WebNovels

The Arcane Realm

T_Moriarty
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
201
Views
Synopsis
Leon, pemuda modern, bereinkarnasi menjadi Wein Arcveil di dunia Ether—tempat kekuatan supranatural mengalir dan takdir menentukan segalanya. Terjebak antara pilihan jalur mematikan dan bayangan sunyi, ia harus menguasai kekuatan Kegelapan, menghadapi musuh tak terlihat, dan menemukan caranya bertahan hidup. Namun setiap langkah membawa konsekuensi yang bisa mengubah dirinya dan dunia di sekitarnya selamanya.
Table of contents
VIEW MORE

Chapter 1 - Beyonders

Suara langkah kuda yang teratur dan terlatih berjalan menyusuri salju, hawa panas keluar dari Napa kuda itu saat mereka berhenti, seseorang melompat dari atas kuda menarik tali dan mengikatnya di sebuah pohon.

"Kapten Hound, lihatlah." Tangannya bergetar saat ia menunjuk ke sebua tangan yang muncul dari tumpukan salju, di hutan tundra yang dingin salju sangat tebal dan dingin.

"Itu… Itu hanya mayat manusia, kau penakut ya Gregor." Hound mengikuti Gregor melompat saat ia akhirnya menarik pedangnya dari sarung, menyusuri jalan menuju tangan itu.

"Kapten—" Ucap Gregor gagap, dia melihat sekitar setelah mendengar suara langkah kaki, awalnya dia terlihat biasa tetapi saat Kapten Hound diam dan melihat mayat itu— langkahnya makin cepat.

Seseorang mengintai mereka, "Kapten…" panggilnya tetapi Hound hanya diam, dia berpikir bahwa hanya sebuah serigala yang kelaparan.

Kapten Hound berdiri, memutar kembali tubuhnya setelah selesai mengamati mayat tersebut, dia berjalan menuju Gregor yang membeku dan membuka mulutnya untuk menasihati wajah pucat nya. "Hei, tenanglah — itu hanya sebuah serigala…"

Siulan anak panah yang menyatu dengan suara badai, panah besar terbuat dari salju menembus tubuh Gregor, tepat di depannya Kapten Hound melihatnya dengan jelas.

Ternganga, dia hanya bisa diam menatap tubuh rekannya yang tergeletak di tanah setelah panah itu menusuk tubuhnya, salju tempat tubuh itu terjatuh berubah menjadi merah muda dan keheningan muncul di telinganya.

Kota Blundmere, Distrik Valtheris, perumahan Bangsawan tingkat atas.

Napas berat!

Huh!Huh!Huft!

Leon mencoba membuka kelopak matanya, napasnya berat dan lengannya menutupi wajahnya saat ia melihat ke atas, awal yang berat untuknya.

Dinding batuan alam dengan pantulan langit merah dan bulan yang besar melalui jendela abad pertengahan yang mewah, angin meniup hingga mengenai selimut bulu hewan yang menutupi tubuhnya.

Ini tidak seperti kamarnya.

Leon mendorong lengannya untuk membantu tubuhnya duduk di kasur empuk dan mewah tersebut, tangannya tanpa sadar memegangi kepalanya yang berdenyut perlahan.

Sial, apakah ini sebuah mimpi? Leon mencoba berdiri saat pandangannya goyah, melangkah perlahan menuju meja bercahaya yang terlihat mahal sambil tertatih-tatih.

Langkahnya pelan di kesunyian malam, tujuannya jelas saat wajah melihat sekitar ruangan, tembok putih dari batu kapur yang pucat dan pahatan sederhana. Kakinya perlahan menyentuh ubin marmer yang dingin dan lembut.

Alih alih melihat sekitar, ia merasa sudah sangat cukup melihat sekitarnya, rumah ini seperti rumah bangsawan abat pertengahan ke atas tetapi pandangannya tertuju pada satu benda.

Bercahaya, terang memantulkan pantulan cahaya bulan darah yang besar dan mengerikan, tidak hanya itu pegangan kayu yang khas dan moncong berwarna silver dan emasnya membuat saya terkejut.

