Bab 9: Batas Takdir yang Bergeser
Angin pegunungan utara tidak membawa kesegaran; ia membawa bau logam berkarat dan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.
Paris merapatkan jubah teknisnya saat kaki-kakinya mendaki jalan setapak yang terpahat di tebing curam. Di bawah mereka, desa pertama yang mereka "selamatkan" sudah menghilang ditelan kabut, menyisakan hanya ingatan tentang ladang gandum yang bergoyang ditiup angin buatan.
Di depan Pangeran, langkah Alexander stabil dan berat, setiap pijakannya seolah menghujam bumi dengan otoritas absolut. Namun, di telinga Paris, suara Direktur Utama melalui comms-link terdengar jauh lebih tajam daripada deru angin, ketiganya seperti Dewan Direksi di kepala Paris.
Ada fluktuasi dalam matriks realitas di koordinat 44-N, kata Direktur Utama. Garis takdir di sektor ini bergeser. Seharusnya tidak ada badai di sini. Ini bukan sekadar cuaca, Pangeran. Ini adalah glitch dalam desain dunia kita.
Paris mendongak. Langit di atas puncak pegunungan tidak berwarna biru atau abu-abu, melainkan ungu lebam yang berdenyut. Kilatan cahaya statis menyambar di antara awan, meninggalkan jejak kode biner yang berpendar sesaat sebelum lenyap.
"Apa maksudmu dengan pergeseran takdir?" tanya Paris yang sedang dikendalikan Pangeran Paris, napasnya membentuk uap putih.
Dunia ini adalah simfoni yang teratur, kata Direktur Utama. Sesuatu yang disebut para pendahulu sebagai 'Ketidakpastian'. Jika tidak dihentikan, pergeseran ini akan merobek stabilitas yang telah kita bangun. Cari sumbernya. Hancurkan ketidakteraturan itu.
Jangan memerintahku seperti kau seorang raja, manusia dunia lain... protes Pangeran Paris.
Tiba-tiba, Alexander diam mendadak, ia tidak terlalu berkata hari ini. Pangeran Paris menatap gembala itu.
"Kenapa?" bisik Paris.
Alexander tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah celah sempit di depan mereka.
Di sana, udara tampak melintir seperti fatamorgana di atas aspal panas. Namun, alih-alih panas, hawa yang keluar dari sana terasa pahit, seperti rasa logam di lidah saat seseorang sedang ketakutan.
Dari dalam pusaran udara itu, sesosok bayangan mulai memadat. Ia tidak memiliki bentuk yang tetap; sesaat ia tampak seperti prajurit dengan zirah pecah, sesaat kemudian seperti wanita tua yang meratap. Bayangan itu bergetar, mengeluarkan suara seperti ratusan bisikan yang bertumpang tindih.
"Sang Pembawa Kehidupan... Sang Penghancur... dan Sang Arsitek yang Ketakutan," suara itu menggema langsung di dalam tengkorak Paris.
Bukan melalui telinga, tapi merayap di sepanjang saraf.
Bayangan Eris, desis Alexander. Tangannya bergerak ke arah pinggang, tempat senjata energinya berada, namun tangannya tampak ragu. Matanya mulai menyipit, memerah karena tekanan yang tak terlihat.
Direktur Utama menatap serius juga.
Paris merasakan gelombang mual yang hebat. Apa itu? Apakah itu bagian dari misi kita?
Itu adalah kekuatan dari apa yang tidak bisa dikontrol oleh Direktur, jawab Alexander dengan suara yang mulai serak. Perselisihan yang dipersonifikasi.
Direktur Utama menepuk bahu Alexander.
Tubuh Alexander bergetar hebat.
Apakah kamu lupa dan siap menerima sanksi atas fitnahmu ini... kata Direktur Utama.
Alexander berlutut, gembala itu takut bukan main, ia tidak pernah mengira sosok yang ia kira baik, perhatian, bisa berubah seperti ini.
Maafkan aku, Direktur... Alexander membenturkan kepalanya dalam lautan kesadaran.
Bayangan Eris melayang mendekat, wajahnya yang terus berubah kini menyerupai wajah Paris sendiri, namun dengan mata yang memancarkan kebencian murni.
"Mengapa kau melayani mereka, Paris?" Bayangan itu berbisik, suaranya kini terdengar persis seperti suara hati Paris yang paling gelap. "Lihatlah Alexander. Dia tidak melindungimu. Dia hanyalah beban emosional yang akan menjadi batu sandungan langkahmu. Dia adalah algojo yang berpura-pura menjadi guru."
Pangeran Paris yang mengendalikan tubuh menggelengkan kepala. "Jangan dengarkan dia, Alexander!"
Namun Alexander tampak terganggu. Otot-otot rahangnya menegang. "Dia... dia mengingatkanku pada setiap nyawa yang kuhancurkan atas perintah Direktur..." gumam Alexander yang mengambil alih tubuh Paris.
Direktur kali diam membisu karena fitnah Alexander padanya.
Mata Paris tidak lagi fokus pada musuh, melainkan pada tangannya sendiri yang mulai gemetar.
Bayangan itu tertawa, suara yang terdengar seperti kaca pecah. "Dan Direktur? Dia melihatmu tak lebih dari sekadar baterai organik. Kau bukan dewi, Paris. Kau adalah ternak yang diberi mahkota."
