WebNovels

Heavenly Demon: Path Beyond Salvation

Fajar_Butolo
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
437
Views
Synopsis
Jin Hae-Rin lahir di desa kecil Wolseok yang terlupakan, tempat yang terlalu miskin dan tidak berarti untuk dicatat oleh sekte-sekte Murim. Hidupnya berubah selamanya ketika sekte Heavenly Radiance datang, menebas desa dan orang-orang yang dicintainya. Dari kekejaman yang tak terbayangkan itu, Hae-Rin jatuh ke jurang misterius yang menelan tubuh dan jiwanya. Di kedalaman kegelapan, ia menemukan jalur kultivasi yang berbeda dari dunia Murim yang ia kenal. Tubuhnya terluka, namun qi kuno membangkitkan kekuatan yang bahkan ia sendiri belum memahami. Di sini, Hae-Rin belajar bahwa untuk bertahan hidup, ia harus menolak hukum Murim, menghadapi kegelapan, dan menempuh jalur yang akan mengubahnya menjadi sosok yang ditakuti dan dihormati. Perjalanan Hae-Rin adalah kisah balas dendam, kekuatan, dan transformasi, di mana ia harus menghadapi sekte, musuh iblis, dan misteri dunia kegelapan yang menantinya. Siapakah yang akan tetap hidup? Dan apakah seorang murid yang lahir dari kegelapan bisa menemukan jalannya di antara cahaya dan kegelapan?
VIEW MORE

Chapter 1 - Bab 1: Terkubur oleh yang Benar

Bab 1: Terkubur oleh yang Benar

Desa Wolseok tidak tercatat di peta Murim.

Desa itu terlalu kecil, terlalu miskin, dan terlalu tidak berarti untuk diingat oleh sekte-sekte yang berkuasa di dunia seni bela diri.

Jin Hae-Rin dulu percaya itu adalah sebuah berkah.

Ternyata dia salah.

"Bersihkan semuanya."

Perintah itu diucapkan dengan tenang, seolah sedang memesan teh.

Orang-orang berpakaian putih berdiri di pintu masuk desa, pedang mereka berkilau di bawah sinar matahari sore.

Emblem Sekte Heavenly Radiance dijahit dengan bangga di dada mereka—simbol keadilan yang dihormati di seluruh Murim.

Bagi para penduduk desa, itu menjadi hukuman mati.

Teriakan meledak.

Darah menyembur ke jalan tanah yang belum pernah mengenal kekerasan.

Rumah-rumah dibakar.

Orang tua terjatuh di tengah doa mereka.

Anak-anak dibungkam sebelum mereka bisa memahami rasa takut.

Hae-Rin berdiri terpaku, tubuhnya menolak bergerak saat ibunya jatuh di depannya.

Garis merah mekar di dadanya.

"Kenapa…?" bisiknya.

Ujung pedang menempel di tenggorokannya.

Seorang pria dengan mata dingin menatapnya.

"Desamu menyembunyikan sisa iblis," kata pria itu.

"Menurut hukum Murim, pemusnahan adalah bentuk belas kasihan."

Belas kasihan.

Hae-Rin tertawa lemah, air mata mengalir di wajahnya.

Mereka hanyalah petani.

Sebelum pedang itu jatuh, tanah di bawah kaki Hae-Rin retak.

Bumi runtuh.

Ia jatuh.

Kegelapan menelan seluruh tubuhnya.

Hae-Rin tidak mati.

Ia terbangun di tempat di mana bahkan gema pun takut bertahan.

Sebuah jurang luas membentang di bawah kakinya.

Dindingnya dipenuhi simbol kuno yang berdenyut lemah seperti detak jantung yang sekarat.

Di tengah gua duduk sebuah kerangka berjubah hitam.

Saat Hae-Rin mendekat, cahaya pucat menyala di rongga matanya yang kosong.

"Jadi," suara itu bergema di dalam pikirannya.

"Murim telah menyingkirkan satu lagi."

Hae-Rin terdiam, hanya bisa menatap.