WebNovels

Chapter 68 - Tak Seorang Pun Akan Lolos

"Biasanya teman-temanmu berkumpul di mana?" Nada suaranya kini rendah, sedingin baja. "Aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku. Tak seorang pun dari mereka akan lolos."

Tangan Ethan bergetar saat ia menunjuk arah. Kaivan berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikit pun.

Di sisi lain kota, Darius bersandar santai di bangku taman. Sebuah ponsel menempel di telinganya, sementara suaranya yang ceria menyapu di antara desiran daun-daun.

"Sayang, perlu aku jemput?" tanyanya main-main, bibirnya melengkung dalam senyum percaya diri. Seolah dunia ini memang miliknya.

Suara Tania terdengar lembut, manis dengan kecerdikan yang tersembunyi. "Boleh. Oh ya, jangan lupa tas dari mal itu, yang kamu janjikan."

Darius terkekeh pelan, meski matanya berkilat puas. "Tentu saja. Aku tidak pernah mengecewakanmu, kan?"

Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di markas geng motor. Tania masuk lebih dulu, langkahnya ringan dan penuh kebanggaan, seperti ratu yang berjalan menuju singgasananya. Semua mata di ruangan itu langsung tertuju padanya.

Ia duduk anggun di sofa tengah, menyilangkan kaki dengan elegan. Rambut panjangnya jatuh seperti tirai, senyumnya memikat. Seolah seluruh ruangan tunduk pada pesonanya.

Obrolan santai mengalir, namun dengan senyum licik dan tatapan tajam, Tania tiba-tiba mengubah suasana. Suaranya lembut, tetapi cukup tajam untuk menembus ruangan.

"Dulu ada pria yang kusukai," katanya pelan. "Tapi dia menolakku. Mempermalukanku di depan semua orang. Lalu dia pergi… begitu saja."

Seorang anggota geng di sampingnya mendesis tak percaya. "Ada pria yang menolak perempuan sepertimu? Dia pasti buta."

Tania mengangkat bahu. Senyumnya pahit namun memikat. "Itulah kenapa aku sudah tidak percaya pada cinta lagi. Dan kalau pun iya… hanya untuk seseorang yang datang dengan keseriusan, dan tahu cara menghargai aku."

Darius tertawa pelan, merangkul pinggangnya. "Aku tidak peduli siapa dia. Sekarang kamu milikku. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."

Sesaat, tatapan Tania menajam, tapi segera mencair menjadi manis seperti madu. Ia mendekat, memiringkan kepala, leher rampingnya berkilau di bawah cahaya. "Kamu luar biasa, Darius. Cara kamu memimpin mereka… aku benar-benar mengagumi itu," bisiknya, lembut dan penuh makna tersirat.

Ia duduk seperti perwujudan godaan itu sendiri, setiap lekuk tubuh, setiap gerakan diatur dengan sengaja. Ia tahu tubuhnya adalah senjata, dan ia menggunakannya dengan sempurna. Setiap senyum, setiap tatapan, setiap cara ia menyilangkan kaki hanya memiliki satu tujuan: memastikan posisinya di puncak.

Saat percakapan berlanjut, jemarinya menyentuh lengan Darius—ringan, namun disengaja. "Aku sangat suka gaya kepemimpinanmu," gumamnya manis. Ia mendekat, bibirnya nyaris menyentuh telinganya, napas hangat menyapu kulitnya. "Aku juga ingin dipimpin… ke suatu tempat yang lebih pribadi. Bisa?" Senyumnya lembut, tapi setajam bilah pisau.

Di tengah tawa dan obrolan, Tania mencuri perhatian semua orang di ruangan itu. Ia membiarkan tatapan mereka linger, menenun benang-benang pesona yang tak terlihat. Setiap gerakannya mengalir seperti tarian—terhitung, memikat, menghipnosis.

Menjelang tengah hari, Darius sepenuhnya berada dalam pengaruhnya. Dengan langkah lambat, Tania menyelipkan tangannya ke lengan Darius, menuntunnya pergi. "Aku yakin kamu cinta sejatiku," bisiknya, lembut membelai lengannya. Kata-kata manis itu hanyalah topeng. Yang bergerak bukan hatinya, melainkan rencananya.

Di dalam hati, Tania tertawa. Darius, dengan segala kebanggaannya, hanyalah pion lain. Gengnya? Hanya bidak di papan permainannya. Ia akan mengubah tempat ini menjadi panggung untuk balas dendamnya.

"Kaivan… kamu akan lihat. Aku bukan korban. Aku ratu. Dan kamu… hanya bayangan masa lalu."

Matahari sore menyengat di atas kepala saat Kaivan dan Ethan turun dari minibus di dekat markas geng itu. Udara dipenuhi tawa, asap, dan bau kesombongan. Begitu mereka muncul, tatapan-tatapan tajam langsung mengarah pada mereka.

"Lihat siapa yang datang," ejek pria bertato, menyeringai pada Ethan. "Balik lagi sama bocah yang kemarin kita tipu? Mau ronde lagi?"

Tawa membelah udara. Ethan mengepalkan tangan, tubuhnya gemetar. Sementara Kaivan berdiri tegak. Tatapannya dingin. Ia melangkah maju.

"Aku datang untuk mengambil kembali milikku," katanya pelan, namun tegas. "Uangku. Motorku. Dan kompensasi."

Salah satu dari mereka mendengus. "Tanya Ethan saja. Dia otaknya di sini."

Kaivan tetap tenang, tak tergoyahkan. Ethan mendekat sedikit, berbisik gemetar, "Mereka tidak akan mengembalikannya. Uangmu sudah lama hilang."

Pria bertato itu melangkah maju, menatap Kaivan dari atas. "Kalau kami bilang tidak, kamu mau apa? Nangis di sini?"

Kaivan teringat nasihat Felicia: arahkan ke rahang. Cepat dan keras. Ia bergerak.

Tinju kanannya melesat lurus—krak! Tubuh pria itu langsung ambruk, tak sadarkan diri bahkan sebelum menyentuh tanah.

Mata Ethan membelalak. "Kaivan, kamu ap—?!"

Kaivan tidak menjawab. Tatapannya menyapu para pria yang tersisa—stabil, dingin, tak tergoyahkan. "Siapa berikutnya?"

Terkejut, Ethan mengangkat ponselnya dan mulai merekam.

Ketegangan memenuhi udara. Seorang pria bertubuh besar dengan jaket kulit melangkah maju, amarah menyala di matanya.

 

More Chapters