WebNovels

Chapter 6 - Penghuni pertama

Raka berdiri membeku di ambang pintu menara.

Udara dari dalam terasa sangat dingin, seperti keluar dari ruang bawah tanah yang telah tertutup ratusan tahun.

Tangga spiral itu berputar naik tanpa terlihat ujungnya. Dinding batu hitam dipenuhi ukiran simbol aneh yang sama seperti tanda di telapak tangan Raka.

Dan dari salah satu pintu di lantai pertama…

Tangan pucat itu masih keluar.

Jari-jarinya panjang dan kurus. Kukunya hitam seperti membusuk.

Perlahan… tangan itu bergerak.

Seperti sedang meraba udara.

Mencari sesuatu.

Raka mundur satu langkah.

Namun tiba-tiba—

BRAK!

Gerbang besi di belakangnya tertutup keras.

Raka tersentak dan menoleh.

Gerbang itu tidak bergerak lagi.

Terkunci.

Ia mencoba mendorongnya, tapi gerbang itu tidak bergeming sedikit pun.

Kini hanya ada satu jalan.

Masuk ke dalam menara.

Raka menarik napas panjang lalu melangkah masuk.

Begitu kakinya menyentuh lantai batu menara, pintu batu raksasa di belakangnya perlahan menutup.

DUUUM.

Kegelapan di dalam menara semakin pekat.

Hanya cahaya merah samar dari dinding yang menerangi tangga.

Raka menoleh kembali ke arah pintu yang terbuka tadi.

Tangan pucat itu kini bergerak lebih jauh keluar.

Lalu perlahan…

sebuah wajah muncul dari kegelapan.

Wajah itu sangat kurus. Kulitnya pucat seperti mayat yang lama terendam air.

Matanya hitam kosong.

Namun yang paling mengerikan adalah lehernya.

Leher makhluk itu terlalu panjang.

Seolah tulangnya telah ditarik keluar dari tubuhnya.

Makhluk itu menatap Raka.

Kemudian tersenyum.

Mulutnya terbuka terlalu lebar, memperlihatkan gigi-gigi tajam yang tidak rata.

"Sudah lama… tidak ada pewaris baru," katanya dengan suara kering.

Raka tidak menjawab.

Makhluk itu keluar sedikit lagi dari pintu.

Sekarang tubuhnya terlihat.

Tubuhnya kurus dan bengkok seperti patah di beberapa bagian.

Ia merangkak keluar ke lantai menara.

Namun anehnya…

Tubuhnya tidak menyentuh tanah.

Ia melayang beberapa sentimeter di atas lantai.

Makhluk itu mendekat perlahan.

Satu meter…

Dua meter…

Raka mundur.

Tiba-tiba tanda di telapak tangannya kembali bersinar.

Makhluk itu langsung berhenti.

Matanya membesar.

"Ah…" katanya pelan.

"Benar…"

"Dia memilihmu."

Makhluk itu menunduk hormat.

Gerakan yang aneh dan patah.

"Selamat datang di Menara Tanpa Bayangan…"

"Tuan baru kami."

Namun sebelum Raka sempat bertanya—

Tiba-tiba dari lantai atas terdengar suara lain.

Langkah kaki.

Banyak langkah kaki.

Puluhan.

Atau mungkin… ratusan.

Semuanya bergerak turun melalui tangga spiral.

Dan satu suara berat bergema dari atas.

"Jadi… pewarisnya akhirnya tiba."

More Chapters