WebNovels

Chapter 8 - Chapter 8 — Terlambat Sadar

Maya mulai ngerasa sepi.

Padahal orang-orang di sekitarnya masih sama. Teman-temannya masih rame. Cowok yang dulu sering bareng dia juga masih ada.

Tapi ada yang beda.

Nggak ada lagi pesan singkat jam malam yang nanya, "udah makan belum?"

Nggak ada lagi suara Rafi yang tiba-tiba muncul, "pulang bareng nggak?"

Nggak ada lagi tatapan itu. Tatapan yang selalu ada, bahkan waktu Maya nggak minta.

Awalnya Maya mikir, ya biasa aja.

Rafi juga pasti sibuk.

Sampai suatu hari dia liat Rafi ketawa.

Bukan senyum tipis yang dipaksain.

Bukan ketawa kecil yang setengah hati.

Ketawa beneran.

Dan bukan karena dia.

Nadira berdiri di samping Rafi. Lagi cerita sesuatu, tangannya gerak-gerak heboh. Rafi cuma ngeliatin, terus ngakak kecil.

Maya berhenti jalan.

Perutnya kayak ditarik.

Aneh.

Dia harusnya nggak peduli.

Rafi kan bukan siapa-siapa.

Tapi kenapa dadanya sesek?

Rafi sendiri masih belum sepenuhnya sembuh.

Setiap Nadira ketawa di depannya, ada bagian kecil di dadanya yang tetap kosong. Tempat yang dulu cuma diisi satu nama.

Maya.

Tapi Rafi capek.

Capek jadi pilihan kedua.

Capek pura-pura nggak sakit.

Nadira beda.

Dia nggak pernah minta Rafi buat jadi apa-apa.

Nggak pernah bandingin.

Nggak pernah bikin Rafi ngerasa kurang.

Sore itu mereka duduk di halte. Hujan tipis.

"Kamu masih mikirin dia ya?" Nadira nanya pelan.

Rafi diam sebentar.

"Iya."

Jujur. Tanpa nutupin.

Nadira cuma angguk. "Nggak apa-apa."

"Harusnya kamu marah," Rafi bilang lirih.

"Kenapa?"

"Karena aku belum bisa sepenuhnya ada di sini."

Nadira senyum tipis. "Aku nggak lagi lomba sama siapa-siapa. Aku cuma mau ada. Sisanya kamu yang tentuin."

Kalimat itu bikin Rafi makin sadar.

Ada orang yang milih dia tanpa syarat.

Dan dia masih nyimpen hati buat orang yang bahkan nggak pernah milih dia.

Beberapa hari kemudian, Maya akhirnya manggil Rafi duluan.

"Fi."

Rafi berhenti. Noleh.

Udah lama banget rasanya nggak dipanggil dengan suara itu.

"Kita jarang ngobrol sekarang," kata Maya, nada suaranya biasa aja. Terlalu biasa.

"Iya," jawab Rafi singkat.

Biasanya dia yang bakal panik nyari topik. Sekarang nggak.

Maya ngerasa ada jarak yang nggak keliatan tapi nyata banget.

"Kamu… deket ya sama Nadira?"

Rafi nggak langsung jawab.

"Iya."

Satu kata. Tapi cukup buat bikin Maya nelen ludah.

"Oh."

Cuma itu yang keluar.

Rafi nunggu. Biasanya Maya bakal lanjut. Kali ini nggak.

Akhirnya Rafi yang ngomong.

"Aku capek, May."

Maya kaget. "Capek apa?"

"Capek jadi orang yang selalu ada, tapi nggak pernah dianggap ada."

Sunyi.

Maya mau jawab, tapi nggak tau harus bilang apa.

Karena jauh di dalam, dia tau itu bener.

Rafi lanjut, suaranya pelan tapi tegas.

"Aku pernah nunggu kamu. Lama banget. Tapi kamu nggak pernah benar-benar nengok."

Kata-kata itu nggak keras.

Nggak marah.

Justru karena pelan… jadi lebih nyakitin.

Maya ngerasa tenggorokannya kering.

"Aku nggak tau…" suaranya mulai goyah.

"Iya," Rafi potong halus. "Kamu nggak tau. Dan itu yang paling sakit."

Kalimat itu jatuh di antara mereka. Berat.

Malamnya, Maya nggak bisa tidur.

Dia buka chat lama. Scroll ke atas.

Isinya kebanyakan dari Rafi.

Pesan panjang. Perhatian kecil. Hal-hal yang dulu dia anggap biasa.

Sekarang semuanya terasa mahal.

Maya baru sadar…

Selama ini dia nggak pernah kehilangan Rafi.

Karena Rafi nggak pernah pergi.

Dan sekarang, waktu Rafi pelan-pelan menjauh…

Dia baru ngerasa kehilangan.

Di sisi lain, Rafi berdiri di depan rumah Nadira.

Nadira lagi cerita soal sekolah lamanya. Tentang gimana dia dulu juga nunggu seseorang yang nggak pernah milih dia.

"Dan akhirnya?" Rafi nanya.

"Akhirnya aku berhenti nunggu," Nadira jawab santai. "Capek sendiri."

Rafi diem.

Kalimat itu kayak tamparan halus.

Dia liat Nadira. Cewek ini nggak minta apa-apa. Nggak maksa. Nggak nahan dia.

Tapi tetap ada.

Rafi tarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya…

dia ngerasa pengen nyoba.

Bukan karena pelarian.

Bukan karena balas dendam.

Tapi karena mungkin… dia juga pantas dipilih.

Sementara Maya?

Dia mulai sadar.

Tapi sadar yang telat.

Dan rasa nyesel itu pelan-pelan tumbuh.

Karena beda antara tau seseorang sayang sama kamu…

dan sadar kamu udah kehilangan dia.

More Chapters