WebNovels

Chapter 10 - Ubin Emas Dan Piutang

Sponsored by m9win[1]

Rizky baru genap 17 tahun tiga bulan lalu.

Di KTP-nya masih tertulis "Pelajar", tapi di dompet lusuhnya hanya ada foto ibunya yang sudah menguning dan lembaran seratus ribuan yang jumlahnya selalu kurang dari yang dibutuhkan.

Setiap sore pulang sekolah, dia langsung ganti seragam dengan kaos oblong dan celana pendek, lalu berangkat ke tempat-tempat serabutan: 

- Bongkar muat kardus di pasar malam (50 ribu/setengah hari) 

- Antri jadi tukang ojek pangkalan dadakan (kalau beruntung dapat 3 order) 

- Bantu bongkar es batu di warung makan (paling banter 25 ribu)

Tapi semua itu tetap saja seperti menampung air hujan pakai tangan — cepat penuh, lebih cepat lagi habis.

Hutang bapaknya yang dulu buka kontrakan motor kredit sudah menggunung. 

Rentenir tidak lagi datang setiap minggu, mereka datang setiap hari. Kadang cuma ngopi di warung depan sambil ngeliatin rumah, kadang langsung masuk sambil bawa pisau lipat yang sengaja dibuka-tutup pelan.

Malam itu, sepulang nganter paket sampai jam 11, Rizky buka handphone. 

Ada grup WhatsApp baru yang dibuat temen sekelasnya, namanya "Cuan Malam Jumat". Di dalamnya banyak screenshot kemenangan warna-warni dari situs bernama m9win.

"Main Mahjong Ways 2 aja bang, modal 50 ribu bisa jadi 800 ribu dalam 30 menit"

"Semalem gua WD 1,2 jt bro, auto lunas cicilan motor"

"GUA WD 4,7 JT MALEM INI BRO!!!"

"Mahjong Ways 2 lagi gacor banget di m9win, modal 100 ribu auto jadi jutaan"

"Link aman, gas lah sebelum server down!"

Dia tahu itu jebakan.

Tapi di luar sana, ibunya baru saja berbisik dengan suara pecah:

"Ky… besok mereka bilang mau ambil motor bapak… kalau nggak ada duit, mereka bilang mau ambil aku buat jaminan…"Kata-kata itu seperti palu godam menghantam dada Rizky.

Dia menutup mata.

Satu tarikan napas dalam.

Lalu jarinya menekan tombol transfer.87 ribu.

Semua.

Masuk ke m9win.

Masuk ke Mahjong Ways 2.

Spin pertama — biasa.

Spin kedua — biasa.

Spin ke-14 — tiba-tiba ubin emas berjatuhan seperti hujan duit.

Scatter.

Free spin 12 kali.

Multiplier ×10.

Saldo melonjak jadi 1.820.000 dalam waktu kurang dari tujuh menit.

Rizky menjerit pelan, menutup mulut sendiri supaya ibunya tidak terbangun.

Air matanya jatuh ke layar.

"Kalau stop di sini… bisa bayar rentenir dua minggu ke depan. Bisa beli beras. Bisa beliin ibu minyak goreng yang bagus."Tapi ada suara lain di kepalanya, suara yang lebih manis dari musik slot itu sendiri:"Lagi dikit lagi… sekali putaran gede lagi… bisa lunas semua sekaligus. Bisa bapak nggak usah takut lagi. Bisa ibu tidur nyenyak."Dia pencet spin lagi.

Auto spin aktif.

Pukul 03:04 — 3.840.000

Pukul 03:18 — 2.910.000

Pukul 03:29 — 1.670.000

Pukul 03:41 — 420.000

Pukul 03:52 — 89.000

Pukul 03:59 — 12.000

Layar membeku sesaat.

Notifikasi muncul pelan, huruf merah menyala:"Saldo hampir habis.

Lanjutkan dengan deposit terakhir?

