WebNovels

Chapter 6 - 1.6 Menyelamatkan gadis kecil dengan telinga kucing

Meskipun aku memiliki banyak pertanyaan, tapi aku memutuskan untuk membawa gadis kecil dengan telinga kucing ini ke tempat ku, penginapannya Lyre.

Menggendong nya, dan keluar dari gang, orang-orang yg berlalu lalang menatapku... Tidak mereka menatap gadis kecil dengan telinga kucing ini dengan cukup tajam, aku tidak tahu kenapa.

Sepanjang jalan menuju ke penginapan Lyre, banyak sekali orang menatap gadis kecil dengan telinga kucing hitam ini dengan tatapan tidak senang... Apakah di dunia ini ada suatu diskriminasi terhadap beberapa ras? Aku tidak tahu, yg penting aku harus membawa gadis kecil ini ke tempat ku terlebih dahulu, dan memberinya makan.

Berjalan sambil menggendong gadis kecil dengan gendongan seperti tuan putri dibawah bulan indah yg bersinar terang, udara yg cukup dingin, dan dihujani dengan banyak sekali cahaya bintang-bintang di malam hari

Tidak lama kemudian kami berdua pun sampai di depan penginapan, ini sudah cukup malam, mungkin orang-orang sudah pada kembali ke rumahnya masing-masing, soalnya di dalam tidak terdengar suara tawa yg memenuhi seisi ruangan lantai bawah.

Aku pun masuk ke penginapan, membuka pintu, tapi terkunci... Hmm... Mungkin karena sudah tengah malam, aku baru ingat, aku membuka jendela kamarku, jadi aku memutuskan untuk masuk melalui jendela kamarku.

Aku pun menuju ke bagian belakang penginapan, mencari jendela kamarku yg terbuka, ketika sudah menemukan jendelanya, aku pun langsung melompat ke lantai dua jendela kamarku, dengan sedikit bantuan sihir angin yg menghempaskan kaki ku dari tanah dengan perlahan.

swushhh

Dengan cepat aku pun sampai ke jendela kamarku, mendarat dengan sempurna di dalam kamarku, tidak lama aku langsung meletakkan gadis itu di kasur ku, dan menyelimuti nya agar tidak kedinginan.

"Hmm... Aku bisa saja sih mencari makanan ke pusat kota ini, tapi aku tidak enak membangunkan nya, hmm... Baiklah, besok saja, Lyre juga akan menyiapkan sarapan bukan... Kalau begitu aku juga akan beristirahat setelah seharian ini banyak sekali hal yg terjadi, karena di kamar ini hanya ada 1 kasur saja, dan kasurnya sudah dipakai oleh gadis ini, mungkin aku akan beristirahat dengan menyandarkan tubuhku di kasur saja."

Aku pun duduk, di lantai kayu, dan menyandarkan tubuhku pada kasur di belakangku, dengan masih menggenggam katanaku, aku pun perlahan terlelap dalam tidur.

Pagi datang pelan-pelan di kota Eldoria Luminaris.

Cahaya matahari pertama menyelinap lewat celah-celah jendela kayu yang masih setengah terbuka, menyapu wajahku yang masih agak pegal karena semalaman tidur duduk sambil menyandar. Leherku kaku, punggung terasa seperti dipukul palu kayu, tapi anehnya aku nggak terlalu kesal. Mungkin karena aku sudah terbiasa tidur di posisi aneh waktu latihan kendo dulu di Bumi.

Aku mengucek mata, lalu langsung menoleh ke kasur.

Gadis kecil bertelinga kucing itu masih meringkuk di bawah selimut tebal yang aku selimuti semalam. Napasnya pelan, teratur, tapi wajahnya… entah kenapa terlihat sangat lelah meski sedang tidur. Pipinya kotor, ada bekas air mata kering di sudut mata, dan bibirnya pecah-pecah karena kelamaan nggak minum. Telinga hitamnya yang lucu sesekali bergerak-gerak kecil, seolah mendengar sesuatu dalam mimpi.

Aku menghela napas pelan.

“Kasian juga ya…”

Aku bangkit pelan-pelan supaya nggak membangunkannya, meregangkan badan yang kaku, lalu membuka jendela lebih lebar. Udara pagi masuk, segar, membawa bau roti panggang dan sup yang sedang dimasak di lantai bawah. Perutku langsung protes. Kemarin aku cuma makan sedikit roti kering yang dibeli Cae di perjalanan.

