WebNovels

Chapter 11 - Bab 11: Eksekusi Kode di Tepi Pantai

Langit di atas Oasis bukan lagi sekadar pemandangan—ia telah menjadi kanvas bagi kehancuran sistematis. Enam sosok berjubah perak, para Rasul dari entitas pusat, berdiri membentuk pola geometris yang presisi di atas permukaan laut. Mereka adalah unit pembersih tingkat tinggi yang diprogram untuk mengisolasi setiap bug yang mengancam stabilitas simulasi.

Ija berdiri tepat di tengah-tengah formasi mereka. Rambut hitamnya tertiup angin buatan yang berhembus kencang akibat distorsi gravitasi. Di matanya, dunia bukan lagi pasir dan air, melainkan untaian data yang bisa ia petik seperti dawai gitar.

"Protokol pembersihan dimulai," suara mekanis dari enam Rasul itu bergaung serempak, menekan kesadaran siapa pun yang mendengarnya.

Ija tidak menunggu aba-aba. Ia melompat, namun bukan ke arah mereka. Ia justru menebas udara kosong di sampingnya.

KRAK!

Ruang di hadapan Ija retak seperti kaca yang dihantam palu besar. Gelombang kejut dari retakan itu melesat secepat cahaya, menghantam dua Rasul yang paling dekat hingga tubuh mereka terdistorsi menjadi tumpukan piksel yang tak berbentuk.

[SKILL: REALITY SHATTER]

[Description: Memanfaatkan ketidakstabilan logis ruang simulasi untuk menciptakan ledakan dampak fisik.]

"Hanya dua?" Ija menyeringai, sebuah senyum penuh intimidasi yang memamerkan rasa percaya dirinya yang mutlak. "Kalian masih punya empat lagi. Apa kecepatan prosesor kalian memang seburuk itu?"

Empat Rasul yang tersisa bereaksi dengan kecepatan sinkronisasi maksimum. Mereka memunculkan ribuan bilah energi yang meluncur seperti hujan meteor ke arah Ija.

"Lyra, Scarlett! Tahan perimeter!" teriak Ija tanpa menoleh.

"Sudah kami lakukan!" teriak Lyra. Ia memutar pedang bintangnya, menciptakan perisai magnetik yang membelokkan setiap bilah energi yang datang. Di saat yang sama, Scarlett bergerak lincah di sela-sela debu, melumpuhkan sensor gerak para Rasul dengan belati bayangannya yang mampu memutuskan koneksi data mereka.

Ija memanfaatkan celah itu. Ia melesat menembus hujan energi, membiarkan tubuhnya bersentuhan dengan bilah-bilah maut itu. Namun, setiap kali bilah itu akan menembus kulitnya, Ija mengaktifkan Phase Shift—membuat tubuhnya menjadi tidak berwujud (intangible) selama beberapa milidetik.

Ia sampai di depan Rasul ketiga. Tanpa basa-basi, Ija menempelkan telapak tangannya ke dada robotik itu.

"Sistem kalian terlalu kaku. Terlalu banyak aturan," bisik Ija dingin. "Mari kita buat sedikit... kekacauan logika."

Ija mengirimkan perintah override langsung ke inti prosesor musuhnya. Dalam hitungan detik, Rasul itu berhenti bergerak, bergetar hebat, dan tiba-tiba menyerang rekannya sendiri dengan laser daya tinggi.

"Satu musuh menjadi kawan," sahut Xora dari proyeksi hologramnya. "Taktik yang cerdas, Tuan! Tapi sepertinya yang lain sudah mulai beradaptasi dengan pola seranganmu."

Ija tidak peduli. Ia kini berada di udara, dikepung oleh tiga Rasul yang tersisa. Langit di atas mereka mulai menunjukkan tanda-tanda system crash total; warna biru toska perlahan memudar menjadi abu-abu statis.

Ija menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh energi Glitch miliknya ke dalam pedang plasma hitamnya. Ini bukan lagi pertarungan senjata, ini adalah perang untuk menentukan siapa yang memiliki otoritas atas realitas ini.

"Kalian menyebut diri kalian Rasul," ujar Ija sambil mengayunkan pedangnya dalam satu putaran penuh yang menciptakan gelombang energi emas yang menyapu seluruh pantai. "Tapi bagi sistem ini, kalian hanyalah barisan kode yang sudah usang."

Gelombang itu menghantam ketiga Rasul secara bersamaan. Tubuh mereka meledak dari dalam, terurai menjadi kode-kode biner yang kemudian terserap ke dalam pedang Ija.

Saat debu digital mereda, pantai Oasis yang megah kini tampak tandus. Hanya tersisa Ija yang berdiri di tengah sisa-sisa kehancuran, dengan pedang plasma yang masih berdenyut kencang.

Ia menoleh ke arah Lyra, Scarlett, dan Aria yang berlari ke arahnya. Ija tersenyum tipis—senyum yang tampak tulus, sebelum akhirnya ia kembali menatap cakrawala dengan tatapan penuh rencana.

"Pertunjukan pembuka selesai," gumam Ija. "Sekarang, mari kita cari tahu siapa yang benar-benar memegang kendali di balik tirai galaksi ini."

More Chapters