WebNovels

Chapter 9 - 1.9 Pagi yang Tenang Setelah Badai

Pagi itu terasa lebih ringan dari biasanya, seolah dunia memberi jeda setelah kemarin yang penuh lari, tebasan, dan darah bandit di rumput.

Aku bangun dengan leher yang masih sedikit pegal—posisi tidur menyandar di sisi kasur semalaman memang bukan yang terbaik. Tapi entah kenapa kali ini aku nggak terlalu mengeluh. Mungkin karena ada suara napas kecil dan teratur dari atas kasur, atau mungkin karena aroma roti panggang yang sudah tercium samar dari lantai bawah, bercampur dengan bau kayu lembab dan embun pagi yang menempel di jendela. Aku mengucek mata, lalu menoleh ke Nyx.

Dia masih meringkuk di bawah selimut tebal yang aku selimuti tadi malam. Telinga kucing hitamnya berdiri tegak pelan-pelan, seperti radar kecil yang mendeteksi gerakanku. Matanya terbuka perlahan—mata kuning keemasan yang besar, masih agak bengkak karena kurang tidur, tapi langsung mencari aku. Ekornya yang tersembunyi di balik selimut bergoyang pelan sekali, hampir tak terlihat, seperti sedang memastikan aku masih di sana.

“…Kak Ely?” suaranya kecil, serak, seperti baru bangun dari mimpi panjang yang melelahkan.

“Pagi, Nyx. Sudah bangun? Lapar?”

Dia mengangguk pelan, lalu duduk sambil menggosok mata dengan punggung tangan. Rambut hitam pendeknya acak-acakan, beberapa helai menempel di pipi yang masih pucat. Aku tersenyum kecil tanpa sadar—senyum yang jarang aku keluarkan di depan orang lain, tapi terasa alami saat melihat dia seperti ini.

“Ayo turun. Lyre pasti sudah siapkan sarapan. Hari ini kita santai dulu, nggak ada misi. Kita bisa istirahat, atau latihan kecil kalau kau mau.”

Nyx mengangguk lagi, tapi gerakannya masih lambat. Dia turun dari kasur, kakinya telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin. Aku langsung ambil mantel cokelat tua yang kemarin dipinjam dari Lyre, lalu selimutkan ke bahunya sebelum dia kedinginan.

“Pakai ini dulu. Udara pagi masih menusuk. Nanti kalau sudah hangat, baru lepas.”

Dia memeluk mantel itu erat-erat, seperti anak kecil yang baru dapat selimut hangat dari orang yang dia percaya. Telinganya bergerak-gerak senang di balik tudung yang aku tarik sedikit ke depan supaya lebih nyaman. Ekornya ikut bergoyang pelan, menyentuh ujung mantel.

Kami turun tangga pelan-pelan. Tangga kayu berderit kecil setiap langkah, tapi suara itu terasa akrab sekarang, seperti bagian dari rutinitas baru yang mulai terbentuk. Lantai bawah The Golden Inn sudah mulai hidup. Aroma roti panggang, sup daging, dan teh herbal langsung menyergap hidung. Lyre sedang sibuk di dapur kecil, mengaduk panci sambil bersenandung pelan lagu lama yang aku nggak kenal. Anak kembarnya—yang satu selalu senyum lebar dan cerewet, yang satunya muka datar seperti patung tapi gerakannya cepat—mondar-mandir bawa nampan ke meja-meja tamu pagi yang mulai berdatangan. Beberapa petualang yang baru bangun duduk di meja panjang, ngobrol pelan sambil minum teh, sesekali tertawa kecil.

Lyre langsung melihat kami, matanya berbinar hangat seperti ibu yang lihat anaknya pulang.

“Ely! Nyx! Pagi-pagi sudah bangun. Duduk dulu, aku ambilkan piring tambahan. Supnya masih panas, roti juga baru keluar dari oven. Ada telur dadar juga hari ini, spesial buat kalian berdua. Dan susu hangat, biar badan nggak kedinginan setelah kemarin capek.”

Aku mengangguk singkat. “Terima kasih, Lyre.”

