WebNovels

Chapter 3 - Bab 3

Pagi masih gelap waktu Andini bangun. Tubuhnya agak berat karena semalam tidurnya kacau, tapi suara ibunya dari dapur bikin dia akhirnya bangun juga.

"Ndin, tos hudang? Bantu Ibu heula, nya," panggil ibunya pelan.

Andini mengucek mata. "Heeh, Bu… sebentar."

Udara pagi menusuk kulit. Dapur kecil itu sudah ramai suara: panci berdenting, minyak di wajan berdesis, bau bawang goreng tipis-tipis. Ibunya sedang melumuri tahu dengan bumbu sebelum digoreng.

"Bu, tadi gorengannya ditambahin sereh? Baunya beda," tanya Andini sambil mengambil pisau.

"Lah teu. Mungkin kompor-na," jawab ibunya tanpa menoleh. "Atuh potong daun bawang heula. Sing rapih."

Andini mengangguk. Tangannya bergerak pelan, masih ngantuk. Suara ayam tetangga mulai ribut, sementara langit masih biru pekat.

"Bu," kata Andini tiba-tiba, "raga di sepeda masih kuat, kan? Kemarin sempat goyang."

Ibunya menghela napas kecil. "Nya goyang saeutik. Tapi masih kuat kok. Nanti Ibu talikeun deui pake kawat."

Andini hanya menggumam. Dia tahu sepeda itu sudah tua. Ban belakangnya saja kadang bunyi "tek-tek" kalau jalan miring sedikit. Tapi ya cuma itu yang mereka punya untuk mengangkut dagangan.

Setelah semua gorengan selesai—tahu, bala-bala, pisang—mereka mulai mengangkat barang ke raga. Sayuran dari kebun belakang juga dimasukkan: kangkung, daun singkong, sedikit cabai kecil-kecil.

Andini memegang bagian setang sepeda, ibunya mendorong dari belakang. Jalan menuju pasar masih sepi. Hanya ada satu dua motor lewat tanpa suara. Embun masih nempel di rumput-rumput liar.

"Andini mah pucet amat," tegur ibunya, setengah bercanda.

"Kurang sare," jawab Andini.

"Semalam mikir wae? Eta Bandung deui?"

"Aduh, Bu… ngobrolin Bandung mah nanti. Sekarang mah mikir dagangan dulu," katanya sambil menahan senyum hambar.

Ibunya tidak menjawab, hanya mengangguk. Langkah mereka makin cepat saat pasar sudah terlihat. Lampu-lampu kios masih kuning redup, sebagian pedagang baru buka terpal.

Mereka berhenti di lapak kecilnya. Hanya meja kayu pendek dan tikar lusuh. Andini buru-buru menggelar tikar itu. Sudah robek di dua sisi, tapi masih bisa dipakai.

"Taruh gorengan di depan, Bu. Yang bala-bala paling laku biasanya," katanya.

"Cik-cik, Andini mah sok pinter," ibu menjawab sambil tertawa kecil.

Tak lama pembeli pertama datang. Ibu-ibu muda dengan anak kecil.

"Bu, bala-balana tilu, pisangna dua," katanya.

Andini melayani sambil tersenyum. Suara pasar mulai ramai: pedagang ikan teriak harga, suara plastik kresek, suara anak kecil merengek minta jajan. Bau tanah basah bercampur minyak goreng. Berisik, tapi Andini sudah biasa.

Dagangannya cepat jalan hari itu. Sayurannya banyak dicari. Beberapa bapak-bapak bahkan mampir beli gorengan buat sarapan.

"Alhamdulillah, laris ayeuna," gumam ibunya sambil mengipas-ngipas wajah.

"Heeh, Bu. Mungkin karena cuaca cerah," timpal Andini.

Tapi dalam hati, dia cuma merasa beruntung. Entah sampai kapan keberuntungan kayak gini bisa bertahan.

