WebNovels

Chapter 3 - Bab 3: Mereka yang Datang dari Gunung

Hujan malam belum berhenti ketika Nenek Mo terbangun mendadak.

Dadanya sesak.

Sebagai mantan tabib pengembara, instingnya menjerit—bahaya sedang mendekat.

"Yun!" bisiknya tajam.

Li Yun terbangun. Batu giok retak yang ia sembunyikan di balik bajunya masih terasa hangat, berdenyut lembut mengikuti detak jantungnya.

"Ada apa, Nek?"

Nenek Mo tidak menjawab. Ia berdiri, membuka pintu sedikit.

Kabut di luar rumah terbelah.

Tiga sosok berdiri di sana.

Jubah putih. Lambang awan berlapis pedang di dada.

Murid Sekte Langit Putih.

Aura mereka jauh lebih berat dari yang di lapangan desa. Ini bukan murid penguji biasa—ini penegak sekte.

"Tabib Mo," kata pria di depan, suaranya sopan namun dingin. "Kami merasakan gangguan energi spiritual dari arah ini."

Li Yun merasa napasnya tersendat.

Jadi itu bukan imajinasiku…

"Desa tua seperti ini penuh gangguan," jawab Nenek Mo tenang. "Petir, hujan, tanah longsor. Apa hubungannya dengan sekte besar?"

Tatapan pria itu bergeser—dan berhenti pada Li Yun.

Untuk sepersekian detik, mata mereka saling bertemu.

Pria itu menyipit.

"…anak ini," katanya perlahan. "Siapa namanya?"

Jantung Li Yun berdegup keras.

"Cucuku," jawab Nenek Mo cepat. "Li Yun. Anak sakit-sakitan."

Salah satu murid di belakang tiba-tiba melangkah maju.

"Kakak senior, aku merasakan fluktuasi giok dari arahnya."

Udara langsung membeku.

Pria di depan mengangkat tangan—memberi isyarat diam—lalu tersenyum tipis.

"Anak muda," katanya pada Li Yun, "bolehkah kami memeriksa tubuhmu sebentar?"

Nada itu terdengar sopan.

Tapi Li Yun tahu—

kalau ia mengangguk, tak ada jalan kembali.

Tiba-tiba, batu giok di dadanya bergetar keras.

Suara itu kembali terdengar di dalam kepalanya, lebih jelas dari sebelumnya:

"Lari ke timur. Tiga puluh langkah. Lompat."

Li Yun bereaksi tanpa berpikir.

Ia mendorong pintu belakang dan berlari.

"Apa—?! Tangkap dia!" teriak salah satu murid.

Energi spiritual meledak di belakangnya. Tanah pecah. Pohon tumbang.

Li Yun berlari sekuat tenaga, hujan membutakan pandangannya.

Dua puluh langkah.

Sebuah serangan angin memotong udara di samping kepalanya.

Dua puluh lima.

Kakinya terpeleset di tanah berlumpur.

Tiga puluh.

"LOMPAT!"

Li Yun meloncat ke depan—

dan tanah di bawahnya runtuh.

Ia jatuh ke dalam kegelapan.

Entah berapa lama ia terjatuh.

Saat akhirnya ia menghantam tanah, tidak ada rasa sakit.

Li Yun membuka mata.

Ia berada di sebuah ruang gua raksasa, dindingnya dipenuhi ukiran kuno dan akar bercahaya hijau. Di tengah ruangan, melayang sebuah bola cahaya giok yang berdenyut seperti matahari kecil.

Batu giok retak di dadanya terlepas sendiri dan melayang ke udara.

Keduanya menyatu.

Cahaya meledak.

Suara kuno itu bergema, penuh wibawa dan kelelahan:

"Dunia telah melupakan Napas Langit."

"Sekte telah mencurinya, memecahkannya, dan memalsukannya."

"Kau bukan tanpa akar, Li Yun."

"Akarmu… adalah LANGIT itu sendiri."

Rasa panas menyapu tubuhnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Li Yun merasakan energi dunia mengalir ke arahnya—bukan menolak, tapi menyambut.

Di atas gua, murid Sekte Langit Putih berhenti mengejar.

"Kakak senior…" bisik salah satu dari mereka, wajahnya pucat.

"Apa itu barusan…?"

Pria berjubah putih menatap tanah runtuh dengan wajah suram.

"Laporkan ke sekte," katanya pelan.

"Pewaris Napas Langit… telah terbangun."

More Chapters