WebNovels

Chapter 5 - Chapter 5: Cahaya Senja dan Janji di Atas Kertas

Setelah ketegangan di kantor redaksi, Maya menarikku keluar. Ia tidak membawaku pulang ke loteng, melainkan ke sebuah taman kota yang dipenuhi pohon-pohon angsana yang sedang meranggas. Angin sore berembus pelan, membawa aroma sate ayam yang dibakar di pinggir jalan dan suara tawa anak-anak yang bermain sepatu roda.

"Kau luar biasa tadi," ucap Maya sambil duduk di bangku taman yang cat hijaunya sudah mengelupas. "Satria itu memang sombong. Dia pikir karena ayahnya seorang sastrawan besar, dia bisa mengatur imajinasi semua orang."

Aku duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk mencium aroma sabun mandi bayi yang selalu melekat pada pakaiannya. "Aku hanya mengatakan apa yang ada di kepalaku, Maya. Di tempat asalku... aku sering dianggap aneh karena memikirkan hal-hal itu."

Maya menoleh, menatapku dengan mata cokelatnya yang hangat. "Aneh? Arlan, di dunia yang membosankan ini, menjadi aneh adalah sebuah anugerah. Jangan pernah biarkan siapa pun mematikan binar di matamu saat kau membicarakan masa depan."

Aku terdiam. Kata-kata itu adalah sesuatu yang tidak pernah kudengar di dunia modern. Di sana, keanehanku adalah alasan bagi mereka untuk merundungku. Di sini, di tahun 1982, di samping gadis ini, keanehanku adalah sebuah pesona.

"Maya," panggilku pelan. "Kenapa kau begitu baik padaku? Kau bahkan belum mengenalku seminggu."

Maya tersenyum tipis, matanya menatap ke arah matahari yang mulai tenggelam, menciptakan warna oranye yang dramatis di langit. "Entahlah. Mungkin karena saat aku melihatmu pertama kali di loteng itu, kau terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan dunianya. Kau terlihat... sangat kesepian. Dan aku tahu rasanya tidak memiliki siapa pun untuk mendengarkan cerita kita."

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tasnya dan sebuah pulpen logam. Ia menuliskan sesuatu, lalu merobek kertas itu dan memberikannya padaku.

"Untuk Arlan: Penulis yang datang dari mimpi. Jangan berhenti menulis, karena duniamu adalah tempatku ingin bersembunyi."

Tanganku gemetar saat menerima kertas itu. Ini bukan sekadar tulisan. Ini adalah pengakuan bahwa kehadiranku di sini memiliki arti bagi seseorang.

Namun, kebahagiaan itu tiba-tiba terganggu oleh sensasi dingin yang merambat dari ujung kakiku. Perlahan, warna oranye di langit mulai memudar menjadi abu-abu yang pucat. Suara riuh taman kota mendadak sunyi, digantikan oleh suara tarikan napas yang berat dan mekanis.

Sshhh... haaa... sshhh... haaa...

Itu suara ventilator. Aku mengenalnya, meski aku belum pernah melihatnya.

"Maya? Kau lihat itu?" bisikku panik. Aku menunjuk ke arah langit, di mana awan-awan mulai membentuk pola seperti grafik detak jantung yang naik turun.

Maya tidak menjawab. Ia tetap duduk di sana, namun wajahnya mulai terlihat transparan. Senyumnya membeku. "Arlan... tetaplah di sini," ucapnya, namun suaranya bergema seperti berasal dari bawah air. "Jangan biarkan mereka membawamu pulang."

"Maya! Apa yang terjadi?" aku mencoba meraih tangannya, namun jemariku menembus lengannya seolah ia terbuat dari asap.

Lalu, sebuah suara yang sangat kukenali—suara ibuku—terdengar sangat dekat, seolah ia sedang berbisik tepat di telingaku.

"Arlan, ini sudah setahun, Sayang... Dokter bilang otot-ototmu mulai mengecil... Ibu mohon, beri kami tanda kalau kau masih di sana..."

Setahun? Aku tersentak. Di dunia ini, aku baru merasa lewat beberapa hari. Apakah waktu di dunia nyata berjalan jauh lebih cepat?

Aku memejamkan mata dan berteriak sekuat tenaga, mencoba mengusir suara itu. Aku tidak ingin tahu tentang otot yang mengecil. Aku tidak ingin tahu tentang rumah sakit. Aku ingin tetap di sini, di bangku taman ini, bersama Maya.

Saat aku membuka mata, semuanya kembali normal. Maya sedang menatapku dengan cemas, tangannya (yang kini kembali padat) memegang bahuku. "Arlan! Kau melamun lagi. Kau berkeringat dingin!"

Aku terengah-engah, memeluk buku catatan yang ia berikan tadi seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menjagaku agar tidak hanyut.

"Aku tidak apa-apa," bohongku untuk kesekian kalinya. "Hanya... hanya kelelahan."

Aku tahu sekarang. Dunia ini adalah pelarianku, tapi dunia nyata adalah pemburu yang tidak akan pernah berhenti mengejarku. Jika aku ingin tetap di sini, aku harus membuat keberadaanku di dunia ini menjadi lebih kuat dari sekadar tulisan di koran. Aku harus menjadi bagian dari sejarah dunia ini, agar aku tidak bisa dihapus begitu saja.

"Maya," kataku dengan nada yang lebih tegas. "Besok, bawa aku menemui penerbit buku terbesar di kota ini. Aku ingin menulis novel. Bukan fiksi ilmiah biasa, tapi sesuatu yang akan diingat orang selamanya."

Maya menatapku lama, lalu mengangguk pelan. "Apapun untukmu, Arlan."

Malam itu, di bawah lampu jalan yang temaram, aku berjanji pada diriku sendiri: Aku akan menukar seluruh hidupku di masa depan demi satu kehidupan yang berarti di masa lalu.

More Chapters