Bab 8: Gema Sang Dewi
Aroma tanah basah dan gandum yang baru dipangkas seharusnya menenangkan, namun bagi Paris, bau itu justru terasa menyesakkan.
Di luar jendela rumah desa, hamparan hijau zamrud membentang sejauh mata memandang, sebuah anomali di tengah dunia yang seharusnya gersang.
Mukjizat Demeter telah mengubah wajah desa dalam semalam, namun setiap helai daun yang tumbuh seolah menjadi beban baru di pundaknya.
Paris memalingkan wajah dari jendela, mencoba menghindari pemandangan ribuan warga yang berkumpul di alun-alun bawah.
Bahkan dari ketinggian ini, dia bisa mendengar gema nyanyian mereka. Namanya diteriakkan, bukan lagi sebagai seorang teknisi atau penyintas, melainkan sebagai wadah suci.
"Kita terlihat seperti orang yang baru saja memenangkan taruhan tapi kehilangan tiketnya di saluran pembuangan," sebuah suara berat memecah keheningan.
Pangeran Paris menoleh. Alexander berdiri di dekatnya, menyandarkan bahu lebarnya pada bingkai baja.
Pria itu tampak tenang, namun ada kilatan tajam di matanya yang selalu membuat Pangeran Paris merasa sedang dipreteli selapis demi selapis.
Mereka membangun kuil, Alexander, bisik Pangeran Paris, suaranya parau. Mereka berlutut di depan gerbang setiap desa. Kita hanya... kita hanya meminta Demeter. Dan aku tidak meminta mereka menyembahku layaknya utusan sang Dewi Kesuburan, perasaan ini sama seperti saat yang kubayangkan jika kita kembali sebagai pangeran Troya.
Alexander terkekeh, suara yang dingin dan tanpa humor. Ia berjalan mendekat, langkah seolah bergema di dalam kepala Paris. Manusia butuh sesuatu untuk dipercaya saat perut mereka lapar, Pangeran. Sekarang perut mereka kenyang, dan mereka butuh seseorang untuk disalahkan jika besok mereka lapar lagi. Pemujaan adalah sisi lain dari ketakutan.
Sebelum Pangeran Paris sempat membalas, pintu otomatis di ujung ruangan berdesis terbuka. Direktur Utama melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator. Jubah abu-abunya menyapu lantai, dan wajahnya yang tampak seperti tertutup.
"Selamat, Pangeran," kata Direktur Utama tanpa menoleh padanya, matanya tertuju pada kumpulan warga desa. "Produktivitas meningkat empat ratus persen. Stabilitas sosial berada pada titik tertinggi dalam satu dekade."
Terima kasih, Direktur, jawab Pangeran Paris kaku. Tapi warga... mereka mulai bertindak ekstrem. Ada sekte yang terbentuk. Mereka menyebut ini sebagai 'Sentuhan Sang Dewi'. Bukankah kita harus mengklarifikasi bahwa ini adalah pemujaan berlebih?
Direktur Utama berbalik, memunggungi mereka berdua. Cahaya matahari buatan memantul dari dalam lautan kesadaran Paris. Klarifikasi adalah racun bagi efisiensi, Paris. Mengapa aku harus menghancurkan sebuah alat kontrol yang bekerja begitu sempurna? Mereka adalah aset yang berharga...
Paris mengerutkan kening. Alat kontrol? Ini tentang memberi makan orang-orang.
Direktur Utama berbalik perlahan. Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di bibirnya yang pucat. Keajaiban, Pangeran, adalah istilah yang kita berikan pada teknologi yang tidak dipahami massa. Jika mereka pikir ini adalah keajaiban dewi, mereka akan mempertanyakannya. Mereka akan meminta transparansi, audit, dan distribusi yang adil. Tapi jika mereka percaya ini adalah kehendak dewi yang bekerja melalui tanganmu... mereka hanya akan bersyukur. Mereka akan patuh karena takut berkat itu dicabut.
Paris merasakan dingin yang menjalar di punggungnya. Ia melirik Alexander, berharap menemukan jejak keberatan di wajah pria itu, namun Alexander hanya menatap Direktur Utama dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mulai hari ini, kata Direktur Utama, setiap distribusi pangan akan disertai dengan ritual. Kita tidak perlu melakukan banyak hal, Pangeran. Cukup hadir. Biarkan mereka melihat 'Sang Dewi' dalam diri kita. Alexander akan membantumu memahami sisa peranmu.
Satu jam kemudian, Paris berada di ruang simulasi bawah tanah, jauh dari kerumunan pemuja di permukaan.
Ruangan itu luas, dingin, dan berbau ozon. Di tengah ruangan, sebuah pilar logam berdiri tegak, dikelilingi oleh sensor-sensor yang berkedip merah.
