WebNovels

Chapter 8 - 1.8 Escort Pedagang

Aku dan Nyx berjalan mendekati gerobak pedagang yang sudah menunggu di depan guild. Pak Harlan, seorang pria paruh baya berjanggut tipis dan baju linen lusuh, sedang mengikat tali kekang kuda sambil sesekali melirik ke sekitar dengan gelisah. Matanya langsung berbinar saat melihatku.

“Nona Elysia, ya? Syukurlah guild kirim orang cepat. Aku Harlan, pedagang kain dari Rivermist. Perjalanan ini seharusnya cuma setengah hari, tapi akhir-akhir ini jalan lewat hutan sering nggak aman. Makanya aku minta escort.”

Aku mengangguk singkat. “Kami siap berangkat sekarang. Ini rekan saya, Nyx. Dia pemula, tapi bisa diandalkan.”

Pak Harlan melirik Nyx yang bersembunyi di balik mantel kebesaran, tapi nggak nanya apa-apa—mungkin karena buru-buru. “Baiklah, naik ke belakang gerobak aja. Aku nyetir di depan.”

Kami naik. Gerobaknya penuh gulungan kain warna-warni yang ditutup terpal. Nyx duduk di sampingku, tangannya mencengkeram ujung mantel erat-erat. Aku bisa rasain getaran kecil dari tubuhnya—mungkin masih nervous soal keluar kota pertama kali setelah trauma.

Gerobak mulai bergerak. Roda kayu berderit pelan di atas jalan berbatu kota, lalu pelan-pelan memasuki jalan tanah yang mengarah ke hutan selatan. Udara semakin sejuk, aroma daun basah dan tanah lembab mulai tercium. Burung-burung bernyanyi di atas pohon, tapi semakin dalam masuk hutan, suara itu makin jarang.

Kami sudah hampir setengah perjalanan ketika tiba-tiba Pak Harlan menarik tali kekang keras.

“Kuda berhenti! Ada yang salah!”

Gerobak berhenti mendadak. Di depan kami, sekitar sepuluh orang bandit muncul dari balik pepohonan. Mereka pakai baju compang-camping, pedang karatan, kapak, dan busur sederhana. Pemimpinnya—pria botak dengan bekas luka di pipi—tertawa kasar.

“Wah, gerobak kain bagus nih. Turun aja, Pak Tua. Serahin barangnya, kami nggak akan bunuh kalau kalian nurut.”

Pak Harlan langsung panik. Tangannya gemetar di tali kekang, suaranya bergetar. “Tolong… jangan ambil semuanya. Ini dagangan satu-satunya aku…”

Aku langsung berdiri di atas gerobak, tangan kanan sudah di gagang katana. Nyx di sampingku menegang, telinganya di balik tudung pasti berdiri tegak.

“Nyx,” bisikku cepat. “Coba rapalkan mantra penguatanmu sekarang. Yang kau bilang dulu itu. Aku butuh buff-nya.”

Nyx menelan ludah. Matanya melebar ketakutan, tapi dia mengangguk pelan. Tangan kecilnya terangkat, mulai menggumam mantra panjang dengan suara gemetar.

“Wahai roh yang bersemayam di darah dan tulang… berikan kekuatan pada yang kucintai… tingkatkan indra, tingkatkan jiwa… agar tak ada yang luput dari penglihatan dan pendengaran…”

Mantra itu panjang. Aku hitung dalam hati—sekitar sepuluh detik lagi.

Sementara itu, bandit-botak itu melirikku sambil nyengir.

“Apaan ini? Gadis kecil pakai baju aneh bawa pedang mainan? Mau main pahlawan ya? Lucu juga.”

Aku tersenyum datar, sengaja mengulur waktu. “Kalian sepuluh orang cuma buat satu gerobak kain? Kayaknya kalian kurang kerjaan deh. Atau… ini cuma umpan?”

Bandit-botak tertawa. “Umpan? Hah, kau pikir kami bodoh? Kami cuma—”

Aku memotong. “Tunggu dulu. Kalau kalian serang sekarang, pasti ada yang mati. Kalian mau mati demi kain murah? Atau kalian punya bos yang lebih besar di belakang?”

Dia mengerutkan kening, tapi sebelum jawab, sepuluh detik sudah lewat.