Kami duduk di meja sudut favorit—tempat yang agak tersembunyi dari pandangan tamu lain, dekat jendela kecil yang menghadap halaman belakang. Nyx langsung tarik tudung mantelnya lebih dalam, tapi telinganya tetap berdiri tegak mendengar suara piring yang berdenting dan obrolan tamu di meja sebelah. Dia duduk dekat aku, bahunya hampir menyentuh lenganku, seperti mencari perlindungan tanpa sadar.

Lyre datang bawa dua mangkuk sup kental penuh sayur wortel, kentang, dan potongan daging sapi yang empuk, roti panggang tebal dengan mentega meleleh, telur dadar setengah matang yang kuningnya masih menggoda, serta dua gelas susu hangat yang masih mengepul tipis. Dia taruh semuanya dengan hati-hati, lalu usap tangan ke celemek.

“Makan yang banyak ya, Nyx. Kau kurus sekali. Kalau kurang, bilang aja, aku tambahin lagi. Dan ini kue madu kecil, aku bikin tadi malam. Coba satu, manisnya pas.”

Nyx menatap Lyre dengan mata besar. “Terima kasih… Lyre.”

Lyre tersenyum, lalu pergi lagi ke dapur sambil mengelap tangan.

Aku mulai makan duluan, pura-pura fokus ke mangkuk sup supaya Nyx nggak merasa diawasi. Dia pegang sendok dengan tangan kecil yang masih sedikit gemetar. Suapan pertama masuk ke mulutnya—matanya langsung melebar, seperti kemarin. Dia mengunyah pelan, lalu suapan kedua, ketiga… semakin cepat. Air matanya hampir menetes lagi, tapi kali ini dia tahan dengan menggigit bibir bawah.

“Enak banget… Kak Ely,” bisiknya pelan, suaranya hampir hilang di antara suara sendok yang berdenting. “Aku… nggak pernah makan sesering ini sebelumnya. Dulu… kadang cuma roti basi atau sup air doang. Kalau beruntung, dapat ikan kecil dari sungai. Kadang… nggak ada apa-apa.”

Aku diam sebentar, lalu bilang dengan suara yang sengaja dibuat santai.

“Mulai sekarang, setiap hari ada sarapan. Kalau malam-malam lapar, bangunin aku aja. Aku nggak keberatan cari makanan di dapur Lyre. Dia pasti nggak marah. Malah senang kalau ada yang makan banyak.”

Nyx menunduk, pipinya agak merah. Telinganya merunduk malu, tapi ekornya di bawah mantel bergoyang pelan senang, hampir menyentuh kakiku.

Lyre lewat lagi, bawa teko teh tambahan dan sepiring kecil kue madu yang masih hangat. Dia berhenti di meja kami, suaranya lembut seperti ibu.

“Nyx, kalau kau mau, aku punya baju anak perempuan lama yang masih bagus. Ukuran pas buatmu. Nanti aku ambilkan ya, biar nggak selalu pakai mantel kebesaran itu. Kalau dingin, pakai mantelnya di luar aja. Dan kalau kau suka kue madu, ini aku bikin tadi malam. Coba satu, manisnya pas.”

Nyx menatap Lyre dengan mata besar. “Boleh… Lyre?”

“Tentu boleh. Dan panggil aja Lyre, jangan Bu. Kalau mau panggil Ibu juga nggak apa-apa kok.” Lyre tersenyum hangat, lalu pergi lagi ke dapur sambil mengelap tangan ke celemek.

Nyx diam lama sekali setelah itu. Dia memandang mangkuk supnya yang sudah setengah kosong, lalu ambil satu kue madu dengan hati-hati. Dia gigit kecil, lalu matanya berbinar.

“Manis… seperti madu asli. Dulu… Mama suka bikin kue madu juga. Tapi… sudah lama sekali.”

Aku mengangguk pelan. “Lyre jago bikin kue. Dia bilang resepnya dari ibunya dulu. Mungkin suatu hari kau bisa belajar bikin bareng dia.”

Nyx mengunyah pelan, lalu tiba-tiba bicara dengan suara kecil.

“Kak Ely… orang-orang di sini… nggak benci aku?”

Aku menggeleng pelan. “Nggak semua orang benci beastkin. Lyre nggak. Anak kembarnya juga nggak. Cuma… ada yang takut atau salah paham karena cerita lama. Tapi kalau kau tunjukin bahwa kau baik, mereka akan lihat kau apa adanya. Dan kalau ada yang benci, biar aku yang urus.”