Tepat saat aku mau turun mencari sarapan, telinga kucing itu tiba-tiba berdiri tegak. Matanya terbuka perlahan—mata kuning keemasan yang besar, seperti mata kucing liar yang baru sadar dirinya sedang di tempat asing.

Dia langsung duduk tegak, badannya menegang, tangan kecilnya mencengkeram selimut erat-erat. Pandangannya berkeliling cepat, lalu berhenti di aku.

“…!”

Dia nggak bicara. Cuma menatapku dengan mata yang campur aduk antara takut, bingung, dan… lapar? Perutnya tiba-tiba berbunyi keras sekali. Keras banget sampai aku hampir ketawa.

“Pagi,” kataku pelan, sengaja bikin suara lembut supaya nggak menakut-nakuti. “Kau sudah bangun. Lapar ya?”

Dia nggak jawab. Cuma menunduk, telinganya merunduk ke belakang seperti kucing yang lagi defensif. Tapi matanya sesekali melirik ke arah pintu—mungkin menghitung jarak kabur.

Aku menggaruk kepala, nggak tahu harus mulai dari mana.

“Aku nggak akan nyakitin kau. Semalam aku nemuin kau pingsan di gang kecil. Kau kelaparan banget sampai pingsan gitu. Namaku Ely. Kau… namanya siapa?”

Tetap diam.

Aku menghela napas lagi, lalu duduk di lantai supaya posisiku nggak terlalu mengintimidasi.

“Kalau nggak mau bilang nama juga nggak apa-apa. Tapi setidaknya makan dulu ya? Di bawah ada sarapan. Aku traktir.”

Dia masih diam, tapi perutnya berbunyi lagi. Kali ini lebih keras. Wajahnya langsung memerah, telinganya menunduk lebih dalam.

Aku tersenyum kecil.

“Yaudah, ayo turun bareng. Kalau kau mau kabur setelah makan, silakan. Aku nggak akan ngejar.”

Aku berdiri, membuka pintu kamar pelan-pelan, lalu menunggu di ambang pintu.

Beberapa detik berlalu.

Akhirnya, dengan gerakan sangat pelan dan hati-hati, dia turun dari kasur. Kakinya telanjang, bajunya compang-camping, tapi dia tetap berusaha menjaga postur tubuhnya tetap tegak—seperti anak kucing yang berusaha terlihat berani meski ketakutan.

Aku nggak bilang apa-apa lagi, cuma berjalan pelan menuruni tangga. Dia mengikuti dari jarak aman, sekitar tiga meter di belakangku, langkahnya hampir nggak bersuara.

Di lantai bawah, aroma roti panggang, sup sayur, dan daging asap langsung menyambut. Lyre sedang sibuk di dapur kecil, sementara kedua anak kembarnya—yang satu selalu senyum lebar, yang satunya muka datar—sedang membagikan piring ke meja-meja tamu yang sudah mulai ramai sarapan.

Lyre melihatku, lalu matanya langsung melebar saat melihat gadis kecil di belakangku.

“Ely! Kau… bawa siapa ini?”

“Nemuin dia semalam di jalan. Kelihatannya kelaparan banget. Boleh ikut sarapan nggak, Lyre?”

Lyre memandang gadis itu dari atas sampai bawah. Ekspresinya berubah—dari kaget, lalu sedikit kasihan, lalu… agak tegang.

“Telinga kucing hitam…” gumamnya pelan. “Dia… beastkin, ya?”

Aku mengangguk. “Kayaknya iya.”

Lyre menghela napas panjang, tapi tetap tersenyum ke arah gadis kecil itu.

“Ya sudah, duduk dulu. Aku ambilkan piring tambahan. Tapi… jangan ribut ya di sini. Beberapa tamu… kurang suka lihat beastkin.”

Aku langsung menoleh ke Lyre. “Kenapa?”

Lyre menurunkan suara. “Di Eldoria ini… beastkin keturunan kucing hitam dianggap pembawa sial. Katanya dulu ada perang besar, dan klan kucing hitam di pihak yang kalah. Sampai sekarang stigma itu masih nempel. Banyak yang bilang mereka suka mencuri, atau bawa kutukan. Makanya banyak beastkin kucing hitam yang hidup di pinggiran atau gang-gang gelap.”

Aku mengerutkan kening. Diskriminasi rasial di dunia isekai? Klasik banget, tapi tetap bikin kesel.