Menjelang tengah hari, bala-bala tinggal dua biji. Sayuran sudah hampir habis, tinggal daun singkong sedikit.

"Udahan wae, Ndin. Panas pisan," kata ibunya.

Andini menghela napas lega. Punggungnya pegal karena duduk jongkok lama.

"Mangga bereskeun, Bu. Daripada nunggu… juga udah habis semua."

Mereka mulai mengemasi lapak. Tikar dilipat terburu-buru. Raga sepeda diisi kantong plastik kosong, kawat, dan sisa-sisa peralatan dagang. Matahari bikin kepala pening sedikit.

Waktu mendorong sepeda pulang, ibunya menatap Andini.

"Ndin… kamu tuh kuat, nya. Sabar pisan."

Andini tidak langsung jawab. Tenggorokannya agak kering.

"Heeh, Bu… kuat lah. Soalnya… ya kudu kuat."

Tapi pikirannya langsung balik ke foto semalam. Ke tulisan Mandarin kecil itu. Ke kemungkinan-kemungkinan yang dia sendiri nggak berani bayangin.

Ia menunduk, pura-pura mengatur raga sepeda.

Di sepanjang jalan pulang, suara ban sepeda yang bunyi "tek-tek… tek-tek" rasanya jadi makin keras, seolah ikut ngetawain pikirannya yang berantakan.

--------

Siang itu rumah sudah sepi lagi. Ibu sedang di dapur, merapikan sisa-sisa dagangan. Andini duduk di kursi teras, menatap halaman tanpa fokus. Angin siang bikin rambutnya bergerak pelan.

Dia melamun. Entah apa yang dia pikirkan. Yang jelas bukan soal pekerjaan, bukan soal pasar, bukan juga soal Bandung. Pikirannya kosong, tapi berat. Kayak ada sesuatu yang nempel, tapi dia nggak bisa sebut itu apa.

Kadang ingat foto ayah. Kadang mikir soal Aki. Kadang cuma… bengong.

Tangannya memainkan ujung selendang yang dia pakai sejak pagi. Jemarinya kotor sedikit bekas minyak gorengan. Dia belum sempat cuci tangan.

"Ndiiin…" suara seseorang muncul dari depan pagar.

Andini kaget sedikit. Dia menoleh. Raka berdiri di sana, nyender di pagar bambu, pura-pura santai. Cowok itu pakai kaus hitam, celananya bersih banget, kontras sama kaki Andini yang masih berdebu.

"Oh… Raka," jawab Andini datar. Bukan ketus. Cuma capek.

Raka tersenyum kecil. Senyum sok cuek, tapi kedengeran dipaksain. "Dari tadi kelihatan melamun. Teu nanaon?"

Andini menggeleng. "Teu. Biasa aja. Habis dari pasar. Capek."

Raka masuk tanpa nunggu dipersilakan, dorong pagar pelan. "Ibu ada?"

"Ada… di dapur. Ngapain sih ke sini?" tanya Andini sambil nyempilkan rambut ke belakang telinga.

Raka duduk di kursi sebelahnya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk bikin Andini sadar. Andini menarik sedikit kakinya ke dalam, refleks.

"Liat kamu lewat tadi pagi," kata Raka. "Pas dorong sepeda ke pasar. Aku lagi bantu Pak Ujang angkut karung beras."

"Oh." Andini hanya mengangguk. Dia nggak terlalu tahu harus jawab apa.

Raka meliriknya. "Kamu tuh dari jauh kelihatan ngantuk pisan. Jangan maksain lah."

"Tadi udah tidur. Tapi… ya gitu, kebangun-bangun terus."

Raka mengangguk pelan. Kayak ngerti, tapi sebenarnya dia nggak tahu apa yang Andini pikirkan.

Suasana teras jadi canggung. Hanya suara ayam tetangga berkotek.

Raka memecah diam. "Andin… kamu besok ke pasar lagi?"