Alexander berdiri di depan panel kendali. Lupakan soal perkataan Direktur yang penuh ambigu untuk sejenak. Jika kita ingin bertahan dari beban ini, kau harus menguasai apa yang ada di dalam diri kita sebelum itu menghancurkan kita.
Paris menatap telapak tangannya sendiri. Masih ada jejak cahaya hijau yang berpendar samar di bawah kulitnya, sisa-sisa energi Demeter. Aku tidak tahu cara mengendalikannya. Kemarin itu terjadi begitu saja karena aku takut.
Itu masalahnya, Alexander melangkah ke dalam lingkaran lautan kesadaran. Kau menggunakan emosi sebagai pemicu. Demeter adalah penciptaan, pertumbuhan, kelimpahan. Tapi alam semesta tidak hanya berisi pertumbuhan. Untuk memberi ruang bagi hutan yang baru, kau harus membakar semak belukar yang lama. Penciptaan tanpa kehancuran hanyalah penyakit yang tidak diketahui. Dan saat itu akulah yang sedang mengendalikan tubuh kita...
Apa hubungannya denganku?
Pegang pilar itu, perintah Alexander.
Pangeran Paris ragu-ragu, lalu melangkah maju dan meletakkan tangannya pada permukaan logam yang dingin.
Sekarang, panggil energi itu. Bayangkan gandum yang kau tumbuhkan kemarin.
Paris memejamkan mata. Ia memanggil memori tentang tunas-tunas hijau yang merobek tanah, tentang vitalitas yang meluap-luap. Dalam hitungan detik, panas mulai mengalir dari dadanya ke lengannya.
Tanaman merambat yang terbuat dari cahaya hijau mulai menjalar keluar dari jari-jarinya, membelit pilar logam tersebut. Tanaman itu tumbuh dengan liar, tak terkendali, hingga memenuhi separuh ruangan.
Cukup!" teriak Alexander.
Pangeran Paris mencoba menarik tangannya, tapi tanaman itu seolah menyedot energinya. Nafasnya mulai tersengal. Ruangan itu terasa terlalu sempit, penuh dengan kehidupan yang mencekik.
Tiba-tiba, Alexander bergerak, ia mengambil alih tubuh. Dengan satu gerakan cepat, ia menghantamkan telapak tangannya ke lantai.
Gelombang kejut berwarna abu-abu gelap merambat cepat, menghantam tanaman cahaya milik Pangeran Paris. Dalam sekejap, tanaman itu layu, berubah menjadi abu, dan menghilang ke udara.
Paris terjatuh berlutut, terengah-engah. Keringat dingin membanjiri wajahnya, karena pergantian kendali yang begitu cepat.
Itu adalah kehancuran, kata Alexander pelan, berdiri di atasnya. Aku adalah penyeimbangmu, Pangeran. Jika kau terus tumbuh tanpa batas, kau akan mengonsumsi dirimu sendiri. Kau harus belajar kapan harus berhenti, kapan harus mematikan apa yang kau ciptakan.
Paris menatap abu yang tersisa di lantai. Kau bisa membunuh apa pun yang kubuat?
Bukan membunuh, koreksi Alexander, mengulurkan tangan untuk membantu Pangeran Paris berdiri. Menyelesaikan siklusnya. Direktur Utama ingin menggunakan 'penciptaanmu' untuk membuai rakyat. Tapi dia lupa bahwa penguasa yang paling ditakuti bukan hanya dia yang bisa memberi makan, tapi dia yang bisa mengambilnya kembali.
Direktur Utama berdiri diam menatap keduanya, eksperesinya tidak terlihat karena wajahnya tidak bisa
Pangeran Paris menerima uluran tangan Alexander. Genggaman pria itu keras dan kasar, berbanding terbalik dengan kelembutan energi Demeter yang ia rasakan.
Kau ingin aku menjadi ancaman juga? tanya Pangeran Paris lirih.
Alexander menatap langsung ke mata Paris, dan untuk pertama kalinya, Paris melihat kilasan empati di sana, atau mungkin itu hanya pantulan dari keraguannya sendiri. Aku ingin kau menjadi nyata, Paris. Bukan dewi plastik yang dipajang Direktur di sebuah dinding rumah. Jika kau hanya menjadi simbol cahaya, mereka akan buta. Kau harus memiliki bayangan agar mereka bisa melihatmu seutuhnya.
Alexander berbalik, matanya tertuju pada sosok yang tidak bisa ia lihat wajahnya.
Malam itu, Paris tidak bisa tidur. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong sepi di sektor kediaman desa. Di setiap sudut, ia melihat simbol-simbol baru yang digambar warga dengan kapur atau cat, sebuah lingkaran dengan bulir gandum di tengahnya. Simbolnya.