Nyx mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca lagi, tapi kali ini bukan karena sedih. Dia usap mata dengan lengan mantel, lalu lanjut makan sampai mangkuknya bersih dan kue madunya habis.

Setelah sarapan selesai, aku ajak Nyx ke halaman belakang penginapan—tempat kecil yang tersembunyi di antara dinding kayu dan pohon-pohon rendah. Matahari pagi sudah naik lebih tinggi, cahayanya hangat tapi nggak menyilaukan. Angin sepoi membawa aroma bunga liar dari taman kecil Lyre, dan suara burung kecil bernyanyi di atas cabang.

“Kita latihan sihir sedikit ya. Nggak usah pakai mantra panjang dulu. Coba bayangin aja efek yang kau mau.”

Nyx berdiri di depanku, tangannya terangkat pelan. Matanya tertutup, konsentrasi.

“Aku… mau coba bikin Kak Ely lebih kuat. Tapi… aku nggak tahu caranya.”

Aku jongkok supaya mata kami sejajar.

“Bayangin aja. Mana mengalir dari tubuhmu ke tubuhku. Bayangin kekuatan itu seperti angin yang mendorong otot-ototku lebih kuat. Nggak perlu kata-kata kalau susah. Coba saja.”

Dia mengangguk. Napasnya dalam-dalam.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Tiba-tiba aku merasa sensasi hangat menjalar dari dada ke lengan dan kaki. Ototku terasa lebih ringan, tapi juga lebih padat—seperti ada tenaga ekstra yang siap meledak. Aku angkat tangan kanan, lalu coba tebas udara dengan gerakan kendo dasar.

Swish!

Angin kecil terbelah, daun-daun kering di tanah beterbangan seperti ditiup hembusan kuat. Beberapa ranting kecil di pohon bergoyang.

Nyx membuka mata, terkejut sendiri. “Kak Ely… itu… berhasil?”

Aku tersenyum lebar—jarang-jarang aku senyum lebar gini di depan orang.

“Berhasil banget. Kali ini buff kekuatan fisik. Kau hebat, Nyx.”

Dia tersenyum malu-malu, telinganya berdiri tegak bangga. Ekornya bergoyang-goyang di balik mantel, hampir keluar.

“Tapi… aku capek.”

“Wajar. Mana-mu masih kecil. Istirahat dulu.”

Aku duduk di rumput yang masih agak basah embun, Nyx ikut duduk di sampingku. Kami diam sebentar, menikmati angin pagi dan suara burung kecil dari pohon.

Tiba-tiba Nyx bicara pelan, suaranya hampir tenggelam di angin.

“Kak Ely… aku mimpi buruk tadi malam.”

Aku menoleh. “Mimpi apa?”

“Desa… terbakar lagi. Mama… Papa… Kakak… mereka teriak minta tolong. Aku lari, tapi kaki aku nggak bisa gerak. Lalu… ada bayangan hitam besar yang kejar aku. Aku bangun sebelum dia tangkap aku.”

Aku diam. Dadaku terasa sesak, seperti ada batu kecil yang menekan.

“Itu… pasti karena kemarin kita lawan bandit. Trauma nggak hilang sekaligus, Nyx.”

Dia mengangguk pelan, tapi matanya basah lagi.

“Aku takut… kalau suatu hari Kak Ely pergi, aku sendirian lagi.”

Aku tarik napas dalam, lalu peluk bahunya pelan—gerakan yang jarang aku lakukan, tapi terasa benar saat ini.

“Aku nggak akan pergi. Janji.”

Dia bersandar ke bahuku, tubuh kecilnya gemetar sedikit. Aku bisa rasain napasnya yang cepat, tapi pelan-pelan jadi tenang.

“Kak Ely… terima kasih. Aku… mau latihan lebih keras. Supaya aku bisa lindungi Kak Ely juga suatu hari.”

Aku mengacak rambutnya pelan.

“Ya. Kita latihan bareng. Pelan-pelan aja.”

Kami duduk di sana sampai matahari naik lebih tinggi. Angin pagi membawa aroma bunga dari taman kecil Lyre. Burung kecil bernyanyi di atas pohon, seolah ikut merayakan pagi yang tenang ini.

Untuk pertama kalinya sejak terbangun di padang rumput dunia ini, aku merasa… nggak terlalu sendirian lagi.

More Chapters