WebNovels

Chapter 2 - Chapter 2 – Batas yang Nggak Kelihatan

Beberapa hari setelah kejadian di kantin, semuanya kelihatan biasa aja.

Maya masih cerita.

Rafi masih dengerin.

Siang itu mereka duduk di taman belakang sekolah. Tempatnya nggak terlalu rame. Ada bangku kayu yang catnya sudah mulai pudar, dan pohon besar yang bikin suasana agak teduh.

Maya cerita lagi.

"Dia hari ini baik banget tau," katanya sambil senyum sendiri. "Tadi dia bawain aku minum."

Rafi cuma angguk kecil. "Oh ya?"

"Iya. Terus dia bilang kemarin itu cuma salah paham. Cewek itu cuma temen kelompok."

Rafi lihat cara Maya senyum. Beda.

Kalau lagi kesel, senyumnya tipis dan dipaksakan.

Kalau lagi seneng, matanya ikut senyum.

Dan sekarang matanya terang.

Harusnya dia ikut seneng.

Harusnya.

"Bagus dong," jawab Rafi pelan.

Maya nengok. "Kamu kok datar banget sih responnya?"

Rafi senyum tipis. "Terus harus gimana? Loncat-loncat?"

Maya ketawa. "Ya nggak gitu juga."

Sunyi sebentar.

Angin sore lewat pelan. Daun-daun gerak pelan di atas mereka.

Maya tiba-tiba nyenggol lengan Rafi. "Eh, makasih ya."

"Buat?"

"Udah dengerin aku terus. Kalau nggak ada kamu, aku bingung mau cerita ke siapa."

Kalimat itu lagi.

Kalimat yang harusnya bikin dia merasa spesial.

Tapi sekarang rasanya beda.

Rafi ngerasa kayak… cuma tempat singgah.

Cuma tempat berhenti sebelum Maya balik lagi ke orang lain.

"Maya," panggilnya tiba-tiba.

"Iya?"

Rafi sebenarnya nggak tahu mau ngomong apa. Dadanya penuh, tapi kata-katanya nggak keluar.

Akhirnya dia cuma bilang, "Nggak capek?"

"Capek apaan?"

"Mikirin dia terus."

Maya terdiam sebentar. "Namanya juga suka."

Jawaban yang sederhana. Tapi cukup bikin Rafi diem.

Namanya juga suka.

Iya.

Rafi juga suka.

Tapi dia nggak pernah punya hak buat ngeluh.

Beberapa hari berikutnya, Rafi mulai sadar satu hal kecil.

Sekarang bukan cuma Farel.

Ada nama lain yang mulai sering muncul.

"Eh, tadi aku duduk sebelahan sama Arsen pas pelajaran kimia," kata Maya suatu siang.

Rafi pura-pura santai. "Yang anak IPA itu?"

"Iya. Ternyata dia lucu juga."

Lucu juga.

Dada Rafi terasa sedikit aneh. Bukan marah. Bukan cemburu yang meledak. Cuma… ada yang geser pelan di dalam dirinya.

"Bukannya kamu lagi deket sama Farel?" tanyanya.

Maya angkat bahu. "Iya sih. Tapi ya nggak ada salahnya punya temen baru."

Temen baru.

Rafi sadar, dia juga dulu cuma "temen".

Dan sampai sekarang tetap di posisi itu.

Malamnya, Rafi buka chat dari Maya.

Maya:

Raf, menurut kamu Arsen orangnya gimana?

Jempol Rafi berhenti di atas layar.

Dia bisa jawab jujur.

Atau dia bisa jawab seperti biasa.

Seperti orang yang selalu mendukung.

Selalu netral.

Selalu ada.

Akhirnya dia ngetik pelan.

Rafi:

Baik kok orangnya.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Maya:

Iya ya? Soalnya tadi dia nawarin aku ikut lomba bareng.

Rafi tatap layar itu lama.

Lomba bareng.

Hal kecil.

Tapi entah kenapa rasanya kayak pelan-pelan dia mulai tergeser.

Dan untuk pertama kalinya, Rafi ngerasa capek.

Bukan capek dengerin cerita.

Tapi capek pura-pura kuat.

Dia rebahin badan di kasur, ponsel masih di tangan.

Kalau suatu hari Maya punya banyak orang baru buat diajak cerita…

apa dia masih bakal duduk di meja ujung kantin itu?

Atau dia cuma bakal jadi kenangan yang nggak penting-penting amat?

Dan di situ, untuk pertama kalinya, Rafi mulai mikir…

Mungkin jadi "selalu ada" itu bukan hal yang membanggakan.

Mungkin itu cuma cara lain untuk bilang

bahwa dia nggak pernah benar-benar dipilih.

More Chapters