WebNovels

Chapter 6 - Tetangga nyinyir

Jangan ngomong soal status atau kasta, Ndin! Buat saya itu nggak penting," potong Raka cepat.

"Kasih saya waktu, Rak," balas Andini pelan sambil menunduk. "Saya nggak mau salah ambil keputusan. Saya perlu mikir dulu, mau nerima atau gimana. Saya nggak mau pertemanan kita malah rusak."

Raka akhirnya mengangguk setuju walau tampak kecewa. "Ya sudah, saya tunggu jawabannya. Kapan pun kamu siap."

Perjalanan pulang dari warung batagor terasa sunyi. Raka melajukan motornya pelan membelah dinginnya malam Desa Gelagah Sari. Begitu memasuki gang menuju rumah, mereka melewati kerumunan ibu-ibu yang sedang ngerumpi. Di sana ada Bi Icih yang langsung memasang wajah sinis.

"Tuh tingali, si Andini. Pake baju syar'i tapi tetep aja pinter narik perhatian anak orang kaya," sindir Bi Icih ketus, suaranya sengaja dikeraskan.

Andini mengeraskan rahangnya, memilih untuk tetap diam. Begitu motor Raka berhenti di depan pagar rumah, seorang remaja laki-laki yang sedang duduk santai di teras sambil memangku gitar langsung menghentikan petikannya. Itu Galang, adik Andini yang masih SMP.

"Nuhun ya, Rak. Hati-hati di jalan," kata Andini pendek. Begitu motor Raka menjauh, Andini melangkah masuk ke halaman.

"Cieee, Teteh... Meni gaya diantar Kang Raka," goda Galang sambil nyengir, matanya melirik penampilan kakaknya yang masih pakai baju syar'i.

Andini mencoba mengatur napasnya agar tidak terpancing emosi. "Berisik kamu, Lang. Masuk sana, udah malem."

Galang bangkit dari kursi teras, mengikuti langkah kakaknya masuk ke dalam rumah. "Tumben mukanya ditekuk gitu, Teh? Habis ditembak Kang Raka ya tadi?"

Andini tersentak, langkahnya terhenti tepat di pintu depan. Dia menoleh ke arah adiknya dengan tatapan kaget. "Kok kamu ngomong gitu? Tahu dari mana kamu?"

Galang tertawa kecil melihat reaksi kakaknya yang kaget. "Yee, ketebak kali dari muka Teteh. Lagian Kang Raka mah keliatan banget sukanya. Bingung ya mau jawab apa? Secara dia kan anak orang kaya."

Andini hanya bisa mendengus, tidak mau memperpanjang urusan dengan adiknya yang sok tahu itu. Dia berjalan menuju dapur, di mana Bu Savia sedang sibuk mengaduk adonan kue di dalam wadah besar.

"Ibu... sudah, biar Andini yang lanjutin adonannya," kata Andini lembut sambil mendekat ke arah ibunya.

"Eh, sudah pulang, Ndin? Nggak apa-apa, sedikit lagi beres kok. Kamu mah ganti baju aja terus tidur, besok pagi aja bantu ibu goreng bala- bala " jawab Bu Savia sambil tersenyum hangat.

Udara dingin subuh masih menyelimuti Desa Gelagah Sari saat jam dinding menunjukkan pukul setengah lima pagi. Tanpa perlu alarm, Andini sudah terjaga. Matanya memang masih sedikit sembab karena kurang tidur, tapi rutinitas tidak bisa menunggu. Setelah mencuci muka, ia langsung melangkah ke dapur yang sudah mulai hangat oleh uap penggorengan.

​"Ndin, bantu Ibu angkat pisang gorengnya, bisi gosong," ucap Bu Savia lembut.

​Andini mengangguk pelan. Tangannya yang terampil mulai memasukkan adonan bala-bala ke dalam minyak panas, lalu mengangkat pisang goreng yang sudah berwarna keemasan. Mereka bekerja dalam hening, meski di dalam dada Andini, badai semalam belum benar-benar reda.

​Biasanya, setelah semua gorengan matang, Andini bakal semangat membantu ibunya bawa dagangan ke depan. Namun pagi ini, Bu Savia seolah mengerti kondisi anaknya yang lebih banyak melamun.

