WebNovels

Chapter 5 - Balas Dendam Dalam Bayang-Bayang Pengkhianatan

Andre duduk di tepi tempat tidur, memandang foto pernikahan yang tergantung di dinding kamar tidurnya. Cahaya lampu tidur yang redup menerangi wajahnya yang lelah setelah seharian bekerja sebagai akuntan di perusahaan konstruksi besar. Usianya baru 35 tahun, tapi garis-garis keriput di dahi mulai tampak, tanda dari tekanan hidup yang semakin berat. 

Istrinya, Bunga, seharusnya sudah pulang dari apa yang dia sebut sebagai "pertemuan bisnis" tadi pagi. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, dan hati Andre mulai gelisah. Ini bukan pertama kalinya Bunga pulang larut malam. Sudah hampir sebulan ini pola itu berulang, dan setiap kali Andre bertanya, jawaban Bunga selalu sama: kerja lembur.

"Andre, kamu terlalu curiga," gumamnya pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan hati yang bergejolak. Tapi suara hati kecilnya berbisik sebaliknya. Mereka sudah menikah lima tahun, tapi belakangan ini Bunga semakin dingin. 

Ciuman pagi yang dulu hangat dan penuh kasih sayang kini hanya sekadar sapaan formal, seperti rutinitas tanpa makna. Andre bekerja di bawah pimpinan Pak Johan, bos yang karismatik, kaya raya, dan selalu memuji kerja kerasnya. 

Pak Johan sering memanggil Andre ke ruangannya untuk diskusi proyek, tapi ada sesuatu yang aneh dalam tatapan bosnya itu—sebuah senyum yang terlalu ramah, terlalu sering.Pintu depan rumah terdengar terbuka dengan pelan. Andre bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke ruang tamu dengan langkah gontai. Bunga masuk sambil menenteng tas kerjanya, rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit acak-acakan, bibir merahnya memudar, dan aroma parfum pria yang asing menyelimuti tubuhnya. Andre menciumnya dari jauh, dan hati kecilnya langsung berteriak: itu bukan parfumnya.

"Kenapa pulang malam lagi, Bun?" tanya Andre dengan suara pelan, mencoba menahan nada curiga yang mengancam meledak.

Bunga melempar tasnya ke sofa dengan kasar dan menghela napas panjang, seolah-olah pertanyaan itu adalah beban berat. "Kerja, Andre. Kamu tahu kan, proyek baru ini bikin aku sibuk banget. Pak Johan minta aku lembur untuk presentasi besok."

"Pak Johan? Bosku?" Andre mengerutkan kening, mencoba menghubungkan titik-titik. "Kamu lembur di kantornya? Kamu kan kerja di bagian marketing perusahaan lain, bukan di tempatku. Kok bisa kolaborasi?"

Bunga memutar bola mata, ekspresinya penuh kejengkelan. "Ya, tapi proyek ini kolaborasi antar perusahaan. Kamu ini kenapa sih? Selalu curiga. Aku capek, Andre. Mau tidur dulu." Dia berlalu ke kamar tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Andre sendirian di ruang tamu yang gelap.

Andre merasa dada sesak, seperti ada batu besar yang menindihnya. Malam itu, dia tak bisa tidur. Pikirannya melayang ke masa lalu, saat mereka masih mahasiswa di kampus yang sama. Bunga adalah gadis desa yang penuh mimpi, dengan tawa renyah dan mata yang berbinar. Andre jatuh cinta pada semangatnya, dan mereka menikah setelah lulus, berjanji untuk membangun hidup bersama. Tapi sekarang, semuanya terasa berubah. Bunga lebih sering sibuk dengan ponselnya, tersenyum sendiri saat membaca pesan, dan sering kali menolak ajakan Andre untuk makan malam romantis. "Aku capek," katanya selalu.

