WebNovels

Chapter 6 - Bab 6: Perempuan yang Tidak Seharusnya Ada

Kesadaran Li Yun kembali perlahan.

Hal pertama yang ia rasakan bukan sakit—

melainkan ritme.

Napasnya mengalir teratur, dalam, seolah ada tangan tak terlihat yang menuntunnya. Ruang Napas di dalam dadanya masih ada, masih berdenyut… tapi tidak lagi liar.

Ia membuka mata.

Api kecil menyala di tengah gua. Cahayanya lembut, kehijauan. Bai Shun telah diseret ke sudut, terikat oleh sulur cahaya tipis yang menahan tubuh dan energinya.

Dan di depan Li Yun—

perempuan itu duduk bersila, telapak tangannya menghadap ke arah dadanya.

"Jangan bergerak," katanya santai. "Kalau ritmenya rusak, aku juga tidak bisa menahan ledakannya."

Li Yun menelan ludah.

"Apa… yang kau lakukan?"

"Menjaga agar kau tidak mati dengan cara paling bodoh," jawabnya datar.

Ia menarik tangannya perlahan. Udara di antara mereka bergetar halus, lalu tenang sepenuhnya.

Perempuan itu berdiri.

"Tingkat Napas Awal, tapi Ruang Napasmu hampir kolaps. Kalau tadi kau menyerang sekali lagi, tubuhmu akan hancur sebelum sekte sempat membunuhmu."

Li Yun terdiam.

"…terima kasih."

Perempuan itu meliriknya.

"Hm. Ucapan terima kasih bisa menyusul nanti. Sekarang jawab."

Tatapannya menajam.

"Siapa yang memberimu warisan ini?"

Li Yun menggeleng.

"Aku tidak tahu namanya. Hanya… suara."

Perempuan itu tidak tampak terkejut.

"Seharusnya begitu," gumamnya pelan. "Dia memang selalu menghilang sebelum menjelaskan apa pun."

Li Yun mengangkat alis.

"Kau… mengenalnya?"

Perempuan itu terdiam sejenak.

Lalu ia tersenyum kecil, tapi tidak ada kehangatan di sana.

"Dulu," katanya. "Sangat dulu."

Ia berbalik dan menatap dinding gua yang penuh simbol.

"Namaku Shen Yao."

Li Yun membeku.

Nama itu—

ia tidak tahu mengapa—membuat Ruang Napasnya bergetar pelan, seperti memberi hormat.

Shen Yao menyadarinya.

"…jadi kau memang terhubung penuh," katanya lirih. "Menarik."

Li Yun menarik napas hati-hati.

"Kau bilang kau bukan musuh. Tapi juga bukan bagian dari sekte."

Shen Yao tertawa pelan.

"Sekte Langit Putih?" katanya meremehkan. "Mereka hanya pencuri yang belajar bicara indah."

Ia melangkah mendekat, lalu berjongkok sejajar dengan Li Yun.

"Dengar baik-baik," katanya serius.

"Warisan yang kau pegang adalah alasan mengapa dunia ini patah."

Li Yun menahan napas.

"Ribuan tahun lalu," lanjut Shen Yao, "Napas Langit mengalir bebas. Tidak ada sekte besar. Tidak ada hierarki kultivasi yang memaksa."

"Lalu manusia menjadi rakus."

Suaranya dingin.

"Mereka memotong Napas Langit, memecahnya menjadi sistem—tingkat, teknik, inti. Sekte Langit Putih adalah salah satu yang paling diuntungkan."

Li Yun mengepalkan tangan.

"Dan sekarang?" tanyanya.

Shen Yao berdiri.

"Sekarang," katanya pelan,

"mereka akan memburumu sampai mati."

Ia melirik Bai Shun yang masih tak sadarkan diri.

"Atau sampai kau mereka pakai."

Li Yun menatap api kecil di lantai gua.

"Apa yang harus kulakukan?"

Shen Yao menatapnya lama.

Lalu—untuk pertama kalinya—senyum kecil muncul, tulus namun berbahaya.

"Bertahan hidup," katanya.

"Belajar bernapas tanpa meledak."

"Dan kalau kau cukup kuat—"

Ia berbalik menuju lorong gelap di ujung gua.

"—menghancurkan apa yang mereka sebut tatanan."

Shen Yao berhenti sejenak.

"Oh, satu lagi."

Ia menoleh.

"Kau tidak bisa tinggal di sini. Dalam satu hari, sekte akan mengirim pemburu yang jauh lebih kejam."

Li Yun bangkit perlahan. Tubuhnya masih lemah, tapi napasnya stabil.

"Ke mana kita pergi?"

Shen Yao tersenyum.

"Ke tempat di mana sekte tidak berani masuk."

Cahaya api padam.

Dan di balik kegelapan gua,

jalan Li Yun benar-benar dimulai.

More Chapters