Bab 10
Angin utara menderu di celah-celah tebing granit, membawa serpihan es yang terasa seperti sayatan belati kecil di pipi Paris.
Anak Agelaus itu merapatkan jubah wolnya yang kini telah compang-camping, warnanya yang dulu merah kirmizi kini memudar menjadi abu-abu kotor karena debu dan lumpur.
Napasnya keluar dalam kepulan uap putih yang cepat menghilang, melambangkan betapa rapuhnya keberadaannya di tempat liar ini.
Langkahmu melambat, Pangeran. Detak jantungmu meningkat 20 persen di atas batas normal untuk pendakian intensitas menengah. Kau membuang energi secara tidak efisien, kata Direktur Utama bergema di dalam rongga kepalanya, setajam es yang menyelimuti lereng tersebut.
Paris mendengus, kakinya gemetar saat ia memijak batu yang licin. Mudah bagimu bicara, Manusia Dunia Lain. Kau tidak punya kaki yang harus menahan beban tubuh, atau paru-paru yang terasa seolah terbakar setiap kali aku menghirup udara terkutuk ini.
Kau ini memang lupa atau terlalu larut dalam impianmu kembali ke istana Troya? Kata Direktur Utama, Aku juga merasakan apa yang kau rasakan, jadi jangan playing victim di sini.
Flaying piktim? Kata apalagi itu... senggak Pangeran Paris.
Sabar, Pangeran, suara Alexander menyela, lebih lembut namun sarat dengan kelelahan yang sama. Kita sudah hampir sampai. Aku bisa merasakannya. Ada sesuatu yang... tenang di depan sana. Sesuatu yang sangat tua.
Tenang atau mati itu bedanya tipis di gunung ini, gumam Paris ketus.
Maaf... Alexander menundukan kepala.
Setelah melewati tikungan tajam di bawah bayangan tebing yang menjorok, medan mulai mendatar.
Di hadapan mereka, terselip di antara dua puncak gunung yang menyerupai tanduk raksasa, berdirilah sebuah struktur yang seolah-olah ditumbuhkan dari perut bumi, bukan dibangun oleh tangan manusia.
Itu adalah sebuah kuil. Namun, tidak ada pilar-pilar marmer putih yang megah seperti kuil Apollo di Troya, atau ukiran-ukiran emas yang memuja keagungan Zeus.
Bangunan ini terbuat dari batu basal hitam yang kasar, monolitik, dan tanpa nama. Tidak ada patung dewa di gerbangnya, tidak ada prasasti yang menyambut peziarah. Hanya ada keheningan yang begitu pekat hingga Paris merasa telinganya berdenging.
Kuil apa ini? tanya Pangeran Paris, matanya menyipit menatap fasad bangunan yang suram itu.
Data tidak ditemukan dalam catatan sejarah umum, kata Direktur Utama. Ini adalah variabel yang terhapus. Arsitekturnya berasal dari era Pra-Olimpus, mungkin zaman para Titan. Ini adalah titik buta dalam narasi sejarah yang seharusnya.
Paris melangkah maju, melewati ambang pintu tanpa daun pintu. Begitu ia masuk, suhu udara mendadak berubah. Angin kencang yang menderu di luar lenyap, digantikan oleh keheningan mutlak yang mencekam.
Aroma di dalam sana bukan bau dupa atau bunga persembahan, melainkan aroma tanah yang sangat tua, bau debu bintang, dan sesuatu yang menyerupai bau logam setelah disambar petir.
Cahaya matahari yang redup masuk melalui lubang-lubang di atap yang runtuh, menciptakan garis-garis cahaya yang memotong kegelapan seperti pedang.
Di tengah ruangan luas itu, terdapat sebuah meja batu panjang yang dikelilingi oleh kursi-kursi besar yang kosong. Semuanya tampak seolah-olah ditinggalkan dalam sekejap, ribuan tahun yang lalu.
Lihat itu, bisik Alexander.
Paris berjalan menuju meja batu tersebut. Di permukaannya yang berdebu, terdapat ukiran-ukiran yang bergerak. Bukan, bukan ukiran. Itu adalah pola cahaya yang berpendar lemah di bawah lapisan debu setebal satu inci.
Paris menyapukan tangannya, membersihkan debu tersebut. Tindakannya itu memicu reaksi. Garis-garis cahaya itu menyala lebih terang, membentuk sebuah peta bintang yang aneh.
Biarkan aku menganalisis sebentar, kata Direktur Utama terdengar lebih intens. Ini adalah konstelasi kuno. Peta ini menunjukkan lokasi energetik, bukan geografis. Di sinilah Artefak yang dimaksud Themis mungkin disembunyikan. Namun, data ini terkunci di balik protokol keamanan berbasis kesadaran.
Maksudmu apa? Pangeran Paris bertanya, merasa gelisah.
