WebNovels

Chapter 3 - Bayang-Bayang Koin Digital

Joko menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu kontrakan kecilnya di Gang Melati, pinggiran Surabaya. Bau amis dari got yang mampet langsung menyengat hidungnya, bercampur dengan aroma gorengan dari warung Bu epi sebelah. Di luar, anak-anak tetangga sedang bermain bola kaki, suara tawa mereka bergema di gang sempit yang licin karena hujan semalam.

"Jo, kapan bayar listrik bulan ini? Udah nunggak dua bulan!" teriak Pak RT dari teras rumahnya, sambil mengipas-ipaskan koran basah.

Joko tersenyum kaku, tangannya merogoh saku celana jeans lusuh. "Iya, Pak. Besok pasti, Pak. Saya lagi nunggu transfer dari kerja sampingan."

Pak RT menggeleng-geleng kepala. "Jangan lama-lama ya, Jo. Listriknya bisa diputus nanti. Kamu kan anak muda, harus lebih rajin cari duit."

"Iya, Pak. Makasih nasihatnya," jawab Joko sambil buru-buru masuk ke kontrakan. Di dalam, kamar dua kali tiga meter itu terasa pengap, dindingnya lembab dan berjamur. Lampu bohlam 5 watt menyala redup, menerangi meja kayu reyot dan kasur busa tipis yang sudah bolong di sana-sini. Ponselnya yang retak di sudut kanan atas bergetar: pesan dari ibunya di desa.

"Nak, obat asam urat Ibu habis. Kirim sedikit ya, bulan ini panen jagung gagal karena banjir."

Joko duduk di pinggir kasur, merasakan dingin lantai semen meresap ke telapak kakinya. Saldo rekeningnya tinggal Rp85.000 – cukup untuk makan sehari, tapi tidak lebih. Dia bukan pemalas; dulu lulusan SMK teknik mesin, pernah kerja di pabrik, tapi pandemi dan PHK membuatnya jadi sopir ojek online. Tapi hujan deras seperti kemarin membuat pesanan sepi, dan motornya sudah tua, sering mogok.

Malam itu, sambil makan mie instan dingin, Joko scrolling media sosial. Iklan M9WIN muncul tiba-tiba: latar merah cerah dengan gambar wanita seksi, tumpukan koin emas, dan hexagon bonus: New Member 50%, Deposit Harian 10%, Scatter Mahjong, Pragmatic Petir Pecah, Check In, VIP, Rebate Slot Harian. "Beragam Slot dan Beragam Bonus!" tulisnya, suara efek koin berjatuhan di iklan membuat telinganya berdengung.

Joko ragu. "Judi? Gila aja," gumamnya. Tapi jarinya tetap menekan download. Aplikasi terpasang cepat, daftar mudah. Bonus New Member langsung masuk menjadi kredit permainan. Hatinya berdegup kencang. Pembayaran via QRIS tanpa hambatan, katanya. Joko buka dompet digitalnya, scan kode QR yang muncul – bip! – transaksi selesai dalam detik, Rp50.000 lenyap, diganti kredit game.

Dia mulai dengan slot sederhana, tema buah. Putar pertama, kalah. Kedua, menang kecil. Adrenalin mengalir. Lalu coba Pragmatic Petir Pecah: simbol Zeus muncul, petir menyambar layar dengan kilatan terang, jackpot Rp300.000. Joko tersenyum lebar, tapi sekaligus merasa bersalah. "Ini cuma sementara," bisiknya pada dirinya sendiri.

Pagi harinya, Joko keluar kontrakan untuk ambil pesanan ojek. Di warung Bu epi, dia beli kopi hitam."

Jo, kok muka kamu cerah hari ini? Biasanya kusut mulu," kata Bu epi sambil menuang kopi panas ke gelas plastik.

Joko tertawa kecil. "Ah, Bu. Semalam mimpi indah. Kopinya dobel ya, Bu. Biar semangat narik ojek."

Bu epi menggeleng-geleng. "Kamu tuh harus cari kerja tetap, Jo. Ojek mulu, kapan punya rumah sendiri?"

"Iya, Bu. Doain ya," jawab Joko sambil membayar dengan uang receh terakhirnya.

Malamnya, dia main lagi. Claim Bonus Check In harian: scan QRIS deposit Rp100.000 – bip! – dana masuk instan. Scatter Mahjong jadi favorit: tile-tile berjatuhan dengan suara klik-klik, scatter muncul, free spin 20 kali. Kemenangan Rp2 juta. Joko berteriak sendirian, tapi segera ingat ayahnya yang dulu kalah judi sabung ayam, meninggalkan keluarga dalam hutang. "Jangan seperti bapak," gumamnya, air mata mengalir. Konflik emosional itu seperti badai: euforia kemenangan campur rasa takut dan bersalah.

Hari-hari berikutnya, rutinitas berubah. Pagi ojek, malam slot. Di jalanan, saat istirahat, Joko ngobrol dengan sesama driver."

Jo, lo kok jarang keliatan sekarang? Pesanan lo banyak ya?" tanya Mas Budi, teman ojeknya, sambil merokok di bawah pohon.

Joko menggeleng. "Ah, lagi ada sampingan, Mas. Lo sendiri gimana? Anak lo udah masuk sekolah belum?"

