WebNovels

Chapter 11 - Chapter 11

Malam di wilayah Veridia tidak pernah benar-benar gelap; langitnya berwarna ungu pekat yang menyakitkan mata, hasil dari polusi sihir hitam yang dipompa terus-menerus dari jantung kota. Di bawah bayang-bayang Menara Tulang yang baru saja bangkit dari tanah, suasana terasa mencekam. Bau belerang dan aroma "Saus Penyesalan" yang tadi kubuat bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang aneh.

"Rian! Lila!"

Suara Elena menggelegar menembus suara gemuruh reruntuhan dapur. Dia muncul dari balik pilar batu yang retak, tampak seperti dewi perang yang baru saja keluar dari tungku api. Namun, pemandangan itu tidaklah indah. Di pundaknya, Lady Seraphina terkulai lemas. Wajah sang putri pucat pasi, bibirnya membiru, dan tato mata merah di lehernya berpendar-pendar seolah-olah sedang menyedot sisa-sisa kehidupan dari tubuhnya.

"Ritualnya sudah melampaui titik balik!" teriak Elena sambil mendarat di samping kami. "Malphas tidak peduli lagi dengan patung kucing atau kejujurannya. Energi ketakutan dari para pengikutnya yang sedang panik karena efek bumbumu justru menjadi katalisator yang sempurna untuk membuka gerbang!"

Lila, yang jubahnya sudah robek di sana-sini, menunjuk ke arahku dengan tangan yang gemetar hebat. Suara cadelnya yang biasanya lucu kini terdengar penuh ketakutan murni. "Kak Elena! Jangan dekat-dekat! Kak Lian... dia... pancinya punya mata! Dan matanya sangat menyélapkan! Bau jiwanya belubah, Kak!"

Elena menghentikan langkahnya secara mendadak. Debu dari zirah peraknya berjatuhan saat dia menatapku. Matanya yang biru jernih kini berkilat dengan kecurigaan yang menyakitkan. Dia melihat panci hitam di tanganku—alat masak yang biasanya menjadi bahan candaan kami—kini berdenyut pelan seperti jantung yang hidup. Uap hitam keluar dari permukaannya, membentuk siluet tangan-tangan bayangan yang mencoba menggapai udara. Dan di dasar panci itu, sebuah mata merah besar terbuka, menatap Elena dengan rasa lapar yang tak terbayangkan.

[Peringatan Sistem!] [Sinkronisasi Demon Lord: 55%.] [Karakter Anda sedang mengalami 'Overwriting' oleh Data Iblis Kuno.] [Skill Pasif "Lord's Pressure" Aktif: Makhluk hidup di sekitar Anda merasakan dorongan untuk berlutut atau membantai Anda.]

"Rian," suara Elena rendah, jenis suara yang dia gunakan saat menghadapi naga atau monster tingkat bencana. "Apa yang terjadi di dalam sana? Katakan padaku bahwa ini hanyalah efek samping dari bumbu gachamu yang aneh itu."

"Aku... aku tidak tahu, Elena!" Aku berteriak, mencoba melepaskan panci itu dari tanganku, tapi gagangnya seolah-olah sudah menyatu dengan urat nadiku. "Rasanya seperti ada sesuatu yang menarikku dari dalam! Kepalaku sakit sekali!"

"Bohong," desis Elena. Ujung pedang raksasanya perlahan bergeser, dari menunjuk ke arah musuh menjadi menunjuk tepat ke jantungku. "Aura ini... kegelapan yang pekat ini... ini sama dengan monster yang membantai seluruh desaku sepuluh tahun lalu. Aku mengenalnya dengan sangat baik. Kau bukan koki dari dunia lain, Rian. Kau adalah 'Wadah' yang selama ini mereka tunggu. Kau adalah pemicu kiamat yang sedang menyamar."

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki kami berguncang hebat. Menara Tulang di pusat markas kultus tumbuh semakin tinggi, menembus awan ungu. Malphas berdiri di puncaknya, tertawa gila. Suaranya yang diperkuat sihir bergema ke seluruh penjuru Veridia.