​"Ndin, hari ini mah Ibu biar diantar Galang saja jualan teh. Kamu kelihatannya kurang enak badan. Istirahat saja dulu di rumah," ujar Bu Savia sambil merapikan dagangan ke dalam wadah.

​Andini tidak menolak. Setelah ibu dan adiknya berangkat, ia hanya duduk diam di kursi teras rumahnya. Dagunya ditopang oleh tangan, matanya menatap kosong ke arah jalanan desa yang mulai ramai oleh orang-orang yang berangkat ke sawah. Pikirannya berputar pada ucapan Raka semalam dan sindiran tajam Bi Icih. Hatinya benar-benar galau, jiga benang kusut yang susah diurai.

​Butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran, Andini akhirnya memutuskan untuk main ke rumah Alisa. Ia butuh teman bicara, dan cuma Alisa tempat dia bisa terbuka.

​Sesampainya di sana, Alisa sedang berada di rumah bersama ibu dan ayahnya. Suasana rumah Alisa yang tenang sedikit memberikan kesejukan bagi Andini. Setelah berbasa-basi sebentar sama orang tua Alisa, keduanya memilih duduk di bangku kayu di samping rumah agar lebih leluasa berbicara.

​"Tumben, Ndin, pagi-pagi mukanya sudah ditekuk kitu? Jiga yang habis nelen asem jawa," tanya Alisa sambil mencoba tersenyum, meski matanya juga tampak sedikit lelah.

​Andini menghela napas panjang. Dia menatap sahabatnya itu dengan ragu sebelum akhirnya bicara. "Lis... semalam Raka nembak saya."

​Alisa tersentak. Gerakan tangannya yang sedang merapikan ujung bajunya mendadak kaku. Ada kilatan aneh di matanya—sebuah keterkejutan yang nyata—namun dengan cepat ia menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan ekspresi wajahnya dari Andini.

​"Raka... nembak kamu?" tanya Alisa pelan, suaranya terdengar sedikit bergetar namun ia berusaha menormalkannya kembali.

​"Iya, pas di warung Mang Ujang. Aku bingung, Lis. Kamu tahu sendiri kan Raka itu siapa, dan aku mah cuma apa atuh. Aku nggak percaya diri, Lis. Takut nanti malah jadi omongan orang desa," curhat Andini dengan nada penuh beban.

​Alisa terdiam cukup lama. Dia menatap ke arah kebun di depan mereka dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Terus, jawaban kamu gimana? Diterima nggak?" tanya Alisa tanpa menoleh.

​"Aku belum jawab. Aku minta waktu. Menurut kamu gimana, Lis? Aku teh harus gimana?" Andini menatap Alisa penuh harap, mencari sandaran jawaban.

​Alisa menarik napas pendek. Dia memaksakan sebuah senyum kecil, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kalau soal perasaan mah, Ndin... aku nggak bisa kasih pendapat banyak. Itu mah hatimu yang jalanin. Tanya saja sama hatimu sendiri. Kamu sayang nggak sama dia? Kamu siap nggak dengan risikonya?"

​Jawaban Alisa terasa begitu netral, bahkan terkesan dingin bagi Andini. Setelah itu, Alisa lebih banyak diam dan tampak murung. Dia yang biasanya ceria dan banyak bicara, tiba-tiba jadi pendiam pisan. Andini menyadari perubahan sikap itu. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Alisa, seolah ada beban yang tiba-tiba berpindah ke pundak sahabatnya itu.

​Merasa suasana sudah nggak enak, Andini akhirnya pamit pulang. Sesampainya di rumah, dia langsung masuk ke kamar dan berbaring di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang kusam.

​Pikirannya kini bercabang dua. Pertama, tentang perasaannya sendiri pada Raka; apakah rasa nyaman selama ini benar-benar cinta atau cuma sebatas teman? Dan yang kedua, yang lebih mengganggunya, adalah sikap Alisa tadi. Kenapa Alisa mendadak murung setelah mendengar berita itu?

​"Naha Alisa teh jadi kitu? Apa dia juga punya rasa sama Raka?" bisik Andini dalam hati. Pertanyaan itu mendadak membuat dadanya terasa jauh lebih sesak.

More Chapters