WebNovels

Chapter 10 - Bab 10: Gema yang Tidak Bisa Dihentikan

Langit di atas Zona Terlarang berdenyut.

Bukan petir. Bukan awan.

Melainkan getaran halus—seperti dunia baru saja menarik napas panjang setelah lama tertahan.

Li Yun merasakan dadanya ikut bergetar.

Ruang Napas di dalam tubuhnya tidak lagi kosong sepenuhnya. Ada jejak—bekas kehampaan yang telah diisi dan dikosongkan kembali. Rasanya… lebih luas.

"Jangan senang dulu," kata Shen Yao, suaranya rendah. "Apa yang kau lakukan barusan tidak akan bisa disembunyikan."

Li Yun berdiri perlahan. Kakinya masih lemah, tapi ia tidak jatuh.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya. "Kenapa semuanya terasa… berbeda?"

Shen Yao menatap ke kejauhan, ke arah kabut yang mulai menipis.

"Karena kau melakukan sesuatu yang sudah ribuan tahun tidak terjadi," katanya.

"Kau membiarkan dunia memilih, tanpa memaksanya."

Ia berbalik.

"Dan dunia membenci itu—karena itu berarti kontrol hilang."

Jauh dari Zona Terlarang, di aula utama Sekte Langit Putih, lonceng kuno berdentang sendiri.

DUNG—!

satu.

DUNG—!

dua.

Para tetua yang sedang bermeditasi membuka mata serempak.

Di tengah aula, sebuah piringan giok retak—artefak pemantau Napas Langit—mengeluarkan cahaya kacau.

"Arah timur…" gumam seorang tetua tua. "Zona Heiyuan."

Seorang pria berjubah emas berdiri perlahan. Auranya tenang, tapi menekan langit-langit aula.

"Pemburu kita?" tanyanya.

"Putus," jawab murid pelapor dengan suara gemetar. "Semua. Tidak ada sinyal kembali."

Keheningan jatuh.

Pria berjubah emas menyipitkan mata.

"Jadi Pewaris itu bukan hanya hidup," katanya pelan,

"tapi sudah membuat dunia merespons."

Ia menoleh.

"Panggil Penjaga Tingkat Langit."

Beberapa tetua tersentak.

"Itu terlalu cepat—!"

"Tidak," potongnya. "Kalau dibiarkan, sistem akan mulai runtuh dari bawah."

Tangannya mengepal.

"Kali ini, kita hapus nafasnya, bukan tubuhnya."

Kembali di Zona Terlarang.

Li Yun tiba-tiba berhenti berjalan.

"Ada yang melihat," katanya pelan.

Shen Yao tersenyum tipis.

"Bagus. Kau mulai peka."

Li Yun menatap tangannya sendiri.

"Aku tidak ingin perang," katanya jujur.

Shen Yao terdiam sejenak.

"Perang tidak peduli pada keinginan," jawabnya. "Apalagi ketika kau adalah jawabannya."

Mereka sampai di tepi reruntuhan altar kuno. Di tengahnya terdapat cekungan bundar—bekas sesuatu yang pernah tertanam.

Shen Yao berlutut, menyentuhnya.

"Di sinilah dulu para Penjaga Langit bersumpah," katanya lirih. "Dan di sinilah mereka mati."

Li Yun merasakan Ruang Napasnya beresonansi.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyanya.

Shen Yao berdiri.

"Sekarang," katanya tegas,

"kau harus belajar bernapas dengan sadar."

Ia menatap Li Yun langsung ke mata.

"Karena musuh berikutnya tidak akan mati ditelan tanah."

Angin berhembus.

Dan jauh di atas langit kelabu,

sesuatu yang lebih tua dari sekte mulai memperhatikan.

More Chapters