"Bawa Wadah itu ke hadapanku! Korbankan Sang Putri Cahaya, dan biarkan kegelapan yang sejati lahir malam ini! Singkirkan siapa pun yang menghalangi, termasuk ksatria sombong itu!"

Dalam sekejap, kami dikepung. Ratusan pengikut kultus berjubah hitam bermunculan dari balik bayang-bayang. Namun yang paling mengerikan adalah para Abomination—makhluk setinggi tiga meter yang terbuat dari jalinan otot manusia, besi berkarat, dan sihir hitam. Mereka mengeluarkan suara mengerang yang menyayat hati.

"Kita terkepung," Seraphina berbisik dari pundak Elena. Air mata membasahi zirah Elena. "Elena... tolong, tinggalkan aku. Bawa Rian dan lari. Jika dia benar-benar Wadah itu, dunia tidak boleh membiarkan mereka mengambilnya. Tapi... jika dia berubah, kau tahu apa yang harus kau lakukan."

Elena berdiri tegak. Punggungnya yang lebar tampak tegang, menanggung beban dunia di atas pundaknya. Dia menghadapi dilema paling mematikan dalam hidupnya: Menjalankan sumpahnya sebagai ksatria untuk melindungi Seraphina, menjalankan tugas sucinya untuk membasmi bibit iblis (diriku), atau mencoba menyelamatkan kami semua yang tampak mustahil.

"Lila," Elena memerintah tanpa menoleh. "Ambil Lady Seraphina. Lari ke gerbang utara sejauh mungkin. Ada kereta kuda cadangan yang tersembunyi di bawah pohon ek besar. Jangan menoleh ke belakang, apa pun yang terjadi."

"Tapi Kak Elena— Kak Lian bagaimana?!"

"PERGI, LILA! SEKARANG!"

Lila menangis sesenggukan, tapi dia tahu dia tidak punya pilihan. Dia menyambar tangan Seraphina, melemparkan beberapa botol bom asap ke tanah, dan menghilang di balik tabir putih alkimianya.

Kini, di tengah lautan musuh yang mendekat, hanya tersisa aku dan Elena.

"Kenapa kau tidak ikut dengan mereka?" tanyaku dengan suara yang mulai berubah, menjadi lebih berat dan bergema.

"Karena tugasku adalah membasmi iblis," Elena berbalik sepenuhnya ke arahku. Matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam, tapi tangannya tidak bergetar. "Dan saat ini, iblis itu sedang berdiri di depanku, memegang panci gosong dan memakai wajah temanku."

Dia melesat maju. Bukan ke arah para pengikut kultus, tapi ke arahku.

CLANG!!!

Pedang raksasanya menghantam panciku. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan puluhan pengikut kultus di sekitar kami. Aku tidak menggunakan sihir pertahanan, tapi panci itu bergerak sendiri, menangkis serangan Elena dengan kekuatan yang luar biasa.

"Lawan aku, Rian! Tunjukkan wajah aslimu! Jangan bersembunyi di balik topeng koki bodohmu itu!" teriak Elena.

"Aku tidak ingin melawanmu, Elena! Aku hanya ingin hidup tenang!" Aku merasakan Corruption Meter di sudut mataku terus melonjak. 60%... 65%...

[Pilihan Terdeteksi!] [1. Embracing Darkness: Menjadi Demon Lord sejati. Kekuatan Anda akan cukup untuk menghancurkan seluruh Veridia, tapi Elena akan mati di tangan Anda.] [2. Fatal Neutralization: Gunakan 'Kecap Manis Takdir' pada diri sendiri. Efek kejujuran mutlak akan memaksa jiwa asli Anda untuk 'mengunci' data iblis, tapi akan menyebabkan kerusakan saraf permanen dan kelumpuhan.]

Aku melihat wajah Elena. Dia menangis. Dia siap membunuhku karena dia mencintai dunia ini, dan aku menyadari bahwa aku lebih suka mati sebagai manusia yang dicintai daripada hidup sebagai penguasa yang ditakuti.