Sebuah revolver? Leon mempercepat langkahnya seakan sudah akrab dengan lokasi ini, marmer itu mulai bersuara saat telapak kakinya menghantam dengan tegas di kesunyian.

Di saat telinganya di penuhi suara langkah kakinya, di dinding tepat sebelum meja, sebuah cermin tinggi berdiri membisu.

Saat tubuhnya di pantulkan oleh cermin itu langkahnya melambat, matanya fokus pada apa yang ia lihat tapi mimik wajahnya terlihat tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

Leon berhenti.

Refleksinya tampak di sana—jelas, namun terasa aneh. Rambutnya sedikit berantakan, matanya tampak lebih lelah dari yang ia ingat. Ia menatap dirinya sendiri beberapa detik, alisnya perlahan berkerut

Ini bukan aku? Apa? Bukan—Aku? Lalu siapa? Rambut hitam yang agak bergelombang dengan mata cokelat terang yang hampir seperti berwarna kuning–jingga, wajah muda yang sangat sehat tetapi juga sangat lelah.

Ack! Leon memegangi kepalanya, merasakan sakit yang luar biasa menjalar di dalamnya. Ia mengerang pelan, suaranya tenggelam dalam kesunyian dan kegelapan di sekelilingnya. Rasa nyeri itu datang berdenyut-denyut, seolah-olah kepalanya baru saja dipukuli dengan sebuah tiang keras, membuat pikirannya berputar dan tubuhnya terasa berat.

Sebuah suara itu kemudian keluar, suara berat tapi nyaring dan mengerikan seakan mereka ada di sekitarnya, suara itu menggema menahan rasa sakit kepalanya selama satu kata itu di sebut.

"Transmigrasi!"

"Transmigrasi!"

"Transmigrasi!"

"Transmigrasi!"

Suara itu, apakah itu artinya aku telah bertransmigrasi? Tidak—Aku. Aku tidak.. kepalaku sangat sakit. Perlahan menghilang suara itu dan kembali ke dalam kesunyian bersama dengan sakit kepala yang membuatnya terjatuh kini menghilang, Leon mendorong tubuhnya berdiri dengan kuat, melewati cermin itu ia segera mendekati meja putih dari kayu mahal.

Di otaknya dia menangkalnya tetapi mencoba untuk menerima sebuah kenyataan tersebut, dia juga mencoba memikirkan apa yang membuatnya bertransmigrasi, otaknya penuh saat tanpa ia sadari bahwa tangannya mengangkat revolver tersebut.

Warna badan hingga moncongnya berkilau perak, dihiasi ukiran emas murni yang memancarkan cahaya halus. Pegangannya terbuat dari bahan modern yang terasa kokoh di tangan. Ia memutar senjata itu perlahan ke sisi lainnya, memperhatikan sebuah nomor seri yang terukir rapi di permukaannya.

Di jaman modern atau di bumi sebuah senjata memiliki nomor seri tetapi ini terlihat polos, senjata itu sangat bagus untuk di cetak dengan nomor seri yang akan merusak keindahannya.

Leon merendahkan pistol itu dai pandangannya setelah puas melihat senjata tersebut, di belakangnya tepat setelah pistol itu hilang dari pandangannya ia melihat sebuah buku catatan dengan tulisan bahasa yang sangat aneh, tetapi lebih aneh lagi bahwa Leon dapat membacanya.

Itu sangat aneh, tetapi lebih aneh bahwa aku dapat membaca itu? Apakah itu bahasa yang digunakan oleh orang di planet ini? Dan sepertinya keahlian orang ini cukup hebat dalam membaca. Jari-jemarinya berdansa di atas buku yah di lapisi kulit hewan. 'Buku catatan Wein Arcveil.' Perlahan membuka halaman pertama. Whoosh! Sebuah hembusan angin tiba-tiba menghantam buku itu saat Leon baru saja membaca halaman pertama. Lembar-lembar kertasnya bergerak sendiri, berdesir dan berputar seolah menari tanpa sentuhan jemarinya. Beberapa detik kemudian, gerakan itu berhenti pada sebuah halaman yang tampak kusam, lembap, dan sedikit luntur dimakan waktu.

