WebNovels

Chapter 8 - Pewaris sebelumnya

Seluruh penghuni menara berlutut.

Tidak ada yang berani bergerak.

Udara di dalam menara berubah sangat dingin. Bahkan cahaya merah di dinding tampak meredup, seolah takut pada sesuatu yang ada di atas sana.

Raka menatap tangga spiral yang menjulang tinggi.

Suara itu datang dari atas.

Suara yang dalam… berat… dan tidak sepenuhnya manusia.

Pria berjubah hitam berdiri kembali.

"Dia sudah bangun," katanya pelan.

Raka menatapnya.

"Siapa dia sebenarnya?"

Pria itu terdiam beberapa detik.

Lalu menjawab dengan suara serius.

"Pewaris sebelum dirimu."

Raka merasakan sesuatu seperti batu jatuh di dadanya.

"Bukankah pewaris seharusnya menjadi penguasa menara?"

Pria berjubah hitam tersenyum pahit.

"Benar."

"Namun setiap penguasa… pada akhirnya berubah."

Tiba-tiba suara gesekan terdengar dari atas.

GRRRAAAK…

Seperti sesuatu yang sangat besar merayap di dinding batu.

Beberapa makhluk di ruangan itu mulai gemetar.

Ada yang menunduk lebih dalam.

Ada yang bahkan menutup wajah mereka.

Raka menatap ke atas.

Dari kegelapan di tangga atas… sesuatu mulai terlihat.

Pertama, sebuah tangan muncul.

Tangan itu sangat panjang.

Kulitnya abu-abu pucat dan dipenuhi retakan seperti batu tua.

Kemudian tangan kedua muncul.

Menempel di dinding menara.

Makhluk itu tidak berjalan di tangga.

Ia merangkak di dinding.

Perlahan tubuhnya turun.

Dan ketika wajahnya akhirnya terlihat…

Raka menahan napas.

Wajah makhluk itu hampir seperti manusia.

Namun matanya merah terang.

Mulutnya terlalu lebar.

Dan tubuhnya jauh lebih besar dari manusia biasa.

Panjangnya hampir tiga meter.

Makhluk itu berhenti di dinding tepat di atas mereka semua.

Matanya menatap Raka.

Senyumnya perlahan melebar.

"Sudah… lama sekali," suaranya menggema di seluruh menara.

"Sejak aku menunggu penggantiku."

Raka menggenggam tangannya.

Tanda hitam di telapak tangannya mulai bersinar terang.

Makhluk itu menatap tanda itu dengan penuh minat.

"Ya…"

"Menara benar-benar memilihmu."

Ia merangkak turun sedikit lagi hingga jaraknya hanya beberapa meter dari Raka.

Semua penghuni menara tetap berlutut.

Tidak ada yang berani melihat langsung ke arah makhluk itu.

Makhluk itu menundukkan kepalanya sedikit.

"Namaku dulu… Aldren."

"Penguasa menara ini."

Ia menunjuk ke arah tangga yang berputar ke atas.

"Dan sekarang… giliranmu untuk naik."

Raka menatap tangga itu.

"Naik untuk apa?"

Aldren tersenyum.

Senyuman yang terlalu lebar untuk wajah manusia.

"Untuk melihat… jantung menara."

Menara tiba-tiba bergetar lagi.

Namun kali ini lebih kuat.

Dari atas tangga terdengar suara seperti sesuatu berdenyut.

DUM…

DUM…

DUM…

Seperti jantung raksasa yang sedang berdetak di puncak menara.

Aldren berbisik pelan.

"Kalau kau melihatnya… kau tidak akan bisa kembali lagi."

More Chapters