WebNovels

Chapter 15 - Chapter 15

Setelah meninggalkan Desa Seruni yang kini telah berubah menjadi monumen roti terbesar dalam sejarah dunia Aethoria, kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Tujuannya adalah Kota Pelabuhan Portus Marina. Menurut peta krayon Lila, ini adalah satu-satunya tempat di mana kami bisa mendapatkan kapal untuk menyeberangi Laut Penyesalan menuju benua utara, tempat di mana "Segel Kedua" diperkirakan berada.

Namun, ada satu masalah kecil. Masalah yang sangat mendasar.

"Huekk..."

Aku berlutut di pinggir tebing yang menghadap ke laut, memuntahkan isi perutku (yang untungnya bukan roti). Kami bahkan belum menyentuh air. Kami masih berjarak lima kilometer dari garis pantai, tapi hanya dengan melihat hamparan air biru yang bergerak naik-turun di kejauhan saja sudah cukup untuk membuat sistem keseimbanganku mogok kerja.

"Menyedihkan," komentar Elena yang berdiri di sampingku sambil bersedekap. Angin laut menerpa rambut pirangnya, membuatnya terlihat seperti model iklan sampo prajurit, kontras sekali dengan aku yang terlihat seperti mayat hidup. "Rian, kita belum naik kapal. Kau mabuk laut hanya karena melihat air?"

"Ini... ini penyakit genetik, Nona," jawabku lemas. "Namanya Thalassophobia Visualis. Kakek buyutku pernah terpeleset di kamar mandi, dan trauma itu menurun padaku."

"Alasan macam apa itu?!"

Lila melompat-lompat girang di sekitarku. "Laut! Laut! Kak Lian, aku mau meledakkan ikan! Boleh ya? Boleh ya?"

"Jangan, Lila. Nanti kita didenda pecinta lingkungan," larangku sambil mengelap mulut.

Lady Seraphina, yang kini mengenakan tudung kepala lusuh untuk menutupi identitas bangsawannya, menatapku cemas. "Rian, jika kau selemah ini di darat, bagaimana kau bisa bertahan di atas kapal selama dua minggu?"

Itu pertanyaan bagus. Pertanyaan yang membuatku segera membuka menu Sistem.

"Sistem, tolong. Aku butuh obat anti-mabuk. Atau helikopter. Atau pintu kemana saja."

[Ding!] [Gacha Spesial: "Perlengkapan Kelautan" tersedia.] [Harga: 1 Tiket Gacha Biasa.] [Putar?]

"Putar! Cepat!"

Roda rolet virtual berputar.

[Ding! Selamat! Anda mendapatkan Item: "Kacamata Kuda Laut".] [Deskripsi: Kacamata kayu yang membatasi pandangan Anda hanya lurus ke depan. Dilengkapi dengan filter "Darat" yang mengubah persepsi otak, membuat ombak terlihat seperti hamparan rumput hijau yang tenang.] [Efek Samping: Anda akan merasa ingin makan rumput.]

Aku segera memakai kacamata aneh itu. Bentuknya konyol, seperti dua tabung kayu yang ditempel di mata. Tapi begitu kupakai... ajaib! Laut biru yang bergulung-gulung itu kini terlihat seperti padang golf yang luas dan diam. Rasa mualku hilang seketika.

"Wah! Rumputnya segar sekali!" seruku girang.

Elena menepuk jidatnya. "Terserahlah. Ayo jalan. Kita harus mencari kapal sebelum matahari terbenam."

Portus Marina adalah definisi dari kekacauan yang bau amis. Dermaganya penuh sesak dengan pelaut berotot yang memanggul tong berisi ikan, pedagang yang berteriak menawarkan kerang ajaib, dan burung camar yang agresif mencuri makanan dari tangan turis.

Kami berjalan menyusuri pasar ikan. Panci hitamku yang kusiapkan di pinggang bergetar pelan. Mata merah kecil di pantatnya terbuka sedikit, menatap tumpukan ikan tuna segar dengan penuh hasrat.

