WebNovels

Chapter 13 - Chapter 13 — Setelah Dipilih

Malam itu Rafi nggak langsung tidur.

Dia duduk di tepi kasur, lampu kamar cuma nyala setengah. Ponselnya di tangan. Layar kosong.

Bukan karena nggak ada chat.

Tapi karena dia sengaja nggak buka apa-apa.

Hari ini dia memilih.

Kalimat itu masih berputar di kepalanya.

Aku milih kamu.

Kedengarannya tegas. Pasti. Selesai.

Tapi anehnya, setelah semua jelas… yang datang bukan cuma lega.

Ada sunyi yang beda.

Rafi buka galeri. Scroll tanpa tujuan. Sampai berhenti di satu foto lama.

Bukan foto berdua.

Cuma foto taman belakang sekolah. Bangku kayu itu.

Dia ingat pernah duduk di sana sambil nunggu pesan yang nggak datang.

Sekarang semuanya sudah berubah.

Dia nggak menyesal.

Tapi dia juga nggak sepenuhnya ringan.

Karena memilih berarti mengakhiri sesuatu.

Dan meskipun itu luka… itu tetap pernah jadi bagian dari dirinya.

Rafi menghela napas panjang, lalu mengunci layar.

"Aku nggak boleh setengah-setengah," gumamnya pelan.

Bukan buat Nadira.

Buat dirinya sendiri.

Di sisi lain kota, Nadira juga belum tidur.

Dia duduk di lantai kamar, punggungnya bersandar ke ranjang.

Hari ini Rafi milih dia.

Kalimat itu harusnya bikin dia senyum terus.

Tapi ada satu pertanyaan kecil yang nggak berhenti muncul.

Kalau Maya datang lebih cepat…

apa hasilnya tetap sama?

Nadira benci pikiran itu.

Karena dia nggak mau jadi pilihan karena waktu.

Dia mau dipilih karena hati.

Dia buka chat Rafi. Terakhir tadi sore.

Tangannya sempat ragu buat ngetik.

"Kamu yakin?"

Tiga detik. Lima detik.

Dia hapus.

Kalau dia mulai meragukan hari pertama mereka, hubungan ini bakal berat dari awal.

Nadira akhirnya cuma kirim satu pesan.

"Udah makan?"

Sederhana.

Tapi itu caranya bilang,

"Aku di sini. Bukan buat jadi pelarian. Tapi buat jalan bareng."

Tak lama, balasan masuk.

"Udah. Kamu?"

Nadira senyum kecil.

Nggak meledak bahagia.

Nggak dramatis.

Cuma hangat.

Mereka berdua tahu satu hal yang sama malam itu.

Memilih itu bukan akhir cerita.

Itu awal dari tanggung jawab.

Dan cinta yang sehat bukan tentang menang.

Tapi tentang berani tetap tinggal…

meskipun sama-sama punya luka.

More Chapters