Ia sampai di sebuah balkon yang menghadap ke arah Sektor Bawah, pemukiman padat penduduk yang selama ini terabaikan. Dari sana, ia bisa melihat api unggun kecil dinyalakan di lorong-lorong sempit. Orang-orang menari, merayakan "mukjizat" yang telah ia berikan.
Namun, di balik kegembiraan itu, Paris melihat sesuatu yang lain. Ia melihat penjaga keamanan yang berdiri lebih tegak, lebih angkuh. Ia melihat bagaimana jatah makanan kini dibagikan dengan syarat: kehadiran di doa bersama, kesetiaan pada administrasi pusat, dan laporan tentang.
"ketidakharmonisan" di lingkungan sekitar. "Alat kontrol," bisik Paris pada angin malam.
Kata-kata Direktur Utama bergema seperti lonceng kematian di telinganya. Setiap roti yang ia tumbuhkan adalah rantai yang membelit leher warga. Setiap keajaiban adalah dinding yang memisahkan mereka dari kebenaran.
Jangan mengatakan apa yang tidak kau pahami, Pangeran... kata Direktur Utama.
Diamlah, manusia dunia lain... ketus Pangeran Paris.
Paris mengangkat tangannya, mencoba memanggil setitik cahaya hijau. Cahaya itu muncul, menari-nari di ujung jarinya dengan lembut.
Sangat indah, sangat murni. Namun, saat ia mengingat instruksi Alexander, ia mencoba membayangkan cahaya itu memudar, mendingin, dan akhirnya padam dengan sengaja.
Dibutuhkan usaha yang jauh lebih besar untuk memadamkan kekuatan itu daripada menyalakannya.
Tenanglah, Pangeran. Kami selalu ada di sini...ujar Alexander.
Dadanya terasa sesak, seolah jantungnya menolak untuk melepaskan energi tersebut. Namun, Paris bertahan. Ia memvisualisasikan musim gugur, dedaunan yang rontok, dan tanah yang beristirahat di bawah salju.
Pelan-pelan, pendar hijau itu meredup menjadi abu-abu, lalu menghilang sepenuhnya tanpa meninggalkan sisa.
Paris mengepalkan tinjunya. Keheningan yang mengikuti terasa lebih kuat daripada sorak-sorai di bawah sana. Ia mulai mengerti.
Kekuatan Demeter bukan hanya tentang memberi kehidupan, tapi tentang tanggung jawab atas kehidupan tersebut, termasuk keberanian untuk membiarkannya berakhir jika itu berarti menjaga kebebasan.
Gema sang dewi mungkin masih bergaung di telinga orang-orang, tapi di dalam kegelapan balkon itu, Paris berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan menjadi alat siapa pun. Ia akan belajar menari di antara penciptaan dan kehancuran, di antara cahaya yang membuai dan kegelapan yang membebaskan.
Alexander benar. Manusia butuh sesuatu untuk dipercaya. Tapi Paris akan memastikan bahwa apa yang mereka percayai bukan sekadar keajaiban kosong, melainkan kehendak yang memiliki taring.
Langkah kaki terdengar di belakangnya. Paris tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma ozon dan debu logam yang samar selalu mengikuti pria itu.
Kau belajar dengan cepat, kata Alexander, berdiri di sampingnya menatap kota yang berkelap-kelip.
Aku tidak punya pilihan lain, jawab Pangeran Paris datar. Jika aku harus menjadi dewi bagi mereka, maka aku akan menjadi dewi yang menuntut kejujuran, bukan sekadar kepatuhan.
Dewi? Kau perempuan, Pangeran... tawa Direktur Utama menggetarkan lautan kesadaran Paris.
Tidak... bukan begitu... Pangeran Paris memalingkan wajah dari Alexander dan Direktur Utama.
Alexander tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang hampir terlihat seperti rasa hormat. Kalau begitu, bersiaplah, Pangeran. Karena besok, mereka akan meminta mukjizat lagi. Dan kali ini, Direktur ingin kau memberikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar gandum.
Hei, jangan memfitnahku, Alexander... kata Direktur Utama.
Maaf... mata Alexander tidak berani menatap Direktur Utama.
Paris menatap cakrawala buatan di kejauhan, di mana matahari mulai terbit dari balik dinding-dinding baja. Biarkan mereka meminta. Aku akan memberikan apa yang mereka butuhkan, bukan apa yang mereka inginkan.
Gema itu tidak lagi terasa seperti beban. Kini, itu terdengar seperti genderang perang yang mulai ditabuh jauh di dalam jiwanya.
Bersambung.
