WebNovels

Chapter 10 - Bab 10: Darah di Pasir Oasis

Langit Planet Oasis yang tadinya indah kini tampak seperti monitor rusak. Garis-garis merah darah melintang di cakrawala, dan udara terasa statis—seolah setiap partikel oksigen sedang dipaksa tunduk pada kemauan para Rasul.

Di atas kapal salib perak itu, salah satu sosok melompat turun. Ia mendarat di atas permukaan air laut, namun bukannya tenggelam, air di bawah kakinya membeku menjadi kristal data yang kaku. Dialah Uriel Sang Pemurni, Rasul Ketujuh yang dikenal sebagai algojo paling efisien milik Arsitek.

"Anomali Ija," suara Uriel bergema, bukan melalui udara, melainkan langsung di dalam pikiran semua orang. "Eksistensimu telah mencapai batas toleransi. Planet ini akan diformat ulang, dan datamu akan dikembalikan ke ketiadaan."

Ija melangkah maju ke bibir pantai, membiarkan air laut membasahi kakinya. Ia melepaskan kacamata hitamnya dan menjatuhkannya ke pasir. Wajahnya yang dingin kini terlihat sangat misterius, seolah ia sedang menatap sesuatu yang jauh melampaui sosok Uriel.

"Diformat ulang?" Ija terkekeh pelan, sebuah suara yang sangat kontras dengan suasana mencekam itu. "Kau bicara seolah-olah kau adalah admin di sini. Padahal, kau hanyalah baris kode yang diberi jubah putih agar terlihat suci."

"Berani sekali kau!" Uriel mengangkat tangannya. Cahaya putih menyilaukan terkumpul di telapak tangannya, membentuk sebuah busur panah dari energi murni.

"Lyra, Scarlett, Aria! Formasi Delta!" perintah Ija tegas.

Lyra menerjang dari samping, pedang bintangnya berpijar biru. Scarlett menghilang ke dalam bayangan pasir, sementara Aria mengangkat tangannya, menciptakan kubah pelindung hijau yang menenangkan di sekitar mereka.

WUSH!

Uriel melepaskan anak panah cahayanya. Serangan itu bergerak lebih cepat dari kecepatan suara. Namun, sebelum menyentuh Ija, Ija hanya menjentikkan jarinya.

[SKILL: SYSTEM DELAY]

[Description: Memberikan jeda waktu 0,5 detik pada objek yang dituju.]

Anak panah itu mendadak melambat, seolah terjebak di dalam lumpur tak kasat mata. Ija dengan santai memiringkan kepalanya, membiarkan serangan maut itu lewat hanya beberapa milimeter dari telinganya.

"Terlalu lambat," bisik Ija.

Dalam sekejap, Ija sudah berada di depan Uriel. Ia tidak menggunakan pedangnya, melainkan langsung mencengkeram wajah sang Rasul dengan tangan kirinya yang berpendar emas.

"Kau tahu apa yang paling aku benci dari kalian?" Ija bertanya dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Uriel berdiri. "Kalian selalu merasa lebih tinggi, padahal kalian tidak punya kebebasan. Kalian hanya boneka."

"Lepaskan... aku!" Uriel mencoba meledakkan energinya, namun sistem Ija jauh lebih dominan.

"Ija, awas! Kapal di atas menembak!" teriak Lyra.

Puluhan laser pemusnah meluncur dari kapal salib di langit. Ija melirik ke atas, lalu kembali menatap Uriel dengan seringai nakal.

"Mari kita lihat apakah jubah putihmu ini tahan terhadap api temanmu sendiri," ucap Ija. Ia memutar tubuh Uriel dan menggunakannya sebagai tameng hidup.

BOOM! BOOM! BOOM!

Ledakan laser menghantam punggung Uriel. Rasul itu meraung kesakitan saat datanya mulai terdistorsi. Ija kemudian melempar tubuh Uriel ke arah Scarlett yang tiba-tiba muncul dari bayangan di belakang sang Rasul.

"Hadiah untukmu, Scarlett!"

"Dengan senang hati!" Scarlett mengayunkan belati bayangannya, menebas inti energi Uriel hingga hancur berkeping-keping.

Uriel meledak menjadi ribuan fragmen cahaya putih. Namun, alih-alih menang, wajah Ija justru semakin serius. Ia menatap ke arah kapal salib di langit yang kini mulai menurunkan enam Rasul lainnya secara bersamaan.

"Satu semut mati, enam lainnya datang," gumam Ija. Ia menoleh ke arah Aria yang tampak pucat karena menggunakan terlalu banyak energi untuk melindunginya.

Ija mendekati Aria, memegang dagunya dengan lembut, lalu mengecup keningnya secara tiba-tiba di tengah medan perang. "Tetaplah di belakangku, Aria. Energi penyembuhanmu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa 'nyata' di dunia palsu ini."

Aria tersipu, energinya seolah terisi kembali secara instan oleh kontak fisik itu. "I-Ija... fokuslah pada musuh!"

"Aku selalu fokus," jawab Ija sambil membalikkan badan, menghadap enam Rasul yang kini mengepung pantai. "Terutama pada musuh yang mencoba merusak pemandangan indah di depanku."

Ija menggenggam pedang plasmanya dengan kedua tangan. Aura hitam-emas meledak dari tubuhnya, menciptakan badai pasir yang sangat dahsyat.

"Xora! Aktifkan [SYSTEM RELEASE: UNLIMITED GLITCH]!"

"Perintah diterima, Tuan! Selamat bersenang-senang di neraka data!" teriak Xora penuh semangat.

Dunia di sekitar pantai Oasis mulai mencair. Tanah berubah menjadi kubus-kubus digital, dan air laut mulai melayang ke langit. Ija berdiri di tengah kekacauan itu sebagai satu-satunya entitas yang memegang kendali penuh.

More Chapters