Direktur Utama tertawa, Dia benar, Pangeran... kau bukanlah dewi... kau adalah aset yang dibuang Olympus demi sebuah api yang akan membakar Troya...
Alexander merasa ngeri mendengar tawa dan kalimat Direktur Utama, kini ia merasa bersalah terus memfitnahnya.
"Diam!" teriak Paris. Ia mencoba memanggil kekuatan Demeter. Cahaya hijau mulai berpendar di jemarinya, namun cahaya itu redup dan tidak stabil. Ketakutan dan keraguan bertindak seperti racun bagi energinya.
"Kalian bertiga terjebak dalam satu tubuh yang disebut 'Ketertiban'," Eris meluncur mengelilingi mereka, menciptakan lingkaran asap hitam. "Tapi di dalam, kalian saling memangsa. Biarkan kebencian itu keluar. Mengapa kau tidak menghancurkan Alexander sekarang, sebelum dia memadamkan cahayamu?"
Tiba-tiba, Alexander berbalik ke arah Pangeran Paris. Matanya gelap, dipenuhi oleh memori-memori traumatis yang dipicu oleh Eris. Ia mengangkat tongkat gembalanya. "Kau... kau adalah alasan semua beban ini ada padaku. Jika kau tidak muncul dengan kekuatan itu, aku tidak perlu menjadi monster yang mengawasimu!"
"Alexander, tidak! Itu bukan kau yang bicara!" Paris mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding batu yang dingin.
Di dalam pikiran Paris, suara Direktur Utama ikut campur, memperburuk keadaan. Pangeran, Alexander tidak stabil. Netralisir dia. Gunakan protokol penghancuran yang diajarkan padamu. Dia adalah ancaman bagi misi ini!
Pangeran Paris terjepit. Di depannya ada Alexander yang kehilangan kendali, di telinganya ada Direktur yang menuntut pengkhianatan, dan di sekelilingnya ada Eris yang menertawakan kehancuran mereka.
Tiga suara. Tiga kehendak. Satu tubuh misi yang sedang hancur.
"TIDAK!" Paris berteriak sekuat tenaga.
Ia tidak menyerang Alexander. Ia juga tidak menuruti Direktur.
Alih-alih memanggil cahaya hijau untuk tumbuh atau energi abu-abu untuk membunuh, Paris memejamkan mata dan mencari titik diam di tengah badai.
Ia mengingat pelajaran Alexander tentang keseimbangan, bukan tentang siapa yang lebih kuat, tapi tentang bagaimana dua kekuatan yang berlawanan bisa menahan satu sama lain agar dunia tidak runtuh.
Paris melangkah maju, tepat ke arah ujung senjata Alexander. Ia meletakkan tangannya di atas laras senjata yang panas itu.
"Kau bukan penyeimbangku jika kau membenciku, Alexander," bisik Paris lembut, meski suaranya bergetar. "Dan aku bukan penciptamu jika aku takut padamu. Kita adalah satu sistem. Jika kita terpecah, Eris menang."
Ia mengalirkan sisa energinya, bukan untuk menumbuhkan sesuatu, tapi untuk membagikan rasa tenangnya. Cahaya hijau yang lembut merambat dari tangan Paris ke lengan Alexander, menyelimuti kemarahan pria itu dengan kedamaian yang dipaksakan namun tulus.
Alexander tersentak. Kabut merah di matanya mulai memudar. Ia menatap Pangeran Paris, lalu menatap senjata di tangannya dengan ngeri. Ia segera menurunkan senjatanya dan jatuh terduduk, terengah-engah seolah baru saja berlari maraton.
Bayangan Eris memekik nyaring. Bentuknya mulai buyar karena mereka menolak untuk terpecah. "Ini belum selesai! Takdir tidak bisa diperbaiki dengan kasih sayang yang rapuh!"
Dengan satu sentakan terakhir, bayangan itu meledak menjadi partikel hitam dan menghilang ke dalam celah glitch yang perlahan menutup.
Udara di pegunungan kembali dingin dan statis, namun tekanan berat di dada Paris sedikit terangkat.
Di dalam lautan kesadaran, Direktur Utama terdiam sesaat sebelum berkata, Kau menyimpang dari protokol, Paris. Tapi ancaman telah dinetralkan. Lanjutkan perjalanan ke utara. Jangan biarkan emosi mengaburkan logika kontrolmu lagi.
Pangeran Paris tidak menjawab. Ia membantu Alexander berdiri. Gembala itu tampak jauh lebih manusiawi sekarang, lebih rapuh daripada yang pernah Pangeran Paris bayangkan.
Kau menyelamatkanku, Pangeran kata Alexander lirih, tidak berani menatap mata Paris.
Kita menyelamatkan satu sama lain, jawab Pangeran Paris pendek.
Ia menoleh ke arah puncak gunung yang masih diselimuti warna ungu misterius. Ia tahu ini baru permulaan. Takdir dunia ini memang sedang bergeser, dan bukan hanya sistem yang mengalami glitch tapi juga hati mereka.
Dan di dunia yang dibangun di atas kontrol mutlak, sebuah celah kecil dalam kepatuhan adalah hal yang paling berbahaya dari segalanya.
Direktur Utama memandangi keduanya, Setidaknya kita tidak mengalami merger terlalu dalam...
Bersambung.