Tiba-tiba, sensasi aneh menjalar ke telingaku. Seperti dunia jadi lebih… tajam. Suara daun bergesek, napas kuda, detak jantung Pak Harlan yang kencang, bahkan suara napas bandit di depan—semua terdengar jelas sekali.

Dan yang lebih penting… suara langkah kaki pelan dari balik pepohonan. Bukan sepuluh orang. Lebih banyak. Mungkin dua kali lipat lagi bersembunyi, siap mengepung dari samping dan belakang.

Nyx tiba-tiba menjerit kecil, tangannya menutup mulut. Matanya berkaca-kaca. “Kak Ely… ada lebih banyak… mereka… mereka bakal—”

Traumanya kumat. Aku bisa rasain getaran tubuhnya. Ingatan desa terbakar, keluarga dibantai—semua muncul lagi.

Pak Harlan sudah hampir pingsan di kursi kusirnya.

Bandit-botak itu bosan menunggu. “Cukup basa-basinya! Serang! Ambil gerobaknya!”

Mereka mulai maju satu per satu, mungkin meremehkan karena cuma aku yang kelihatan berbahaya. Yang pertama—pria kurus bawa pedang pendek—melompat ke atas gerobak, mengayunkan senjatanya ke arahku.

Aku menarik katana dengan gerakan minimal, menangkis dengan punggung bilah, lalu menendang perutnya. Dia terpental ke belakang, mendarat keras di tanah sambil muntah.

Yang kedua maju. Aku melompat turun dari gerobak, mendarat ringan berkat gravitasi ringan dunia ini. Tebasan horizontal cepat—dia langsung jatuh dengan luka dangkal di bahu, pingsan.

Satu per satu mereka maju, dan satu per satu tumbang. Teknik kendo yang sudah aku asah bertahun-tahun di Bumi, ditambah adaptasi sihir angin untuk percepat gerakan, membuatku seperti bayangan. Mereka nggak bisa ngikutin.

Tapi bandit-botak itu marah. “Semua serang sekaligus! Jangan kasih dia kesempatan!”

Sekarang mereka menyerbu bersama—sekitar delapan orang yang tersisa di depan, plus yang bersembunyi mulai keluar dari pepohonan. Total hampir dua puluh.

Aku menarik napas dalam. Buff pendengaran Nyx masih aktif—aku bisa dengar setiap langkah, setiap hembusan napas mereka. Itu memberi keuntungan besar.

Aku melesat maju, katana berputar di tangan. Satu bandit kena tebasan vertikal, jatuh. Dua lagi kena tendangan berputar + sihir angin kecil yang mendorong mereka terpental ke pohon. Yang pakai busur coba tembak dari jauh—tapi aku sudah dengar tarikan busurnya sebelum anak panah lepas. Aku miringkan badan, anak panah lewat tepat di samping telinga, lalu aku lempar batu kecil yang aku ambil dari tanah—tepat ke tangan pemanahnya. Dia menjerit, busurnya jatuh.

Nyx di atas gerobak menangis pelan, tapi dia nggak lari. Dia tetap di sana, mantra penguatannya masih bertahan meski gemetar.

Pak Harlan berteriak. “Nona Elysia! Hati-hati!”

Aku nggak jawab. Fokusku penuh.

Dengan perpaduan kekuatan fisik alami, buff indra dari Nyx, dan sihir angin yang aku imajinasikan untuk mempercepat langkah—aku bergerak seefisien mungkin. Setiap tebasan, setiap tendangan, setiap dodge—semua tepat sasaran, minim tenaga terbuang.

Satu per satu bandit jatuh. Yang botak terakhir berdiri di depan, napasnya ngos-ngosan.

“Kau… monster apa sih?!”

Aku menyarungkan katana pelan, ekspresi tetap datar.

“Bukan monster. Cuma gadis SMA yang lagi jaga temen kecilnya.”

Aku maju satu langkah. Dia mundur, lalu jatuh terduduk.

“Pergi. Dan bilang ke yang lain—kalau ada yang ganggu gerobak ini lagi, aku nggak akan segan.”

Dia langsung lari terbirit-birit, diikuti sisa bandit yang masih bisa berdiri.

Hutan kembali sunyi, hanya suara napas berat dan kuda yang mendengus.

