah menghabiskan empat jam, naik turun antara menang dan kalah.

Saldo naik ke 5 juta, suara kemenangan yang riang membuatnya tersenyum, lalu turun ke 2 juta dengan buzz kegagalan yang membuat perutnya mulas. Emosinya seperti roller coaster: euforia saat menang, seperti rasa manis gula di lidah, dan keputusasaan saat kalah, pahit seperti obat.

Dia ingat ibunya lagi, yang mungkin sedang tidur di kampung dengan selimut tipis, suara angin malam desa yang tenang. "Kalau aku menang besar, aku bisa bayar semua hutang. Beli rumah untuk Bu," bisiknya, suaranya sendiri terdengar bergetar.

Tapi keraguan muncul seperti duri: "Ini judi, Andi. Kamu bisa kehilangan segalanya," dan rasa bersalah itu menyengat, membuat matanya panas seperti akan menangis.

Di luar, hujan reda pelan-pelan, digantikan suara anak-anak tetangga yang bermain di genangan air, cipratan air basah terdengar samar. Andi membuka jendela kayu yang berderit, menghirup udara segar yang lembab, bercampur bau asap rokok dari warung sebelah yang masih buka.

Angin malam menyentuh wajahnya seperti belaian dingin, menyegarkan pikirannya yang panas. Kulitnya merinding, tapi itu membuatnya lebih waspada. Dia kembali ke game, memutuskan ini putaran terakhir. Deposit awalnya hanya 100.000, tapi sekarang saldo 10 juta.

Gulungan berputar lambat, suara whirring yang tegang seperti napas tertahan, waktu seolah membeku. Simbol monyet liar muncul di semua baris—"Mega Win!" Layar meledak dengan konfeti digital yang berkilauan, suara sorak-sorai virtual memenuhi ruangan seperti pesta kecil, musik kemenangan bergema hingga telinganya berdengung.

Andi tak percaya, matanya melebar hingga terasa kering, tangannya gemetar memegang ponsel yang sekarang terasa panas seperti batu bara. Aroma kopi dingin di cangkir terasa lebih pahit saat dia menelan ludah, tenggorokannya kering. "Ini nyata?" gumamnya, suaranya serak.

Dia berlari ke cermin di dinding yang berdebu, melihat wajahnya yang pucat tapi berbinar di bawah cahaya lampu bohlam kuning yang samar, sensasi dingin kaca cermin menyentuh jarinya. Konflik emosional mencapai puncak: sukacita seperti ledakan rasa manis di dada, bercampur rasa bersalah yang menyakitkan seperti luka terbuka.

"Aku menang, tapi apa ini jalan yang benar?" Pikirannya melayang ke Rima, aroma parfumnya yang manis masih teringat, dan bagaimana dia dulu memeluknya dengan tangan hangat.

Pagi berikutnya, 4 Desember 2025, Andi bangun dengan jantung berdegup seperti drum, mimpi buruk malam tadi tentang kehilangan uang membuat tubuhnya berkeringat meski udara pagi dingin.

Udara Jakarta pagi itu segar, aroma nasi goreng dari warung pagi menyusup masuk melalui jendela, pedas cabai dan bawang goreng membuat hidungnya gatal. Dia membuka aplikasi M9WIN lagi, jarinya menyentuh layar yang masih hangat dari malam tadi, memeriksa saldo: ya, 100 juta masih ada, angka-angka itu berkilauan seperti emas.

Dengan tangan bergetar seperti daun bergoyang, dia mengajukan withdrawal. Proses kilat, seperti di gambar bukti kemenangan yang sering dipromosikan: transfer ke rekening BCA-nya sebesar 100 juta rupiah.

Saat notifikasi masuk—"Transfer Berhasil"—suara bip ponsel seperti lonceng kebebasan, Andi jatuh ke lututnya di lantai kayu yang dingin dan kasar, sensasi dingin menyentuh kulit lututnya melalui celana tipis. Air mata menetes panas di pipinya, rasa asin di bibirnya saat dia menjilatnya tanpa sadar.