'Tanggal 25. Aku memutuskan untuk bergabung dengan sebuah tim rahasia yang mencari misteri, dengan kemampuan bahasa Vernis, Solvar, Luthern Kuno dan Luthen, aku bisa membantu mereka memecahkan hilangnya kerajaan yang hilang—Vernicius!'

'Tanggal 26. Aku memutuskan untuk bergabung, di sana mereka menggunakan sihir serta pencaharian catatan kuno yang membutuhkan bahasa yang kuat, aku sangat percaya diri dan berjalan menuju lokasi yang di berikan orang misterius itu.'

'Tanggal 27. Aku bangun pagi untuk keluar lebih cepat agar datang tepat waktu menuju 'Jalan Sutra II' menuju lokasi tempat organisasi tersebut, aku menunggangi kuda sendirian ke sana.'

'Tanggal 28. Kapten memintaku berpikir, apakah yakin untuk bergabung dengan organisasi ini? Dan dia memberikanku waktu tiga hari untuk berpikir.'

'Tanggal 29. Kosong'

'Tanggal 30. Sebuah suara muncul di benakku, aku tidak tahan suara itu terus memberikan teror hingga aku tak bisa mendengar suara dari luar, suara itu terus menghantui dan memberikan tekanan hebat. Suara itu selalu mengatakan hal yang membuatku terngiang yaitu 'Semuanya harus mati, mati, mati.' Dan..'

Kenapa tanggal 29? Kenapa hanya itu yang tidak terisi? Lupa? Itu akan sekalian dengan tanggal 30 kan? Tetapi tanggal 30 ia menulis keresahannya. Kata Leon di dalam hati.

Bahkan memori yang ada di tubuh ini tidak mengingatnya, seperti memori itu sudah korup, tetapi memori lainnya berfungsi dengan baik.

Setelah rasa sakit itu pudar, selera humor Leon kembali, ia mengingat beberapa novel fantasi dan beberapa yang bertransmigrasi tetapi saat itu terjadi padanya dia malah tak percaya dan sulit menganggapnya.

Leon melihat kembali cermin yang segera merefleksikan dirinya, tatapan narsis itu membuat mulutnya senyum lebar. Aku rasa aku bisa kembali, selama aku mengingat bagaimana aku ke sini tetapi aku tidak mengingat apa yang kulakukan, aku hanya ingat saat menghidupkan lilin untuk sebuah ritual.

Selama aku mencoba mengingat, aku akan menjadi Wein Arcveil. Jawab Leon dengan bangga, dia mulai mencoba menerima keadaannya, dalam hatinya dia kali ini telah menjadi Wein, dia mundur dari cermin itu dan mengangkat pistol itu.

"Aku akan menuju lokasi organisasi itu." Katanya pelan memecah keheningan, Wein meletakkan revolver itu di pinggangnya lalu mengambil jubah hitam yang indah. Tepat di sebelahnya sebuah longsword terletak di sana, tetapi mengingat dia memegang revolver ia tidak terlalu memikirkan hal tersebut.

Membuang pandangan dari senjata yang ia anggap tertinggal jaman itu, Wein berjalan menuju sebuah pintu, meraih sebuah gagangnya yang dingin Wein keluar dari kamarnya.

Jubah itu menutup pistolnya yang gagah tetapi suara besi saat ia jalan tak bisa di sembunyikan, menurutnya beberapa orang tak akan peduli dengan itu, berjalan di sebuah koridor yang mewah dengan pencahayaan sederhana dari lampu obor gas.

Pelayan wanita tua itu tiba-tiba berhenti saat melihatnya. Wajahnya langsung pucat, tubuhnya menegang seolah baru saja melihat sesuatu yang mengerikan. "T-Tuan Wein…" suaranya bergetar, lalu ia segera berlutut hingga dahinya hampir menyentuh lantai marmer yang dingin.

Wein terkejut melihat reaksi itu. Secara refleks ia ikut menunduk dan memegang bahu wanita tua tersebut, saat menatapnya dan mencoba membantunya berdiri fragmen memori Wein terputar. "Tidak, apa yang kau lakukan? Tidak usah berlutut seperti itu, bangunlah." Suaranya lembut, jauh dari nada dingin yang biasanya dimiliki tubuh ini.

