WebNovels

Chapter 8 - Bab 8: Fragmen Data yang Hilang

Kapal meluncur tenang di ruang hampa, menjauh dari reruntuhan Sektor 4 yang kini hanya menjadi debu digital. Di dalam kabin utama, pencahayaan diredupkan hingga menciptakan suasana moody dan melankolis—persis seperti yang disukai Ija. Hanya ada pendar biru dari layar hologram Xora dan kerlip bintang di luar jendela.

Ija tertidur di kursi kapten. Namun, tidurnya tidak tenang. Di dalam kesadarannya, sistem "Glitch" miliknya sedang melakukan sinkronisasi ulang, memaksanya melihat potongan memori yang selama ini terkunci di folder tersembunyi otaknya.

Dalam mimpinya, Ija melihat dirinya sendiri sebagai anak kecil di sebuah ruangan putih bersih yang tak berujung. Di depannya berdiri sosok tanpa wajah yang mengenakan jubah putih bercahaya—The Great Architect.

"Kau adalah anomali yang paling sempurna, Ija," suara itu bergema, dingin dan tanpa emosi. "Kau bukan diciptakan untuk hidup, tapi untuk menguji batas kehancuran simulasi ini. Kau adalah tombol penghapus yang memiliki nyawa."

Ija kecil berteriak, namun suaranya tidak keluar. Ruangan putih itu mulai retak, menampakkan kegelapan ruang angkasa di baliknya. Ia melihat orang tuanya—dua teknisi sederhana yang pernah ia kenal—perlahan berubah menjadi barisan angka nol dan satu, lalu menguap menjadi ketiadaan. Mereka bukan manusia. Mereka hanya placeholder yang diciptakan sistem untuk menjaga kewarasan Ija sebelum ia "terbangun".

"TIDAK!"

Ija tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi dahinya. Tangannya gemetar, dan secara tidak sadar, ujung jarinya mengeluarkan percikan kode emas yang merusak meja kontrol di depannya hingga logamnya meleleh.

"Tuan? Kau mengalami mimpi buruk lagi?" suara lembut Aria terdengar dari sampingnya.

Gadis berambut hijau itu rupanya tidak tidur. Ia duduk di lantai di samping kursi Ija, menjaga sang penyelamat sepanjang malam. Dengan gerakan perlahan, Aria memegang tangan Ija yang gemetar. Cahaya hijau hangat mengalir dari telapak tangannya, menenangkan detak jantung Ija yang tidak beraturan.

Ija menatap Aria. Wajahnya yang biasanya dingin dan misterius kini tampak rapuh untuk sesaat. Namun, hanya butuh tiga detik bagi Ija untuk mengembalikan topengnya. Ia menarik tangannya, menyisir rambutnya ke belakang dengan gaya keren, dan menatap Aria dengan tatapan nakal yang biasa.

"Mimpi buruk? Tidak, Aria. Aku hanya sedang menghitung berapa banyak bintang yang harus kuhancurkan untuk membuatkanmu kalung yang pas," ucap Ija dengan suara berat dan tenang, seolah kejadian barusan hanyalah akting.

Aria tersenyum tipis, matanya yang bijak seolah tahu bahwa Ija sedang berbohong. "Kau tidak perlu menyembunyikan lukamu dariku, Ija. Aku diciptakan untuk menyembuhkan, bukan hanya tubuh, tapi juga jiwa yang rusak."

"Jiwa?" Ija terkekeh sinis sambil berdiri. Ia berjalan menuju jendela besar, menatap kegelapan galaksi. "Di dunia simulasi ini, jiwa hanyalah sekumpulan data yang belum terhapus. Jangan terlalu puitis, cantik. Itu bisa membuatku jatuh cinta, dan itu akan sangat merepotkan bagi jadwal petualanganku."

Tiba-tiba, pintu kabin terbuka. Lyra dan Scarlett masuk dengan wajah yang tampak... tidak senang. Rupanya mereka sudah memperhatikan interaksi intim antara Ija dan Aria dari balik pintu.

"Oh, lihat ini. Sang 'Virus' kita sedang sibuk menggoda sang penyembuh di tengah malam," sindir Scarlett sambil menyandarkan tubuhnya di dinding, menonjolkan lekuk tubuhnya yang dibalut pakaian kulit hitam. "Padahal aku baru saja ingin melaporkan bahwa radar mendeteksi kapal patroli Elite Curator di belakang kita."

Lyra maju dengan pedang di pinggangnya. "Ija, berhenti bermain-main. Kita butuh rencana. Jika mimpi burukmu itu ada hubungannya dengan koordinat Sektor Pusat, kau harus mengatakannya sekarang."

Ija berbalik. Aura misteriusnya kembali menyelimuti ruangan. Ia menatap ketiga wanita itu satu per satu: Lyra yang tegas, Scarlett yang provokatif, dan Aria yang lembut. Sebuah tim yang mustahil, namun entah bagaimana, sistemnya mengatakan bahwa mereka adalah kunci untuk mengalahkan Sang Arsitek.

"Rencananya sederhana," ucap Ija sambil berjalan ke arah mereka. Ia berhenti tepat di tengah-tengah ketiganya, membuat suasana menjadi sangat intim sekaligus tegang. "Kita tidak akan lari lagi. Kita akan memancing mereka ke Planet Oasis. Di sana, aku akan menunjukkan pada kalian... bagaimana rasanya merobek langit dan melihat apa yang ada di balik layar galaksi ini."

Ija kemudian mendekat ke arah Scarlett, membisikkan sesuatu yang membuat pembunuh bayaran itu terdiam. "Dan Scarlett... berhenti memakai parfum itu. Sensor penciumanku terus-menerus memberikan notifikasi 'Gairah Meningkat', dan itu sangat mengganggu konsentrasi bertarungku."

"KAU...!" Scarlett hendak memukul Ija, namun Ija sudah lebih dulu menghilang dalam kilatan cahaya emas, pindah ke ruang mesin.

"Dia benar-benar bajingan yang tak tertolong," gumam Lyra, namun ia tidak bisa menahan senyum tipis di bibirnya.

Di ruang mesin, Ija duduk menyendiri di kegelapan. Ia menatap telapak tangannya yang masih memancarkan cahaya emas.

"Arsitek... kau bilang aku adalah tombol penghapus?" batin Ija dingin. "Kalau begitu, bersiaplah. Karena aku akan menghapusmu dari memori alam semesta ini selamanya."

More Chapters