"Ssst, Panci. Tahan nafsumu. Kita tidak punya uang untuk beli tuna," bisikku.

Masalah utama kami bukan hanya uang (sisa harta dari dungeon sudah menipis karena Lila sering "tidak sengaja" meledakkan bahan eksperimennya yang mahal), tapi juga status kami. Wajah Elena dan Seraphina mungkin sudah disamarkan, tapi aura ksatria Elena sulit disembunyikan. Dan aku? Aku terlihat seperti orang gila yang memakai kacamata kayu.

Kami masuk ke sebuah kedai minum bernama "The Salty Kraken" untuk mencari informasi. Suasananya gelap, penuh asap rokok, dan bau alkohol murah.

Elena mendekati meja bar. "Kami butuh kapal ke Benua Utara. Segera."

Bartender, seorang pria gurita (benar-benar manusia setengah gurita) yang sedang mengelap gelas dengan tentakelnya, tertawa. "Ke Utara? Lewat Laut Penyesalan? Kau gila, Nona? Musim badai sedang dimulai. Tidak ada kapten waras yang mau berlayar ke sana. Kecuali..."

"Kecuali siapa?" desak Elena.

Bartender itu menunjuk ke sudut ruangan yang gelap. Di sana, duduk sesosok pria besar yang sedang menelungkupkan wajahnya di atas meja, dikelilingi tumpukan piring kosong.

"Kapten Barbarossa. Dia satu-satunya yang punya kapal cukup kuat, The Iron Belly. Tapi dia sedang... depresi."

"Depresi?" tanyaku, ikut nimbrung setelah menyesuaikan kacamata kudaku.

"Koki kapalnya baru saja kabur karena tidak tahan dengan omelan dia. Barbarossa itu pecinta kuliner. Dia tidak mau berlayar kalau tidak ada makanan enak. Dan standar lidahnya setinggi langit."

Aku dan Elena saling berpandangan. Senyum licik perlahan terbit di wajah Elena.

"Rian," katanya.

"Jangan bilang..."

"Dapur. Sekarang."

Aku diseret ke depan Kapten Barbarossa. Pria itu mengangkat kepalanya. Dia memiliki janggut merah lebat yang dikepang, satu mata tertutup penutup mata, dan... dia sedang menangis sambil memegang sendok.

"Hambar... semuanya hambar..." racau Barbarossa. "Sup ini rasanya seperti air cucian kaki goblin! Apa gunanya menaklukkan tujuh samudra jika lidahku tersiksa?!"

"Ehem," aku berdehem. "Permisi, Tuan Kapten. Saya dengar Anda butuh koki?"

Barbarossa menatapku dengan mata sisanya yang tajam. "Kau? Bocah kurus dengan kacamata aneh dan membawa... panci gosong? Jangan menghinaku. Koki terbaik di kota ini saja gagal memuaskanku!"

"Itu karena mereka masak pakai resep. Saya masak pakai jiwa... dan sedikit bantuan gacha," jawabku percaya diri. "Beri saya kesempatan. Jika masakan saya tidak enak, Anda boleh melempar saya ke laut."

"Dan jika enak?"

"Antar kami ke Benua Utara. Gratis."

Barbarossa menyeringai, memamerkan gigi emasnya. "Deal. Kau punya waktu 30 menit. Dapur ada di belakang. Bahan terserah kau cari di pasar."

Aku segera berlari keluar, diikuti Lila. "Lila, kita butuh bahan laut terbaik! Cepat!"

Kami kembali sepuluh menit kemudian dengan membawa seekor Cumi-Cumi Raksasa (bayi Kraken, sebenarnya) yang Lila temukan terdampar (atau mungkin dia ledakkan sampai pingsan) di pinggir pantai.

Aku masuk ke dapur kedai. Koki asli kedai itu mencoba mengusirku, tapi Elena "meyakinkan" dia dengan tatapan maut dan sedikit unjuk gigi pedang besarnya.