Andini: "Heeh, pasti. Kan tiap hari bantu Ibu."

"Kalau perlu bantuan, bilang lah. Jangan semua diangkat berdua. Raga sepeda kamu udah hampir copot itu mah."

Andini tersenyum tipis. "Kamu tuh ngomong kayak bukan anak juragan aja."

Raka menjentikkan bibir. "Jangan gitu atuh. Juragan mah Bapak, bukan aku."

"Tapi tetep weh, orang-orang bilang kamu anaknya Pak Suhendar. Ya takut juga orang minta bantuan ke kamu."

Raka mencibir pelan. "Iya, orang suka mikir gitu gara-gara Bapak. Padahal aku mah biasa wae."

Andini mengangguk kecil. Dalam hati, dia sering dengar cerita soal Suhendar. Orang kaya yang suka meremehkan orang kecil. Kadang ngomong seenaknya. Tapi Raka beda. Dari kecil dia main sama anak kampung juga. Cuma… tetap aja, dia anak juragan. Batasnya selalu ada.

Raka menatap Andini sebentar. Seperti mau bilang sesuatu, tapi nahan.

Akhirnya dia bilang yang lain dulu, "Tadi liat kamu kayak banyak pikiran."

Andini mengusap tengkuk. "Heeh… mungkin."

"Apa gara-gara Bandung?" tebak Raka.

"Bukan itu aja."

Dia berhenti ngomong. Lidahnya terasa berat. Dia nggak mau cerita banyak. Belum siap.

Raka memperhatikan wajahnya lama, tapi tidak menekan. "Kalau mau cerita, kapan-kapan juga bisa. Aku mah ada aja."

Andini menunduk, memainkan jemarinya. Dia tidak tahu harus jawab bagaimana. Raka selalu begitu. Hadir tanpa ribut. Sok santai, tapi Andini tahu dari tatapannya… cowok itu menyimpan sesuatu. Perasaan yang dia pura-pura nggak lihat.

Kadang Andini bingung kenapa Raka repot. Padahal dia anak juragan. Rumahnya besar. Keluarganya kaya. Dia bisa pilih perempuan lain yang lebih… ya, lebih apa pun daripada Andini.

"Terserah kamu lah," kata Andini akhirnya, pelan, hampir kayak gumaman.

Raka tersenyum kecil—senyum yang agak menyedihkan. "Ndin."

"Heeh?"

"Jangan hilang-hilang aja. Kalau kamu pergi kerja ke kota… bilang dulu."

Andini tersentak sedikit. "Siapa bilang aku pergi?"

"Orang kampung mah gosipnya cepet," jawab Raka, nada setengah bercanda. Tapi matanya serius.

Andini mengalihkan pandang. Dadanya sedikit sesak, entah kenapa.

"Aku… belum tahu, Rak."

"Ya. Belum tahu," ulang Raka, suaranya pelan. "Tapi kalau kamu jadi pergi, aku cuma… ya, pengen kamu baik-baik aja."

Andini tidak jawab. Angin lewat, membawa bau tanah kering. Ibunya di dalam rumah batuk kecil, mungkin kelelahan. Andini meremas ujung selendang.

Raka akhirnya berdiri. "Aku balik dulu, Ndin. Bantu Bapak bentar."

"Heeh."

Raka melangkah keluar pagar. Sebelum pergi, dia sempat menoleh sekali.

"Ndin… jangan banyak mikir sendirian."

Andini tidak membalas apa-apa. Hanya mengangguk sedikit.

Waktu Raka sudah jauh, Andini bersandar ke kursi.

Pikirannya tambah penuh. Bukan soal Bandung. Bukan soal ayah.

Sekarang ada Raka juga.

Dia menutup wajah sebentar.

"Hadeuh…"

Dia sendiri sebenarnya tidak tahu, apa yang benar-benar dia mau.

-

More Chapters