Dia merasa beban dunia terangkat, seperti hembusan angin segar yang membersihkan kabut. Tapi konflik emosional tak hilang begitu saja, seperti duri yang tertinggal di hati. "Ini uang haram? Atau berkah?" Dia ingat ayahnya yang anti judi, aroma rokok kreteknya yang kuat, tapi juga ingat ibunya yang butuh bantuan, suara batuknya yang kering melalui telepon.

Andi keluar rumah, berjalan di trotoar basah sisa hujan, air genangan ciprat ke sepatunya yang sudah usang, sensasi dingin meresap ke kaus kaki. Udara pagi lembab, suara burung berkicau bercampur klakson mobil yang mulai ramai.

Dia mampir ke warung, memesan nasi goreng—rasa pedas cabai menyengat lidahnya, hangatnya nasi membuat perutnya nyaman, aroma minyak goreng panas mengisi hidungnya.

Di sana, dia menelepon ibunya, suara dering telepon panjang sebelum diangkat. "Bu, aku punya kabar baik. Aku bisa bayar semua hutang." Suara ibunya bergetar bahagia tapi khawatir, seperti angin yang berhembus pelan: "Dari mana uangnya, Nak? Jangan macam-macam."

Siang itu, Andi pergi ke bank, antrean panjang di ruangan ber-AC dingin yang membuat kulitnya merinding. Aroma kertas baru dan tinta printer mengisi udara, suara mesin hitung uang berdengung samar. Saat uang masuk ke rekeningnya, getaran ponsel di saku celananya membuatnya tersentak. 100 juta! Dia tarik sebagian tunai, merasakan tebalnya amplop uang di tangannya, aroma kertas baru yang segar dan renyah saat dia hitung.

Tapi konflik belum selesai. Malam itu, rentenir datang ke rumahnya—pria gemuk dengan tato di lengan, bau rokok murah dan keringat menempel di bajunya yang kusut. "Bayar hutangmu, Andi!" bentaknya, suaranya kasar seperti geraman.

Andi, dengan keberanian baru yang terasa hangat di dada, membayar lunas. Sensasi tangan rentenir yang kasar dan lembab saat menerima uang membuat Andi jijik, seperti menyentuh sesuatu yang kotor, tapi lega seperti beban batu terangkat dari bahunya.

Keesokan harinya, Andi hubungi Rima. Mereka bertemu di kafe kecil di mall, aroma kopi latte hangat dan manis mengisi udara, suara mesin espresso mendesis di belakang. Rina, dengan rambut panjangnya yang harum shampoo bunga, tampak terkejut, matanya yang cokelat memandangnya dalam. "Kamu berubah, Andi." Cerita tentang kemenangan itu membuat Rima ragu, air mata panas mengalir di pipinya yang halus. "Kamu janji tak nakal lagi!" bentaknya pelan, suaranya bergetar. Andi memeluknya, merasakan kehangatan tubuhnya, aroma parfumnya manis seperti madu, dan konflik emosionalnya: "Aku tak mau lagi. Ini kesempatan kedua."

Cerita berakhir dengan Andi membeli tiket kereta ke kampung, membawa ibunya ke Jakarta. Di kereta, suara roda bergemeretak di rel besi, getaran kursi membuat tubuhnya bergoyang pelan, aroma makanan ringan dari penumpang lain—keripik pedas dan kopi instan—menggugah selera. Ibu Andi duduk di samping, tangannya yang keriput menyentuh lengannya dengan hangat, suara tawa mereka bercampur dengan hembusan AC kereta yang dingin. Kemenangan Wild Ape bukan hanya uang, tapi pelajaran tentang keberuntungan dan pilihan hidup, dengan semua sensasi dunia yang membuatnya merasa hidup lagi.

More Chapters