WebNovels

Chapter 3 - Bab 3: Kekacauan di Pasar Gelap Sektor 4

Kapal mendarat dengan dentuman keras di landasan besi tua Sektor 4, sebuah wilayah tanpa hukum yang mengapung di antara dua lubang hitam. Tempat ini adalah pusat segala sesuatu yang ilegal di galaksi: mulai dari perdagangan organ alien hingga senjata terlarang yang bisa menghapus satu planet dari peta bintang.

Ija melangkah keluar dari pintu kapal yang terbuka, jubah hitamnya berkibar tertiup angin buatan yang berbau oli dan belerang. Wajahnya sedingin es, matanya yang tajam memindai setiap sudut terminal yang penuh dengan makhluk-makhluk berbahaya.

"Tetap di belakangku," ucap Ija tegas kepada Lyra. Suaranya rendah namun penuh otoritas, membuat Lyra tanpa sadar mengangguk patuh.

Namun, baru berjalan beberapa langkah, pandangan Ija terpaku pada seorang alien penari di sebuah bar terbuka yang mengenakan pakaian transparan dari serat optik. Langkah kaki Ija terhenti total. Ia berdiri mematung dengan wajah yang masih terlihat sangat serius dan misterius.

"Ija? Kenapa berhenti? Musuh bisa menyerang kapan saja!" bisik Lyra waspada.

"Sstt," Ija mengangkat tangannya, wajahnya tampak berpikir keras seolah sedang memecahkan teori fisika kuantum. "Aku sedang melakukan observasi mendalam tentang... struktur anatomi ras alien itu. Ini sangat penting untuk database sistemku. Lihat bagaimana serat optik itu membiaskan cahaya pada lekuk tubuhnya. Itu adalah seni... dan juga informasi taktis."

Lyra menggeram, tangannya sudah gatal ingin memukul kepala Ija. "Itu namanya mengintip, dasar mesum!"

"Ini namanya riset, Lyra. Jangan sempit pikiran," jawab Ija tanpa menoleh, sebelum akhirnya ia kembali berjalan dengan langkah tegap seolah tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba, jalan mereka dihadang oleh sekelompok tentara bayaran bertubuh raksasa dengan modifikasi mekanik di sekujur tubuh. Pemimpin mereka, seorang cyborg bermata tiga, mengarahkan meriam laser tepat ke dada Ija.

"Anak muda, kau punya energi yang sangat murni di tubuhmu. Serahkan inti energimu atau kami akan membedahmu di sini!" gertak si bermata tiga.

Ija tidak mundur setali pun. Ia justru maju mendekat hingga ujung meriam laser itu menyentuh dadanya. Aura di sekitar Ija mendadak berubah. Suhu udara di Sektor 4 yang panas seolah anjlok hingga titik beku.

"Kau ingin membedahku?" Ija bertanya dengan nada datar yang mengerikan. "Kau bahkan tidak bisa melihat retakan pada senjatamu sendiri."

"Apa maksud—"

KLING!

Sebelum cyborg itu menyelesaikan kalimatnya, Ija menjentikkan jarinya.

[GLITCH ACTIVATED: MOLECULAR DISRUPTION]

Dalam sekejap, meriam laser raksasa itu berubah menjadi ribuan butiran pasir besi yang jatuh berhamburan ke lantai. Bukan hanya itu, seluruh lengan mekanik sang pemimpin tentara bayaran mendadak mengalami "glitch". Lengan itu berputar-putar tak terkendali sebelum akhirnya terlepas dan berubah menjadi tumpukan kaleng minuman soda.

"Maaf, sepertinya sistem senjatamu mengalami kesalahan logika," ucap Ija sambil mengambil satu kaleng soda yang baru saja tercipta dari tangan musuhnya, membukanya, dan meminumnya dengan santai.

Seluruh pasar gelap mendadak hening. Tak ada yang pernah melihat kekuatan seperti itu. Menghancurkan benda adalah hal biasa, tapi mengubah senjata pemusnah menjadi kaleng minuman adalah penghinaan tingkat tinggi.

"B-bunuh dia!" teriak si mata tiga dengan ketakutan.

Puluhan tentara bayaran merangsek maju. Ija hanya mendesah pelan. Ia menoleh ke arah Lyra yang sudah siap dengan pedangnya.

"Lyra, biarkan aku yang mengurus sampah-sampah ini. Kau cukup berdiri di sana dan terlihat cantik. Itu akan memberikan moral boost sebesar 15 persen padaku," ujar Ija dengan wajah serius namun kata-kata yang absurd.

Ija kemudian menghilang. Bukan berlari, tapi benar-benar menghilang karena ia melakukan teleportasi jarak pendek dengan memanipulasi koordinat posisinya di dalam simulasi galaksi. Setiap kali ia muncul, seorang musuh terpental dengan tubuh yang terdistorsi oleh hukum gravitasi yang kacau.

Di tengah pertarungan, Xora muncul dalam bentuk proyeksi kecil di bahu Ija. "Tuan, ada satu lagi target cantik di arah jam dua. Dia adalah pembunuh bayaran tingkat S yang sedang menyamar. Sepertinya dia tertarik dengan cara bicaramu yang aneh itu."

Ija melirik ke arah yang ditunjuk Xora. Seorang wanita berpakaian kulit ketat dengan rambut merah menyala sedang memperhatikan mereka dari kegelapan.

"Menarik," gumam Ija sambil mematahkan leher mekanik musuh terakhirnya tanpa melihat. "Mari kita buat pertunjukan ini sedikit lebih meriah."

More Chapters