Aku kembali ke gerobak. Nyx langsung memelukku erat-erat, mantelnya basah air mata.

“Kak Ely… aku takut… aku ingat lagi… Mama… Papa…”

Aku memeluknya balik, mengusap punggungnya pelan.

“Sudah aman, Nyx. Kau hebat. Buff-mu tadi menyelamatkan kita. Tanpa pendengaran yang tajam itu, aku nggak tahu ada yang sembunyi di belakang.”

Pak Harlan turun dari gerobak, lututnya masih gemetar. “Terima kasih… terima kasih banyak, Nona Elysia… dan Nona Nyx. Kalian… kalian luar biasa.”

Aku tersenyum tipis. “Lanjut perjalanan aja. Masih setengah jalan lagi ke Rivermist.”

Nyx mengangguk di pelukanku, suaranya kecil.

“…Aku… mau belajar lebih banyak. Supaya bisa bantu Kak Ely lebih baik.”

Aku mengacak rambutnya di balik tudung.

“Bagus. Kita latihan bareng nanti.”

Gerobak mulai bergerak lagi, meninggalkan hutan yang sekarang sunyi. Matahari siang menyelinap lewat celah daun, menerangi jalan ke depan.

Tidak lama kemudian, gerobak Pak Harlan akhirnya keluar dari hutan yang gelap itu. Cahaya matahari siang menyinari padang rumput terbuka, dan di kejauhan mulai terlihat atap-atap rumah kayu Desa Rivermist. Udara terasa lebih segar di sini, bau tanah basah dan asap kayu bakar dari cerobong rumah-rumah kecil.

Pak Harlan menghela napas lega panjang sekali, tangannya yang tadi gemetar sekarang lebih tenang memegang tali kekang.

“Kita selamat… berkat kalian berdua. Aku nggak tahu harus bilang apa lagi. Kalau nggak ada Nona Elysia dan Nona Nyx, mungkin kain-kain ini sudah jadi milik bandit, dan aku… ya, entahlah.”

Aku cuma mengangguk pelan dari belakang gerobak. Nyx masih duduk di sampingku, mantelnya basah di bagian bahu karena air mata tadi, tapi sekarang dia sudah lebih tenang. Telinganya di balik tudung sesekali bergerak pelan mendengar suara angin.

Kami memasuki desa. Rivermist kecil, cuma beberapa deret rumah kayu dengan sungai kecil mengalir di sampingnya. Pak Harlan langsung menuju ke toko kain di pusat desa—sebuah bangunan sederhana dengan papan nama “Toko Kain Rivermist”. Dia turun, mulai mengangkut gulungan kain satu per satu ke dalam, dibantu pemilik toko yang langsung menyambut dengan senang.

Aku dan Nyx turun dari gerobak, duduk di bangku kayu di depan toko sambil menunggu. Nyx memeluk lututnya, mata kuningnya mengamati sekitar dengan hati-hati.

“Kak Ely… desa ini… mirip desaku dulu,” gumamnya pelan. “Tapi… nggak ada beastkin di sini.”

Aku mengangguk, mengusap punggungnya pelan.

“Kalau suatu hari kau mau balik ke desamu… atau cari tempat baru, bilang aja. Aku ikut.”

Nyx tersenyum tipis, pertama kalinya sejak kejadian di hutan tadi.

“…Makasih, Kak.”

Tak lama, Pak Harlan keluar lagi dengan wajah cerah. Dia membawa sekantong kecil berisi koin dan selembar kain bagus berwarna biru tua.

“Ini bayaran kalian—6 koin perak sesuai janji guild. Dan ini kain tambahan dari aku, buat Nona Nyx. Warnanya bagus, cocok buat jubah baru atau apa aja. Terima kasih lagi, ya. Kalau ada misi lain ke sini, aku pasti minta kalian lagi.”

Aku terima kantong koin dan kain itu, mengangguk sopan.

“Terima kasih, Pak Harlan. Hati-hati di jalan pulang.”

Kami pamit, lalu mulai perjalanan balik ke Eldoria Luminaris. Kali ini tanpa gerobak—kami jalan kaki, karena Pak Harlan bilang dia bakal istirahat dulu di desa sebelum pulang besok. Jaraknya nggak terlalu jauh, dan untungnya perjalanan pulang berjalan lancar. Nggak ada bandit lagi, nggak ada suara mencurigakan. Hanya angin sepoi, suara burung, dan langkah kaki kami di jalan tanah.

