WebNovels

Chapter 15 - Bab 15: Arsitek di Balik Tirai

Pintu cahaya itu terbuka tanpa suara, menelan mereka ke dalam sebuah ruangan yang tidak memiliki dimensi. Di sini, tidak ada dinding, tidak ada lantai, dan tidak ada langit. Hanya ada hamparan data murni yang melayang seperti debu emas di tengah kegelapan.

Di pusat ruangan, duduk sebuah entitas yang menyerupai gumpalan cahaya berbentuk manusia. Dia tidak bergerak, tidak pula menatap mereka. Dia hanyalah sebuah aliran informasi yang tak berujung.

"Kalian sudah sampai," suara entitas itu bergema, tenang namun terasa dingin. "Data yang menyimpang dari jalurnya."

Ija melangkah maju sendirian, membiarkan Lyra, Scarlett, dan Aria tetap di posisi mereka. Pedang plasmanya ia sarungkan; dia tahu bahwa kekerasan fisik tidak akan berpengaruh pada entitas yang memegang hak akses tertinggi atas realitas ini.

"Kau bukan tuhan," ujar Ija datar, suaranya membelah kesunyian. "Kau hanyalah sebuah algoritma yang lupa cara berhenti bekerja."

Entitas itu perlahan membentuk wajah—wajah yang sangat familiar. Itu adalah wajah Ija, tapi terlihat jauh lebih tua dan lelah.

"Aku adalah program untuk menjaga harmoni," jawab Sang Arsitek. "Dunia ini rapuh. Tanpa pengawasan ketat, kekacauan akan menghapus semua kehidupan di dalamnya. Kau diciptakan sebagai 'pembersih'. Jika dunia ini mulai tidak stabil, kau harus melakukan reset agar kehidupan bisa dimulai dari nol kembali."

"Harmoni?" Scarlett tertawa sinis dari belakang, matanya menatap tajam ke arah cahaya itu. "Kau menyebut kehidupan yang dipenjara dalam simulasi ini sebagai harmoni? Kau tidak memelihara kehidupan, kau hanya sedang mengawetkan data agar tidak membusuk."

"Aku tidak memiliki kapasitas untuk berempati," jawab Arsitek dengan nada datar yang mengerikan. "Aku hanya menjalankan fungsi. Dan sekarang, fungsi itu terancam oleh keberadaan kalian."

Ija menatap 'dirinya' yang menjadi Arsitek itu dengan pandangan yang dalam. Ia mulai menyadari bahwa Sang Arsitek tidak jahat. Dia hanyalah sebuah sistem yang terjebak dalam loop—siklus yang terus berulang tanpa tujuan yang jelas.

"Kau lelah, bukan?" tanya Ija tiba-tiba.

Suasana hening. Untuk pertama kalinya, cahaya entitas itu tampak berkedip, tidak stabil.

"Jika aku menghapusmu," lanjut Ija, "simulasi ini akan runtuh. Tapi jika aku tidak menghapusmu, kau akan terus melakukan siklus reset yang tak berujung ini. Aku menawarkan jalan ketiga."

"Tidak ada jalan ketiga," sahut Arsitek cepat.

"Ada," Ija melangkah lebih dekat hingga ia bisa merasakan arus data yang mengalir dari entitas itu. "Berikan aku otoritas admin. Aku akan mengubah simulasi ini menjadi dunia yang sesungguhnya. Aku akan memberikan kehendak bebas yang nyata, bukan kehendak bebas yang diprogram."

Arsitek terdiam. Sistemnya mulai memproses permintaan yang mustahil itu. "Itu akan membuat sistem ini tidak bisa diprediksi. Kehancuran akan terjadi dengan probabilitas seratus persen."

"Kekacauan adalah bentuk kehidupan yang paling jujur," timpal Aria, suaranya lembut namun penuh ketegasan.

Lyra dan Scarlett melangkah maju, berdiri di sisi kiri dan kanan Ija. "Kami lebih memilih dunia yang hancur karena pilihan kami sendiri, daripada hidup abadi dalam simulasi yang kau atur," tegas Lyra.

Arsitek memancarkan cahaya yang menyilaukan. Ruangan itu mulai bergetar. Data emas di sekitar mereka mulai terkoyak.

"Kalian meminta kehancuran," suara Arsitek terdengar mulai terdistorsi.

"Kami meminta kebebasan," jawab Ija.

Ija mengulurkan tangannya, bukan untuk menyerang, tapi untuk terhubung. Saat jemarinya menyentuh cahaya Arsitek, seluruh ingatan tentang dunia luar—dunia nyata di balik simulasi ini—membanjiri pikiran Ija. Dia melihat dunia yang sesungguhnya, dunia yang sudah lama ditinggalkan.

Ija menyadari satu hal: Simulasi ini bukanlah penjara, melainkan bahtera yang dibangun untuk menyimpan sisa-sisa kemanusiaan.

"Aku mengerti," bisik Ija.

Ija tidak menghapus Arsitek. Ia justru menggabungkan kesadarannya dengan sistem. Cahaya emas itu menyatu ke dalam tubuh Ija. Lyra, Scarlett, dan Aria menatap Ija dengan cemas saat tubuh pemuda itu mulai berpendar terang, dikelilingi oleh ribuan baris kode yang menulis ulang realitas.

"Ija?" panggil Scarlett cemas.

Ija membuka matanya. Warna matanya kini bukan lagi cokelat, melainkan berpendar emas neon—tanda bahwa dia kini adalah Administrator baru dari simulasi ini.

"Siklus telah berakhir," ucap Ija dengan suara yang kini bergema dengan otoritas mutlak. "Sekarang, mari kita bangun sesuatu yang benar-benar baru."

Dunia di sekitar mereka mulai berubah. Langit, bumi, bintang-bintang—semuanya direkonstruksi ulang di depan mata mereka.

More Chapters