"Oke, Panci. Waktunya beraksi."

Aku meletakkan panci hitam di atas tungku api. Panci itu langsung memanas sendiri tanpa perlu api kayu bakar. Dia tahu. Dia tahu kita akan memasak sesuatu yang besar.

Aku memotong tentakel cumi-cumi itu dengan pisau dapur, lalu melemparkannya ke dalam panci. Srenggg!

Aroma laut yang kuat langsung memenuhi dapur.

"Bumbu... aku butuh bumbu yang nendang."

Aku membuka inventaris sistemku. Masih ada sisa "Bubuk Cabai Rawit Setan" dari pertarungan kemarin. Dan aku punya satu item lagi yang baru kudapatkan dari Daily Login pagi ini: "Saus Tiram Bawah Laut (Extra Umami)".

"Sistem, aktifkan Skill: Chaotic Stir-Fry!"

Aku mengaduk masakan itu dengan kecepatan tinggi. Panci hitamku ikut membantu, mengguncang dirinya sendiri agar bumbunya merata. Aura gelap sedikit bocor dari panci itu, meresap ke dalam daging cumi-cumi, memberikan tekstur yang kenyal tapi mematikan.

[Corruption Meter: 0.61% -> 0.62%] [Peringatan: Anda memasukkan sedikit energi kebencian ke dalam masakan. Efek samping: Makanan mungkin akan menggigit balik saat dimakan.]

"Ah, sedikit perlawanan menambah sensasi rasa," gumamku.

Dua puluh menit kemudian, aku keluar membawa piring besar berisi "Cumi-Cumi Saus Tiram Neraka". Warnanya merah gelap mengkilap, dengan aroma pedas gurih yang begitu kuat hingga membuat hidung para pelaut di kedai itu berkedut-kedut.

Aku meletakkannya di depan Barbarossa.

"Silakan, Kapten."

Barbarossa menatap hidangan itu. Dia mengambil garpu, menusuk sepotong tentakel. Tiba-tiba, potongan tentakel itu melilit garpunya.

"Oh? Makanan yang melawan?" Barbarossa tertawa. "Menarik!"

Dia memasukkan tentakel itu ke mulutnya, mengunyahnya dengan kuat.

Hening.

Wajah Barbarossa memerah. Matanya melotot. Keringat sebesar biji jagung mulai mengucur dari dahinya. Dia diam selama satu menit penuh.

"Kapten?" tanya anak buahnya cemas. "Anda keracunan?"

"BWAAAAAAHHH!!!" Barbarossa meraung. Bukan raungan marah, tapi raungan kepuasan. Api menyembur dari mulutnya (efek cabai setan).

"PEDAS! GURIH! KENYAL! RASANYA SEPERTI DITAMPAR OLEH DEWI LAUT!" teriaknya sambil menggebrak meja hingga hancur terbelah dua. "Ini... ini mahakarya! Rasa sakit dan kenikmatan yang menyatu! Aku bisa merasakan penderitaan cumi-cumi ini di lidahku!"

[Ding! Quest Selesai: Menaklukkan Lidah Kapten.] [Reputasi: Anda sekarang dikenal sebagai "Koki Neraka".]

"Kau diterima!" Barbarossa menunjukku. "Kita berangkat sekarang juga! Aku ingin kau memasak ini setiap hari!"

Namun, perayaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, lantai kedai bergetar. Dinding kayu di sebelah kiri kami meledak hancur.

KRAAAKK!

Sebuah tentakel raksasa kali ini yang asli, seukuran pohon kelapa masuk ke dalam kedai. Ujung tentakel itu mengibas-ngibas, mencari sumber aroma masakan.

"Apa itu?!" teriak Seraphina.

"Itu... ibunya!" teriak Lila. "Ibu cumi-cumi yang tadi kita masak!"

Ternyata, aroma Saus Tiram Bawah Laut (Extra Umami) begitu kuat hingga memanggil Kraken dewasa dari dasar laut.