Rasakan ini... kata Direktur Utama sambil menyentuh gagang Justice.
Alexander mengangguk, Aku merasakannya, Direktur.
Artinya, untuk melihat tujuannya, ketiga subjek di dalam raga ini harus mencapai sinkronisasi 80 persen. Kita harus berdiri di depan altar di ujung ruangan itu dan menyatukan visi, kata Direktur Utama.
Paris menatap ke ujung aula. Di sana berdiri sebuah altar yang sederhana, namun di atasnya melayang sebuah bola cahaya redup yang berdenyut seperti jantung yang sekarat.
Dengan langkah berat, Paris berjalan menuju altar. Setiap langkah terasa semakin berat, seolah-olah gravitasi di tempat itu menarik jiwanya, bukan tubuhnya.
Di depan altar, ia berhenti.
Apa yang harus kita lakukan? Tanya Pangeran Paris.
Coba letakkan tanganmu di atas altar, Paris, kata Alexander.
Jangan takut. Kita melakukannya bersama-sama.
Paris menempelkan telapak tangannya pada permukaan batu yang dingin.
Seketika, dunianya meledak.
Ia tidak lagi berada di kuil. Ia berada di sebuah ruang hampa yang luas. Di depannya, ia melihat dirinya sendiri, atau setidaknya, pantulan jiwanya.
Namun, ia tidak sendiri. Di sisi kanannya, berdiri Alexander, seorang pemuda gembala dengan wajah penuh belas kasih namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Di sisi kirinya, berdiri seseorang yang tidak memiliki wajah yang jelas, Direktur Utama.
Ujian Sinkronisasi kita sepertinya dimulai, suara Direktur Utama bergema tanpa melalui telinga. Kita harus mengatakan tujuan yang menentukan alasan pencarian artefak ilahi. Jika motivasi kita saling bertolak belakang, kita tidak akan mendapat RoI.
"Aku mencarinya karena Themis memerintahkanku! Aku ingin takdir sialan ini berhenti menghancurkanku!" Teriak Paris yang dikendalikan oleh Pangeran Paris, suaranya bergema di ruang hampa.
"Aku mencarinya untuk menyelamatkan mereka," sahut Alexander lembut yang kini mengendalikan tubuh Paris. "Ayah Agelaus, Ibu Thalia, rakyat yang tidak berdosa... aku tidak ingin melihat dunia hancur hanya karena ego para dewa."
"Aku mencarinya untuk menyelesaikan misi dari Dewi Keadilan," kata Direktur Utama datar. "Dunia ini sedang mengalami 'loss' data yang masif. Tanpa artefak ilahi, variabel-variabel ini akan saling berbenturan dan menyebabkan penghapusan total pada garis waktu ini."
Ketiganya saling berhadapan. Ego seorang pangeran yang ingin lepas dari beban, kasih sayang seorang anak yang ingin melindungi keluarganya, dan logika dingin sebuah entitas yang ingin menyelamatkan realitas.
Tekanan di dalam ruang hampa itu meningkat. Paris merasa seolah kepalanya akan pecah. Ia melihat kilasan masa depan, Troya yang terbakar, jeritan wanita, dan dirinya sendiri yang berdiri dengan busur di tangan, memandang kematian seorang pahlawan besar.
"Cukup!" teriak Paris. "Kalian bicara tentang stabilitas dan keselamatan orang lain... tapi bagaimana denganku? Aku yang harus memikul semua ini! Aku yang harus merasakan lelahnya, sakitnya, dan kebencian dunia!"
Pangeran, kau tidak memikulnya sendiri, Alexander mendekat, meletakkan tangan di bahu Paris yang bersifat ruhani. Kita adalah satu sekarang. Jika kau jatuh, aku jatuh. Jika kau menderita, aku merasakannya.
Mulai... dari tadi playing victim terus, Pangeran, kata Direktur Utama.
"Penderitaan adalah variabel yang bisa dikelola jika tujuannya jelas," Direktur Utama menambahkan, siluet birunya berpendar lebih tenang. "Kita semua menginginkan kebebasan dari takdir, Pangeran. Artefak ilahi adalah satu-satunya alat yang bisa menimbang ulang takdir kita. Tanpanya, kita hanyalah pion yang akan habis dimakan zaman."
Pangeran Paris menatap kedua entitas itu. Ia menyadari sesuatu yang pahit. Ia tidak bisa lari. Ia tidak bisa hanya menjadi penonton dalam tubuhnya sendiri.
Pangeran Paris merasa ketakutan untuk pertama kalinya melihat sosok tanpa wajah yang jelas itu mulai menyalahkannya.
Kenapa kau menatapku begitu? Kau memiliki mental lemah untuk seseorang yang ingin menjadi Pangeran Troya... kata Direktur Utama.