Gadis kecil itu pasti mendengar, karena telinganya langsung merunduk lebih dalam lagi. Dia mundur setengah langkah, seolah siap kabur kapan saja.

Aku langsung jongkok di depannya supaya mata kami sejajar.

“Hei,” kataku pelan. “Aku nggak peduli apa kata orang lain. Kau lagi lapar, kan? Makan dulu. Setelah itu, kalau mau cerita, cerita. Kalau nggak mau, ya sudah. Tapi setidaknya isi perut dulu. Oke?”

Dia menatapku lama sekali. Mata kuningnya berkaca-kaca, tapi dia nggak menangis. Akhirnya, dengan suara sangat kecil hampir nggak terdengar…

“…Nyx.”

“Hm?”

“Nama… aku Nyx.”

Aku tersenyum lebar.

“Nyx. Nama yang bagus. Dalam Mitologi Yunani berarti Dewi Malam kalau aku nggak salah. " Aku mengatakan dengan suara pelan.

"Apa kak? "

"Tidak ada apa-apa. Ayo makan, Nyx.”

Dia mengangguk pelan, lalu mengikuti aku ke meja kecil di sudut ruangan—tempat yang agak tersembunyi dari pandangan tamu lain.

Lyre membawa dua piring berisi sup kental penuh sayur dan daging, roti panggang tebal, serta segelas susu hangat. Nyx menatap makanan itu seperti orang yang belum pernah lihat makanan enak selama bertahun-tahun.

Dia nggak langsung makan. Tangan kecilnya gemetar, memegang sendok, tapi nggak bergerak.

Aku pura-pura nggak notice, langsung mulai makan duluan sambil bicara santai.

“Enak banget supnya Lyre. Dagingnya empuk, bumbunya pas. Nyx coba deh, hati-hati panas ya.”

Dia menatapku lagi, lalu pelan-pelan mengangkat sendok. Suapan pertama masuk ke mulutnya.

Matanya langsung melebar.

Lalu suapan kedua, ketiga… dia mulai makan dengan cepat, hampir rakus, tapi tetap berusaha sopan. Air matanya menetes pelan ke sup, tapi dia nggak berhenti makan.

Aku cuma diam memperhatikan, pura-pura fokus ke piringku sendiri.

Setelah piringnya hampir habis, Nyx akhirnya berhenti. Dia menunduk dalam-dalam, rambut hitamnya menutupi wajah.

“…Terima kasih.”

Suara kecil itu hampir tenggelam di antara suara tamu lain.

Aku mengangguk. “Sama-sama.”

Dia diam lagi sebentar, lalu bicara dengan suara yang masih gemetar.

“Aku… nggak punya keluarga lagi. Mereka… dibunuh tahun lalu. Karena… kucing hitam. Aku kabur, hidup di gang-gang. Kadang dapat makanan dari sampah. Kadang… nggak dapat apa-apa.”

Aku mengepalkan tangan di bawah meja.

“Jadi semalam kau lagi cari makan, lalu kelaparan sampai pingsan?”

Dia mengangguk pelan.

Aku menghela napas panjang.

“Nyx. Mulai hari ini, kau tinggal di sini dulu sama aku. Sampai kau punya tempat sendiri atau sampai kau mau pergi. Makanan ada, tempat tidur ada. Aku nggak janji bisa kasih hidup mewah, tapi setidaknya kau nggak akan kelaparan lagi.”

Dia menatapku dengan mata besar yang penuh keraguan.

“…Kenapa… Kakak baik sama aku? Orang lain… biasanya takut atau benci.”

Aku tersenyum tipis, mengacak rambut hitamnya pelan—hati-hati supaya nggak kaget.

“Karena aku juga orang asing di dunia ini. Dan karena… aku benci lihat orang kecil kayak kamu menderita sendirian.”

Nyx diam lama sekali.

Lalu, dengan suara yang hampir nggak kedengeran…

“…Aku boleh… panggil Kakak ‘Kak Ely’?”

Aku tertawa kecil.

“Boleh banget.”

Dia tersenyum tipis—senyum pertama yang aku lihat darinya. Kecil, malu-malu, tapi tulus.

Di luar jendela, matahari pagi semakin tinggi, menerangi kota yang baru bangun.

Hari baru dimulai.

Dan entah kenapa, Aku merasa perjalanan di dunia ini… mulai terasa sedikit lebih hangat.

More Chapters