Monster itu meraung dari luar dermaga. Mata raksasanya mengintip lewat lubang dinding, menatap piring di depan Barbarossa. Dia tidak mau membalas dendam anaknya; dia mau mencicipi masakannya!

"Dia mau makananku!" Barbarossa memeluk piringnya. "Tidak boleh! Ini milikku!"

"Kapten! Berikan saja! Itu Kraken Raksasa!" teriakku panik.

"TIDAK! Koki, lakukan sesuatu!"

Elena sudah mencabut pedangnya, menebas satu tentakel yang mencoba meraih piring. "Rian! Panci!"

Aku tidak punya pilihan. "Panci! Mode Makan Besar!"

Aku melemparkan panci hitamku ke arah Kraken itu. Panci itu melayang di udara. Ukurannya tiba-tiba membesar efek sisa Ragi Pengembang dari desa sebelumnya yang masih menempel sedikit. Panci itu menjadi seukuran mobil, mulutnya terbuka lebar (tunggu, sejak kapan panci punya mulut? Ah, lupakan logika).

Panci itu mendarat di atas salah satu tentakel Kraken dan menggigitnya.

CHOMP!

Kraken itu menjerit kaget. Dia menarik tentakelnya mundur, tapi Panci Raksasa itu tidak mau lepas. Panci itu justru mulai menyedot energi kehidupan Kraken itu, mengubahnya menjadi... kaldu?

[Panci Experience +500.] [Menu Baru Terbuka: Kaldu Kraken Instan.]

Kraken itu, yang merasa bahwa lawan di darat ini terlalu aneh dan tidak masuk akal, akhirnya memutuskan untuk mundur. Dia melepaskan tentakel yang digigit panci (seperti cicak memutus ekor) dan kabur kembali ke laut dalam.

Panci itu menyusut kembali ke ukuran normal dan jatuh ke tanganku. Isinya sekarang penuh dengan sup kental berwarna ungu yang berbau sangat enak.

Hening lagi di kedai itu. Semua orang menatapku, lalu menatap panci, lalu menatap tentakel putus yang masih bergerak-gerak di lantai.

Barbarossa berdiri, bertepuk tangan perlahan. "Kau... memasak monster itu hidup-hidup? Kau benar-benar Koki Neraka."

Aku hanya bisa tersenyum canggung. "Itu... teknik molecular gastronomy, Kapten."

"Bagus! Semua naik ke kapal! Kita berangkat ke Utara!" perintah Barbarossa. "Dan Rian, malam ini menunya adalah Sup Tentakel Ungu!"

Saat kami berjalan menuju dermaga, aku merasakan pandangan Seraphina. Dia tidak menatapku dengan takut lagi, tapi dengan tatapan bingung yang sangat dalam.

"Rian," bisiknya. "Pancimu barusan... membesar dan punya gigi?"

"Itu ilusi optik, Lady. Efek kacamata kuda," elakku.

Tapi aku tahu, Panci ini semakin berbahaya. Dia bukan lagi sekadar pelindung. Dia adalah predator. Dan aku, tuannya, harus memberinya makan sebelum dia memutuskan untuk memakan orang lain.

Kami naik ke kapal The Iron Belly, sebuah kapal besi hitam yang tampak garang. Saat kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan, aku melihat ke belakang. Kacamata kudaku membuat ombak terlihat seperti padang rumput, jadi aku tidak muntah.

Tapi di kejauhan, di atas menara mercusuar pelabuhan, aku melihat sosok berjubah hitam berdiri. Bukan Malphas. Sosok itu memegang sebuah buku catatan, dan dia sedang mencoret sesuatu.

[Log Sistem: Subjek Rian berhasil meninggalkan Zona 1. Memulai Inisialisasi Zona 2: Lautan Badai.] [Difficulty: Hardcore.]

"Perjalanan laut," gumamku sambil memeluk panci yang kekenyangan. "Semoga tidak ada gunung es."

More Chapters