Ya / Tidak"

Di luar, suara langkah kaki mendekat.

Bukan langkah biasa.

Langkah yang berat, disengaja, seperti orang yang sudah bosan menunggu.Rizky mendengar pintu pagar dibuka pelan.

Creek…

Lalu suara pria yang lebih tinggi itu, rendah, dingin:

"Bu… kami sudah kasih waktu dua minggu.

Malam ini kami bawa keputusan."Ibu Rizky menjerit kecil dari dapur.

Bukan jeritan panik.

Jeritan orang yang sudah pasrah.

Jari Rizky gemetar di atas tombol "Ya".

Layar handphone menyala terang, menerangi wajahnya yang pucat seperti mayat.

Dia menatap angka 12.000 itu.

Lalu menatap pintu kamar yang hanya ditutup kain gorden lusuh.Di luar, langkah semakin dekat.

Pisau lipat diketuk-ketuk lagi.

Tik.

Tik.

Tik.

Rizky menutup mata.

Air matanya jatuh ke layar, membasahi tombol virtual itu.

Dan dalam keheningan yang mencekik,

dia menekan.

Bukan 

Ya / Tidak

Dia menekan tombol power.

Layar langsung gelap.Semuanya gelap.Hening.Hanya suara hujan.

Dan detak jantungnya sendiri yang terdengar lebih keras dari apa pun di dunia ini.

Dia berdiri.

Membuka gorden.

Melangkah keluar kamar dengan kaki telanjang.

Di ruang tamu kecil itu, ibunya sudah berlutut di depan dua pria itu, di tangan rizky memegang pisau dapur yang tumpul seperti sedang menawarkan diri.

Rizky maju satu langkah.

Suara yang keluar dari tenggorokannya serak, tapi jelas:

"Ambil saya saja. Biar ibu aman. Saya yang kerja. Saya yang tanggung semua."

Tapi malam ini… kalian pulang dulu.

"Pria yang lebih tinggi menatapnya lama."

Lalu tertawa kecil, tapi tanpa kehangatan.

"Kamu pikir nyawa kamu cukup buat nutup hutang bapakmu?"

Rizky menatap balik, mata yang tadi kosong sekarang menyala dengan semangat membara.

"Bukan nyawa saya yang saya tawarkan. Tapi waktu saya. Satu bulan. Saya pasti bisa kumpulin dengan tangan ini."

Kalau gagal… kalian boleh ambil apa saja dari saya.

Tapi malam ini… pulang lah kalian.

"Hening lagi" 

Hanya suara rintik hujan yang terdengar

Dan detak jantung yang tidak berhenti. Pria itu memasukkan pisau ke saku.

Menoleh ke temannya.

Lalu mengangguk pelan."Minggu depan kami cek lagi, kalau masih nol… nggak ada nego lagi." Kemudian mereka berbalik pergi dari rumah rizky.

Langkah mereka menjauh, menyatu dengan suara hujan.Rizky jatuh berlutut di depan ibunya.

Memeluknya erat sampai keduanya sama-sama gemetar.Di tangannya yang masih dingin, handphone mati itu tergeletak di lantai.

Tak ada lagi ubin emas.

Tak ada lagi multiplier.

Tak ada lagi harapan palsu yang berkedip-kedip.Hanya hujan.

Dan satu bulan yang baru saja dia beli dengan harga:

semua mimpi yang pernah dia pegang di layar itu. Dan untuk pertama kalinya malam itu,

detik-detik itu terasa berhenti.

Bukan karena waktu habis. Tapi karena dia akhirnya memilih untuk tidak membiarkannya habis begitu saja.

Sebulan pun berlalu, kini rizky telah melunasi semua hutang yang dia janjikan dan hidup dengan tenang bersama ibunya di gubuk kecil mereka.

#m9win #m9winnovel

link m9win > https://heylink.me/m9wins

[1] https://heylink.me/m9wins

More Chapters