Keesokan harinya, Andre memutuskan untuk mencari tahu. Dia ambil cuti setengah hari dari kantor dan mengikuti mobil Bunga setelah jam kerja. Jalanan kota yang ramai dengan klakson dan hiruk-pikuk membuatnya tegang. Mobil Bunga berhenti di sebuah hotel mewah di pusat kota, tempat yang biasanya hanya dikunjungi oleh orang-orang kaya. Andre parkir mobilnya agak jauh dan menyeLindrip masuk ke lobi hotel, berpura-pura sebagai tamu. Di sana, dia melihat Bunga memasuki lift dengan seorang pria. Hati Andre berdegup kencang seperti drum perang. Pria itu adalah Pak Johan, bosnya sendiri. Mereka tertawa mesra, tangan Pak Johan melingkar di pinggang Bunga, dan Bunga menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.

Andre merasa dunia runtuh di sekitarnya. Dia pulang dengan air mata mengalir di pipi, tapi bukan air mata sedih semata—itu air mata amarah yang membara. "Kenapa harus bosku? Kenapa harus seperti ini?" gumamnya sendirian di mobil, tangannya memukul setir berulang kali. Malam itu, dia tak bisa tidur lagi, hanya berguling-guling di sofa ruang tamu, menghindari kamar tidur yang penuh kenangan.

Pagi berikutnya, Andre menghadapi Bunga di meja makan. Sarapan yang dia siapkan—roti panggang dan kopi—sudah dingin. "Aku tahu semuanya, Bun. Aku lihat kamu kemarin di hotel dengan Pak Johan."

Bunga terkejut, matanya melebar sejenak, tapi dia cepat menguasai diri. "Kamu ngikutin aku? Kamu gila ya, Andre! Itu cuma meeting bisnis. Kami bahas kontrak proyek."

"Meeting bisnis di hotel? Dengan pelukan dan tawa seperti itu? Jangan bohongi aku, Bun!" Andre bangkit dari kursi, suaranya meninggi untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka. "Aku kerja keras buat kita berdua. Aku kasih kamu segalanya—rumah ini, mobil, liburan tahunan. Kenapa kamu selingkuh dengan bosku?"

Bunga tertawa sinis, suaranya menusuk seperti pisau. "Kerja keras? Kamu cuma pegawai biasa, Andre. Gaji pas-pasan, tiap bulan kita hitung-hitungan buat bayar cicilan. Pak Johan beda. Dia punya segalanya—uang, kekuasaan, mobil mewah. Dia bikin aku merasa hidup lagi, merasa dihargai. Kamu? Kamu cuma rutinitas membosankan, hari demi hari yang sama."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hati Andre berulang kali. Dia merasa napasnya tercekat. "Jadi itu alasannya? Karena aku nggak kaya seperti dia? Kita nikah karena cinta, Bun! Ingat janji kita di altar? Sampai maut memisahkan?"

"Cinta? Cinta nggak bayar tagihan, Andre. Cinta nggak kasih aku tas branded atau makan di restoran bintang lima. Pak Johan janji kasih aku hidup mewah, dia bilang mau nikahin aku setelah cerai dari kamu. Kamu mau apa? Terus-terusan hidup medioker?" Bunga bangkit dan meninggalkannya, pintu kamar dibanting keras.

Andre merasa hancur lebur. Dia pergi ke kantor dengan pikiran kacau, mata merah karena kurang tidur. Di sana, Pak Johan memanggilnya ke ruangan pribadi. Ruangan itu mewah, dengan meja kayu mahal dan pemandangan kota dari jendela besar. "Andre, duduk dulu. Ada yang mau aku bicarain," kata Pak Johan dengan suara tenang, seolah-olah tak ada yang salah.

Andre duduk, mencoba menahan emosi yang bergolak. "Apa, Pak?"