Mas Budi menghela napas. "Belum, Jo. Uang masuknya pas-pasan. Lo ada tips cari duit cepat gak?"

Joko ragu, tapi jawab, "Kerja keras aja, Mas. Jangan percaya iklan cepat kaya."

Tapi dalam hati, Joko tahu dirinya munafik. Bonus Deposit Harian 10% membuatnya deposit Rp200.000 – bip! – tanpa hambatan. Levelnya naik ke VIP: cashback 5%, akses slot premium. Rebate Slot Harian menambah kredit setiap hari.

Suatu malam, kalah besar: Rp1,5 juta lenyap. Joko lempar ponsel ke dinding, retaknya semakin lebar. Dia keluar kontrakan, berjalan di gang gelap. Duduk di trotoar, menangis."

Jo, kamu kenapa? Kok nangis sendirian?" tanya Mbak Lina, tetangga yang baru pulang kerja malam dari minimarket.

Joko menyeka air mata. "Ah, Mbak. Cuma capek aja. Kerja ojek seharian."

Mbak Lina duduk di sampingnya, aroma parfum murahnya bercampur bau hujan. "Jo, kalau ada masalah, cerita aja. Kita tetangga kan. Jangan dipendam sendiri, nanti sakit."

Joko menggeleng. "Mbak, aku takut banget. Aku lagi nyoba sesuatu yang salah, tapi aku butuh duit buat ibu di kampung."

Mbak Lina diam lama. "Apa pun itu, Jo, ingat keluarga. Jangan sampai mereka kecewa."

Kata-kata itu menusuk. Pagi harinya, Joko kirim Rp3 juta ke ibunya. Di telepon, ibunya menangis bahagia.

"Nak, terima kasih. Ibu bisa beli obat dan bayar hutang. Tapi kamu dari mana uangnya? Jangan bohong ya."

"Kerja keras, Bu. Ojek malam-malam," bohong Joko, suaranya bergetar.

"Ibu bangga sama kamu, Nak. Tapi hati-hati, jangan sampe kayak bapakmu dulu."

Joko menutup telepon, dada sesak. Konflik itu semakin dalam: dia ingin berhenti, tapi godaan jackpot besar seperti magnet.

Turnamen VIP datang. Joko deposit Rp500.000 – bip! – QRIS lancar. Main Slot Ulang Tahun: tema pesta, balon meletus, jackpot progresif pecah: Rp50 juta! Joko jatuh ke lantai, napas tersengal.

Kemudian dia buru buru melakukan penarikan cepat – bip! – uang masuk 20 menit. Dengan itu, Joko bayar hutang kontrakan, beli motor baru. Tapi emosi campur aduk: bahagia tapi hampa."

Jo, motor baru? Wah, kaya mendadak nih!" kata Pak RT saat melihat Joko parkir motor.Joko nyengir. "Iya, Pak. Bonus kerja. Sekarang listrik saya bayar lunas ya."

Pak RT tertawa. "Bagus, Jo. Jangan lupa bagi-bagi rezeki ke tetangga."

Pindah ke apartemen kecil, Joko mulai investasi: buka warung kecil. Tapi malam-malam, mimpi buruk datang: ayahnya muncul, wajah pucat, "Jangan ulangi kesalahanku, Nak."

Suatu hari, telepon dari adiknya, Rina.

"Kak, ibu sakit lagi. Asam urat kambuh parah. Butuh rawat inap."

Joko transfer Rp10 juta. Tapi Rina curiga.

"Kak, uangnya dari mana? Jangan bohong. Ibu bilang kamu dulu janji gak akan judi kayak bapak."

Joko terdiam. "Rin, ini yang terakhir. Kakak janji."

"Kak, aku takut. Kalau kakak hancur, siapa yang jagain ibu? Tolong berhenti, Kak. Aku mohon."

Air mata Joko mengalir. Malam itu, dia main terakhir: Pragmatic Petir Pecah, jackpot Rp200 juta. Withdraw semua – bip! – 

Dengan uang itu, Joko buka bisnis bengkel motor. Ibu dan Rina pindah ke kota. Di bengkel baru, bau oli dan besi panas mengisi hari-harinya.

Satu sore, Mbak Lina datang ke bengkel."Jo, congrats ya. Bengkelnya ramai. Kamu berhasil."

Joko tersenyum. "Makasih, Mbak. Kata Mbak malam itu yang buat saya mikir."

Mbak Lina tersipu. "Jo, kalau boleh, ajak saya makan malam yuk. Biar cerita lebih panjang."

Joko tertawa. "Boleh, Mbak. Malam ini aja."

Keluarga berkumpul malam itu. Ibu memeluknya."Nak, ibu tahu kamu berjuang. Ibu bangga.

"Rina menambahkan, "Kak, janji ya traktirin aku lagi."

Joko mengangguk, mata berkaca. "Janji, Rin. Sekarang kita mulai baru."

Di luar, angin malam Surabaya membawa aroma laut dan gorengan. Joko menatap langit: dari kemiskinan ke kemakmuran, tanpa hambatan jadi tangga sukses, tapi emosi diri nya dan keluarga yang selamatkan masih membekas di hati.

More Chapters