Pelayan tua itu membeku. Perlahan ia mengangkat kepalanya, matanya melebar tidak percaya, seolah apa yang baru saja terjadi bertentangan dengan semua yang ia ketahui tentang tuannya. Tubuhnya masih gemetar ketika akhirnya ia berdiri.

Wein hanya tersenyum kecil. "Aku hanya ingin keluar sebentar mencari udara segar, mungkin aku akan kembali sebelum jam delapan." Ia berkata dengan santai, lalu berjalan melewatinya tanpa memikirkan reaksi yang ditinggalkannya.

Namun di belakangnya, pelayan tua itu masih terpaku di tempatnya. Beberapa pelayan lain yang melihat kejadian itu saling menatap dengan wajah pucat, salah satu dari mereka bahkan berbisik pelan, hampir tidak berani bersuara. "Itu… benar-benar Tuan Wein?"

Tak ada yang menjawab. Karena semua orang di rumah bangsawan itu tahu satu hal yang sama—Tuan muda Wein Arcveil tidak pernah bersikap lembut kepada siapa pun.

Pelayan wanita tua itu tiba-tiba berhenti saat melihatnya. Wajahnya langsung pucat, tubuhnya menegang seolah baru saja melihat sesuatu yang mengerikan. "T-Tuan Wein…" suaranya bergetar, lalu ia segera berlutut hingga dahinya hampir menyentuh lantai marmer yang dingin.

Wein terkejut melihat reaksi itu. Secara refleks ia ikut menunduk dan memegang bahu wanita tua tersebut, mencoba membantunya berdiri. "Tidak, apa yang kau lakukan? Tidak usah berlutut seperti itu, bangunlah." Suaranya lembut, jauh dari nada dingin yang biasanya dimiliki tubuh ini.

Pelayan tua itu membeku. Perlahan ia mengangkat kepalanya, matanya melebar tidak percaya, seolah apa yang baru saja terjadi bertentangan dengan semua yang ia ketahui tentang tuannya. Tubuhnya masih gemetar ketika akhirnya ia berdiri.

Wein hanya tersenyum kecil. "Aku hanya ingin keluar sebentar mencari udara segar, mungkin aku akan kembali sebelum jam delapan." Ia berkata dengan santai, lalu berjalan melewatinya tanpa memikirkan reaksi yang ditinggalkannya.

Namun di belakangnya, pelayan tua itu masih terpaku di tempatnya. Beberapa pelayan lain yang melihat kejadian itu saling menatap dengan wajah pucat, salah satu dari mereka bahkan berbisik pelan, hampir tidak berani bersuara. "Itu… benar-benar Tuan Wein?"

Tak ada yang menjawab. Karena semua orang di rumah bangsawan itu tahu satu hal yang sama—Tuan muda Wein Arcveil tidak pernah bersikap lembut kepada siapa pun.

Wein tidak terlalu peduli dengan itu, dengan itu jika dia sebelumnya adalah orang jahat mungkin ini sebuah kesempatan untuk membuat Wein menjadi baik, pelayan tua itu sangat gemetaran tadi membuat Wein tak nyaman, tetapi otaknya yang bahagia ini tidak terlalu memikirkan dan segera berjalan menuruni tangga.

"Selamat pagi!" Sapanya saat ia bertemu dengan setiap pelayan di rumah besar yang ia bahkan tak yakin di mana pintu keluarnya, hingga akhirnya setelah menyelesaikan labirin dituang yang besar ini, Wein yakin di depannya adalah sebuah pintu keluar.

Tepat saat Wein mendekat, seorang penjaga dengan armor lengkap berdiri tegap dan memberi hormat sebelum membuka pintu. Pintu besar itu perlahan tertarik ke belakang dengan anggun, menyingkap pemandangan yang menakjubkan di baliknya.

Wein menyapa penjaga itu dengan ucapan selamat pagi, sama seperti yang ia lakukan kepada penjaga lainnya. Namun sesaat kemudian, terdengar salah satu penjaga tersedak kaget di belakangnya. Wein tidak memedulikannya.

Perhatiannya sepenuhnya tersita oleh pemandangan di hadapannya—matahari yang baru saja terbit, memancarkan cahaya keemasan yang perlahan menyelimuti dunia di depannya.