Pak Johan tersenyum lebar, menyandarkan tubuhnya di kursi kulit. "Aku tahu kamu tahu soal aku dan Bunga. Tapi ini bisnis, Andre. Bunga mau yang lebih baik daripada hidup biasa-biasa aja. Kamu bisa mundur dengan baik-baik. Aku bisa kasih kamu kompensasi—mungkin bonus akhir tahun lebih besar, atau rekomendasi kerja di tempat lain."

Andre clench tangannya di bawah meja, kuku menusuk telapak tangan. "Kompensasi? Kamu rampas istriku, Pak! Ini bukan bisnis, ini pengkhianatan! Kamu bosku, seharusnya kamu hormati karyawanmu, bukan malah tidur dengan istrinya!"

Pak Johan tertawa pelan, suaranya penuh superioritas. "Hidup ini keras, Andre. Yang lemah kalah. Bunga pilih aku karena aku bisa kasih dia apa yang kamu nggak bisa—keamanan finansial, petualangan, kemewahan. Terima aja kenyataan. Kalau kamu marah, ya silakan, tapi jangan ganggu karirmu sendiri."

Andre keluar dari ruangan dengan amarah membara di dada. Dia merasa seperti orang bodoh, dikhianati oleh dua orang terdekatnya. Malam itu, dia pergi ke bar sendirian, minum bir demi bir untuk melupakan. Di sana, dia bertemu teman lamanya dari masa SMA, Toni, yang sekarang bekerja sebagai dealer di kasino online ilegal.

"Andre, lo keliatan kusut banget. Apa masalah? Cerita dong," tanya Toni sambil menuang bir ke gelas Andre.

Andre menceritakan semuanya, dari pengkhianatan Bunga hingga konfrontasi dengan Pak Johan. Air matanya menetes ke gelas. Toni mendengarkan dengan serius, matanya penuh empati. "Wah, parah banget, bro. Lo mau balas dendam? Coba main slot m9win online. Gue punya tips. Banyak orang jadi kaya dari situ. Lo bisa balik situasi, jadi yang di atas."

"slot m9win? Judi? Gue nggak pernah main gitu, Ton. Gue orang biasa, nggak suka risiko," jawab Andre ragu.

Toni tersenyum licik. "Ini bukan judi biasa. Ada strategi, bro. Gue ajarin. Bayangin, lo menang besar, trus hidup mewah sendirian. Biar Bunga dan bos lo nyesel liat lo sukses tanpa mereka."

Ide itu menggoda hati Andre yang terluka. Pulang ke rumah, dia duduk di depan laptop dan mendaftar di situs slot m9win online yang direkomendasikan Toni. Modal awalnya kecil, hanya dari tabungan darurat. Pertama kali main, dia kalah 5 juta rupiah. Hati Andre semakin sakit. "Apa gue bodoh? Ini malah bikin gue miskin," gumamnya.

Tapi Toni menelepon keesokan harinya. "Andre, lo harus sabar. Jangan emosional. Ini seperti bisnis. Main di jam tertentu, pilih mesin dengan RTP tinggi—return to player di atas 96%. Kelola bankroll lo, jangan all-in. Gue kirim panduan via email."

Andre mengikuti saran itu. Setiap malam, setelah Bunga tidur, dia main slot m9win sambil mengenang pengkhianatan. Konflik emosionalnya semakin dalam. Dia merasa bersalah karena terlibat judi, sesuatu yang dulu dia anggap tabu. "Apa ayahku tahu, dia pasti kecewa," pikirnya, mengingat ayahnya yang pekerja keras dan jujur. Tapi amarah pada Bunga dan Pak Johan lebih kuat. "Ini balas dendamku. Aku akan buktikan aku bisa lebih dari mereka," katanya pada cermin.

Minggu demi minggu berlalu. Andre kalah lagi, tapi dia belajar dari kesalahan. Dia baca forum online tentang strategi slot m9win, analisis pola mesin. Suatu malam, keberuntungan datang. Dia main di mesin jackpot progresif, dan setelah spin ke-50, layar berkedip-kedip. "Jackpot! 500 juta rupiah!" Matanya melebar tak percaya. "Ini nyata?" tanyanya pada Toni lewat telepon.