Aku merogoh saku jaketku dengan tangan yang gemetar hebat, mengeluarkan botol kecil berisi cairan hitam pekat. "Kecap Manis Takdir," gumamku.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Elena sambil bersiap untuk serangan kedua.

"Elena," kataku dengan senyum terakhirku yang paling tulus. "Terima kasih sudah membawaku sejauh ini. Jika aku benar-benar berubah nanti... pastikan kau adalah orang yang memberikan bumbu terakhir pada kematianku. Jangan biarkan orang lain yang melakukannya."

Aku membuka tutup botol itu dan menenggaknya dalam satu tegukan besar.

Rasanya luar biasa manis—terlalu manis hingga setiap inci saraf di tubuhku terasa seperti tersiram asam. Otakku serasa meledak. Tiba-tiba, uap hitam yang tadi keluar dari panci tersedot kembali secara paksa ke dalam tubuhku. Mata merah di dasar panci menjerit dengan suara melengking yang hanya bisa kudengar, sebelum akhirnya tertutup rapat dan menjadi besi biasa kembali.

[Sinkronisasi ditekan paksa: 15%.] [Status: Paralyzed (Lumpuh Total) - Durasi 20 Menit.] [Jiwa Asli Anda berhasil mempertahankan kendali. Harga: Rasa sakit yang tak terbayangkan.]

Dunia menjadi gelap. Aku jatuh tersungkur di atas tanah yang dingin. Panci hitamku terlepas, berdenting beberapa kali di atas batu sebelum diam tak bergerak. Aku tidak bisa menggerakkan jari- diriku bahkan tidak bisa bernapas dengan benar. Rasa manis itu berubah menjadi rasa pahit yang membakar di tenggorokan.

Elena terpaku. Dia menurunkan pedangnya, melihatku yang kini hanya seorang pemuda malang dengan sisa kecap hitam di sudut bibirnya, gemetar kesakitan tanpa kekuatan apa pun. Kegelapan tadi hilang, menyisakan manusia paling menyedihkan di dunia.

"Kau... benar-benar orang bodoh yang nekat," bisik Elena. Suaranya pecah.

"Tangkap mereka! Bawa kepalanya jika perlu!" teriak Malphas yang mulai panik karena melihat sumber kekuatannya (diriku) justru melumpuhkan dirinya sendiri.

Elena menarik napas dalam. Dia melihat ratusan musuh yang mulai merangsek maju. Dia melihat menara yang mulai retak. Tanpa ragu, dia mengangkat tubuhku yang kaku, menyampirkannya di pundaknya seperti karung gandum, dan mengambil panciku dengan tangannya yang lain.

"Jangan berpikir macam-macam," gerutu Elena, meski air matanya masih mengalir. "Aku menyelamatkanmu hanya karena kau belum membayar ganti rugi atas zirahku yang kau rusak kemarin. Tetaplah hidup, Rian. Itu perintah dari komandanmu."

Dengan satu ayunan pedang yang membelah udara, Elena menciptakan jalur di tengah kepungan musuh. Dia berlari dengan kecepatan luar biasa, melompat melewati tembok-tembok kota yang runtuh.

Saat kami berada di udara, aku melihat ke belakang melalui kesadaranku yang mulai memudar. Malphas tidak mengejar. Dia tampak sibuk memunguti sesuatu dari lantai aula bawah... itu adalah botol Micin Explosive-ku yang terjatuh. Dia tampak sangat penasaran dengan "bubuk sihir" yang bisa membuat pengikutnya menangis tadi.

BOOOOOOOOOOMMMM!!!!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh Veridia. Cahaya putih menyilaukan melesat ke langit, meruntuhkan sebagian Menara Tulang. Bukan karena sihir suci, tapi karena Malphas baru saja mencoba membakar micin tingkat dewa itu dengan api sihirnya sendiri untuk "mempelajari" kekuatannya.

"Ehh... pait..." gumamku sebelum semuanya menjadi hitam.

Di kejauhan, Lila dan Seraphina melihat ledakan itu dari kereta kuda mereka.

More Chapters