Kata-kata itu membuat Pangeran Paris menunduk.
"Baiklah," Paris menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai di dadanya. "Kita punya tujuan yang berbeda, tapi jalannya sama. Kita butuh timbangan itu. Aku untuk kebebasanku, Alexander untuk keselamatannya, dan kau... untuk keteraturanmu."
Begitu kata-kata itu terucap, tekanan di ruang hampa itu luruh. Siluet ketiganya mulai memudar dan menyatu kembali.
Paris tersentak kembali ke dunia nyata.
Tangannya masih menempel di altar batu di dalam kuil tanpa nama. Bola cahaya di depannya kini meledak menjadi ribuan titik cahaya kecil yang membentuk sebuah rute yang jelas di udara, menembus dinding kuil dan mengarah jauh ke utara, ke tempat di mana langit selalu berwarna kelabu.
Sinkronisasi kita berhasil mencapai 82 persen, Direktur Utama melaporkan. Lokasi artefak terkonfirmasi. Ia berada di 'Lembah Tanpa Gema', di balik hutan yang membusuk.
Paris menarik tangannya dari altar, tubuhnya terasa lemas dan ia jatuh terduduk di lantai kuil yang berdebu. Napasnya memburu. Ia merasa lebih tua dari usianya yang sebenarnya.
"Jadi, itu dia jawabannya," gumam Paris, menatap titik-titik cahaya yang mulai memudar.
Kau melakukannya dengan baik, Pangeran, puji Alexander. Kita mendapatkan petunjuknya.
Paris menatap ke sekeliling kuil yang sunyi itu sekali lagi. Ia melihat kursi-kursi besar yang kosong itu dan membayangkan para Titan yang dulu duduk di sana, mendiskusikan hukum-hukum alam sebelum para dewa Olimpus merebut semuanya dengan petir dan darah.
"Tempat ini... apa yang terjadi pada mereka? Para pemilik kuil ini?" tanya Paris.
Mereka adalah Keadilan yang Terlupakan, kata Direktur Utama. Themis adalah salah satu yang tersisa. Sisanya telah menjadi bagian dari tanah dan bintang karena mereka menolak untuk beradaptasi dengan kekacauan manusia. Ingat ini, kalian berdua, keadilan tanpa kekuatan adalah kelemahan, tapi kekuatan tanpa keadilan adalah kehancuran.
Aku mengerti, Direktur, jawab Alexander.
Paris bangkit berdiri, menyeka debu dari lututnya. Kalimat itu terasa seperti kutukan sekaligus peringatan. Ia berjalan keluar dari kuil, kembali ke udara dingin yang menusuk tulang.
Di luar, badai salju telah reda, namun langit tetap terlihat mengancam. Peta cahaya tadi masih membekas di ingatannya, sebuah jalur yang akan membawanya melewati penderitaan yang lebih besar.
"Ke utara, kalau begitu," kata Paris pada dirinya sendiri, atau pada kedua jiwa yang mendengarkannya.
Ke utara, jawab Alexander dengan tekad.
Rute optimal telah dihitung. Kita harus bergerak sekarang sebelum variabel cuaca memburuk, kata Direktur Utama.
Paris mulai melangkah, meninggalkan kuil tanpa nama yang kembali tenggelam dalam keheningan abadi. Ia tahu bahwa mulai saat ini, setiap keputusan yang ia buat tidak akan pernah sesederhana hitam dan putih lagi.
Pedang Justice yang tergantung di pinggangnya, yang saat ini masih terasa tumpul dan beratz seolah-olah mulai menyesuaikan beratnya dengan jiwanya yang kini telah sedikit berubah.
Di kejauhan, di antara puncak-puncak gunung yang diselimuti kabut, ia melihat bayangan hutan yang gelap. Hutan yang di dalam peta cahaya tadi terlihat seperti noda hitam yang meluas. Itulah tujuannya berikutnya.
Perjalanan mencari artefak ilahi baru saja dimulai, dan Paris menyadari bahwa musuh terbesarnya mungkin bukan monster atau dewa, melainkan retakan-retakan di dalam dirinya sendiri yang mulai terbuka sejak ia menginjakkan kaki di kuil kuno ini.
"Themis... jika kau mendengarku," bisik Paris ke arah angin. "Kuharap timbanganmu benar-benar bisa menimbang beratnya rasa sakit ini."
Tidak ada jawaban dari langit, hanya suara kerikil yang bergeser di bawah bot kasarnya saat ia terus mendaki ke arah kegelapan yang menanti.
Di dalam kepalanya, Direktur Utama mulai menghitung logistik perjalanan, sementara Alexander mulai menyanyikan sebuah himne kuno tentang harapan, sebuah harmoni aneh yang kini menjadi melodi kehidupan Paris yang baru.
Bersambung.