Toni tertawa kegirangan. "Selamat, bro! Lo kaya sekarang. Tarik duitnya pelan-pelan, investasikan ke saham atau properti. Jangan boros."

Andre berhenti kerja keesokan harinya. Dia kirim surat pengunduran diri via email ke Pak Johan, tanpa penjelasan. Dengan uang itu, dia pindah ke apartemen mewah di kawasan elite kota, beli mobil sport yang dulu hanya dia impikan. Bunga mendengar kabar itu dari teman-teman dan datang ke rumah lama mereka, tapi Andre sudah pergi. Dia menelepon berulang kali.

"Andre, aku dengar kamu kaya sekarang. Dari mana duitnya? Kita bisa balik lagi? Aku salah, Andre. Pak Johan nggak seperti yang aku bayangkan," kata Bunga dengan suara memelas.

Andre tertawa dingin di ujung telepon. "Balik? Setelah kamu selingkuh dengan Pak Johan? Nggak, Bun. Aku hidup mAndreri sekarang. Kamu pilih dia karena uang, kan? Nah, sekarang aku punya lebih banyak. Nikmati aja pilihanmu."

Tapi di balik balas dendam itu, Andre merasa kosong. Kekayaan tak hilangkan luka hati. Malam-malamnya diisi mimpi buruk tentang pengkhianatan, dan dia mulai minum lagi. Suatu hari, dia bertemu psikolog atas saran Toni. Di ruang konsultasi yang tenang, Andre curhat.

"Dok, aku balas dendam dengan jadi kaya, tapi kenapa hati masih sakit? Aku punya segalanya sekarang, tapi rasanya hampa," tanya Andre, suaranya bergetar.

Psikolog wanita itu tersenyum lembut. "Balas dendam bukan obat, Andre. Itu hanya penutup luka sementara. Kamu perlu maafkan diri sendiri dulu, lalu maafkan mereka. Bukan untuk mereka, tapi untuk kedamaianmu. Coba mulai dengan hobi baru, bertemu orang baru."

Andre mulai belajar. Dia investasikan uangnya ke bisnis startup, jadi investor di perusahaan teknologi. Hidupnya mAndreri, tapi dia masih kesepian. Suatu hari, di kafe favoritnya, Pak Johan muncul tiba-tiba.

"Andre, aku dengar kamu sukses besar. Bunga ninggalin aku. Dia bilang kamu yang terbaik, dan dia nyesel. Mungkin kita bisa rekonsiliasi? Aku bisa tawarin partnership di bisnis baru."

Andre tersenyum tipis, tapi matanya dingin. "Terlambat, Pak. Aku sudah move on. Pengkhianatan itu ajaranku untuk nggak percaya orang seenaknya. Selamat tinggal."

Andre pergi dari kafe itu dengan langkah tegar. Beberapa bulan kemudian, dia bertemu Lindri, seorang pengusaha muda di acara bisnis. Lindri berbeda dari Bunga—mAndreri, pintar, dan tak materialistis. Mereka mulai berkencan, dan untuk pertama kalinya, Andre merasa hati mulai sembuh.

"Dulu aku hancur karena pengkhianatan, Lin. Tapi sekarang aku tahu, balas dendam bukan akhir. Ini awal baru," kata Andre suatu malam, saat mereka duduk di balkon apartemen.

Lindri memegang tangannya. "Aku bangga sama kamu, Andre. Kita bangun masa depan bersama, tanpa masa lalu yang menghantui."

Cerita Andre menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dia belajar bahwa kekayaan sejati bukan uang, tapi ketenangan hati. Pengkhianatan itu menyakitkan, tapi juga membuka pintu untuk kehidupan yang lebih baik.

More Chapters