Nyx berjalan di sampingku, mantelnya masih ditarik rapat. Sesekali dia melirik ke belakang, tapi kali ini bukan karena takut—lebih seperti memastikan semuanya aman.

“Kak Ely… tadi… buff-ku cuma pendengaran aja. Maaf ya, nggak lebih berguna.”

Aku menggeleng.

“Justru itu yang selamatin kita. Kalau aku nggak tahu ada yang sembunyi di belakang, pasti aku kewalahan. Kau hebat, Nyx. Mantra panjang itu susah, tapi kau tetap lanjut meski takut. Itu sudah luar biasa.”

Nyx menunduk, pipinya agak merah di balik tudung.

“…Aku mau latihan lagi. Supaya buff-nya bisa lebih banyak efeknya. Mungkin… kekuatan, atau kecepatan.”

Aku tersenyum kecil.

“Deal. Besok kita latihan bareng di belakang penginapan. Pelan-pelan aja.”

Sore menjelang ketika kami sampai di gerbang Eldoria Luminaris. Matahari sudah condong ke barat, cahayanya jingga menerangi tembok kota yang tinggi. Penjaga gerbang mengenali aku, mengangguk sopan.

“Kembali lagi, Nona Elysia? Dan… teman kecilnya.”

Aku mengangguk singkat, lalu langsung menuju guild.

Di guild, suasana masih ramai seperti biasa. Aku menyerahkan kertas misi yang sudah selesai ke mbak resepsionis ponytail itu.

“Misi escort ke Rivermist selesai. Ini bukti dari Pak Harlan.”

Dia memeriksa, lalu tersenyum lebar.

“Bagus sekali, Nona Elysia. Dan sepertinya tanpa masalah besar ya? Ini imbalannya—6 koin perak. Kalau mau daftarin teman kecil ini juga, bisa sekarang.”

Aku melirik Nyx. Dia menggeleng pelan.

“Nanti aja dulu. Kami mau istirahat dulu.”

Mbak resepsionis mengangguk mengerti.

“Baiklah. Selamat istirahat. Dan hati-hati di malam hari, ya.”

Kami keluar dari guild, berjalan pelan menuju The Golden Inn. Udara sore terasa sejuk, aroma roti panggang dari kios pinggir jalan menggoda perut yang sudah lapar lagi.

Sampai di penginapan, lonceng kecil di atas pintu berbunyi saat kami masuk. Lyre langsung menyambut dari balik konter, matanya melebar melihat kami berdua.

“Ely! Nyx! Kalian pulang! Bagaimana misinya? Aman?”

Aku mengangguk, meletakkan kantong koin di meja.

“Aman. Cuma ada sedikit masalah di hutan, tapi selesai. Nyx bantu banget tadi.”

Lyre tersenyum lebar, lalu menepuk bahu Nyx pelan.

“Baguslah. Aku sudah siapin makan malam—sup daging dan roti hangat. Duduk dulu, aku ambilkan.”

Nyx melepas tudungnya pelan-pelan—di dalam penginapan ini, dia sudah mulai berani nggak pakai tudung terus-menerus. Telinga hitamnya berdiri tegak, ekornya melengkung senang melihat makanan yang datang.

Aku duduk di meja sudut favorit kami, Nyx di sebelahku. Dia memandangku dengan mata besar.

“Kak Ely… hari ini… terima kasih. Aku nggak takut lagi… terlalu takut.”

Aku mengacak rambutnya.

“Sama-sama. Besok kita mulai latihan sihir lagi. Dan mungkin… besok kita cari misi yang lebih seru. Bareng.”

Nyx mengangguk mantap, senyumnya lebar kali ini.

“Iya, Kak Ely. Bareng.”

Malam itu, di lantai bawah penginapan yang hangat, suara tawa tamu dan aroma sup memenuhi ruangan. Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, aku merasa… seperti punya tempat pulang. Aku dan Nyx pun mulai tertidur di satu kamar dan satu kasur, dengan bermandikan cahaya bulan dan bintang dari balik jendela yg tidak ditutupi dengan gorden.

More Chapters