WebNovels

Chapter 7 - Chapter 7: Batas Cakrawala dan Setangkai Anggrek

Pagi di tahun 1982 terasa seperti lukisan cat air yang belum kering. Maya mengajakku berkeliling kota dengan sepeda kumbangnya. Aku duduk di boncengan belakang, memegang tepian kursi kayu sambil memperhatikan jalanan.

Dunia ini terasa begitu luas, namun ada sesuatu yang mengusikku. Setiap kali aku menatap ke arah cakrawala, di mana gedung-gedung rendah bertemu dengan langit, warnanya tampak sedikit terlalu sempurna—seperti gradasi yang dibuat oleh kuas, bukan oleh alam.

"Kenapa diam saja, Arlan? Kau tidak suka melihat pasar loak?" tanya Maya sambil mengayuh pedal dengan semangat.

"Bukan begitu. Aku hanya berpikir... sampai mana kota ini berakhir, Maya? Jika kita terus bersepeda, apakah kita akan sampai ke ujung dunia?"

Maya tertawa, suaranya beradu dengan denting bel sepedanya. "Ujung dunia? Kau bicara seperti pelaut abad pertengahan. Kota ini berakhir di perbatasan hutan jati di utara dan pelabuhan di selatan. Memangnya kau mau pergi ke mana?"

Aku terdiam. Aku ingin bilang bahwa di duniamu yang "asli", kota tidak pernah berakhir. Ia tersambung oleh jalan tol, serat optik, dan satelit. Di sini, segalanya terasa terisolasi, seperti sebuah diorama di dalam kotak kaca yang indah.

Kami berhenti di sebuah toko buku tua bernama "Lentera". Di depannya, sebuah mobil sedan hitam yang mengkilap terparkir. Satria ada di sana, sedang dikerumuni oleh beberapa gadis remaja yang membawa buku untuk ditandatangani.

Satria melihat kami. Ia menyerahkan pulpennya pada salah satu gadis, lalu melangkah menghampiri kami dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

"Wah, sang 'Vusioner' sedang jalan-jalan," sindir Satria sambil melirik sepeda tua Maya. "Kira-kira fiksi ilmiah macam apa lagi yang kau kumpulkan dari tumpukan barang rongsokan ini, Arlan?"

Maya melipat tangannya di dada. "Setidaknya dia mencari inspirasi dari kehidupan nyata, Satria. Bukan hanya duduk di rumah mewah dan menulis tentang penderitaan rakyat yang tidak pernah kau rasakan."

Satria mengabaikan Maya. Ia menatapku tajam. "Arlan, aku akui tulisanmu di koran itu menarik. Tapi novel? Itu urusan lain. Novel butuh napas panjang. Kau butuh sejarah. Dan anak baru sepertimu... kau tidak punya akar di sini."

Aku turun dari boncengan sepeda. Aku menatap matanya. "Mungkin aku tidak punya akar, Satria. Tapi aku punya sayap. Dan terkadang, kau butuh melihat dunia dari atas untuk mengerti ke mana arah angin bertiup."

Satria mendengus, namun ada sedikit keraguan di matanya. Ia berbalik dan masuk ke mobilnya tanpa kata lagi.

"Jangan dengarkan dia," bisik Maya. Ia menarik tanganku masuk ke toko buku. Di dalam, bau kertas tua dan debu menyambutku—bau yang paling kucintai.

Aku berjalan menuju rak bagian belakang, tempat buku-buku sejarah dan geografi berada. Aku membuka sebuah peta kota. Jantungku berdegup kencang saat melihat detailnya. Peta itu tampak lengkap, namun saat aku mencoba membaca nama jalan di pinggiran kota yang paling jauh, tulisannya tampak buram. Seolah-olah ingatanku—atau imajinasiku—belum "memproses" bagian itu.

Zuuuut—

Lagi. Kepalaku berdenyut.

Di antara deretan buku-buku tua itu, aku melihat sebuah pemandangan yang mustahil. Di celah antara rak sastra dan sejarah, muncul sebuah layar monitor rumah sakit yang menampilkan grafik hijau yang bergerak naik turun dengan lemah.

Pip... pip... pip...

Suaranya sangat pelan, tapi sangat nyata.

"Arlan? Lihat ini!" Maya memanggilku dari bagian depan. Ia memegang sebuah bunga anggrek putih yang diletakkan di dalam vas kecil di atas meja kasir. "Bunga ini cantik sekali, bukan?"

Aku mendekat, mencoba mengabaikan monitor imajiner yang baru saja kulihat. Saat aku menyentuh kelopak anggrek itu, aku tersentak.

Dingin. Kelopak itu terasa sedingin es.

"Kenapa, Arlan?"

"Bunga ini... sangat dingin, Maya."

Maya menyentuhnya juga, lalu menatapku heran. "Dingin? Ini hangat, Arlan. Matahari sedang terik di luar."

Aku menarik tanganku. Aku tahu apa yang terjadi. Otakku mulai gagal memisahkan suhu. Di dunia nyata, mungkin mereka sedang mengompres tubuhku dengan es untuk menurunkan demam pasca-operasi, atau mungkin AC di ruang ICU sedang disetel terlalu rendah.

Aku menatap Maya. Wajahnya begitu ceria, begitu nyata. Aku tidak ingin bunga ini dingin. Aku tidak ingin kota ini memiliki batas.

"Maya," kataku dengan suara sedikit gemetar. "Ayo kembali ke loteng. Aku harus menulis sekarang. Aku harus menulis lebih banyak lagi."

Aku harus memperluas peta ini. Aku harus menuliskan detail setiap sudut kota, setiap aroma bunga, dan setiap perasaan yang ada, agar dunia ini tidak runtuh. Agar monitor hijau itu tidak pernah menggantikan wajah Maya di hadapanku.

More Chapters