WebNovels

Chapter 69 - Masih ada Lagi?

"Kamu punya nyali, bocah!" raungnya sambil menerjang maju.

Suasana berubah setajam silet. Angin siang yang tadinya malas kini membawa aroma ketakutan. Beberapa orang meraih pipa besi dan tongkat pemukul, keyakinan buta menyala di mata mereka, mengira Kaivan hanyalah mangsa mudah.

Namun Kaivan tetap diam. Tak selangkah pun ia mundur. Aura dingin memancar dari tubuhnya; senyum tipis di bibirnya bukan kesombongan—itu adalah kepastian.

Hari-hari latihan bersama Felicia telah mengubahnya. Ia bukan lagi bocah penakut seperti dulu. Kini ia tajam, luwes, terlahir kembali dari rasa sakit dan penghinaan.

Saat lawannya menerjang, waktu seakan melambat. Pikiran Kaivan berlari cepat, menganalisis setiap gerakan. Tubuhnya bergerak ringan, menghindari tiap serangan seperti bayangan. Sebatang besi mengayun—Kaivan merunduk. Matanya menangkap celah itu, lalu…

"Kamu terlalu lambat," bisiknya.

Dalam sekejap, tangannya mencengkeram kepala pria itu, dan lututnya menghantam wajahnya. Benturan itu menggema di udara, disusul bunyi tubuh jatuh dan tetesan darah yang mengenai tanah.

"Masih ada lagi?" tanya Kaivan pelan, suaranya selembut bisikan kematian.

Namun lima pria langsung menyerbu bersamaan. Kaivan menarik napas pelan, lalu bergerak.

Ayunan besi meleset darinya. Kaivan meloncat maju, lututnya menghantam dada seorang pria. Penyerang itu terhuyung mundur. Kaivan berputar, sikunya menghantam rahang pria lain. Bunyi retakan tajam menggema. Satu lagi jatuh dan tak bangkit lagi.

"Sial! Bocah pendek ini terlalu cepat!" teriak seseorang. Kepanikan mulai merambat di antara mereka.

Di tepi area itu, Ethan masih merekam, matanya membelalak tak percaya.

"Syukurlah aku bukan musuhnya lagi," gumamnya.

Ia tak pernah membayangkan bocah yang dulu ia bully kini berdiri sebagai ancaman nyata. Di suatu tempat jauh di dalam hatinya, rasa takut perlahan berubah menjadi hormat.

Salah satu anggota geng menerjang dari belakang, tapi Kaivan sudah menyadarinya. Ia berputar, menendang perut pria itu dengan brutal. Tubuh itu terlempar, menghantam tanah, dan tak bangkit lagi. Satu lagi tumbang. Sisanya ragu-ragu, harga diri mereka hampir tak mampu menahan kaki mereka untuk kabur.

Di dalam ruangan geng yang redup dan pengap, Tania dan Darius tenggelam dalam kenikmatan dangkal. Cahaya lampu yang berkedip memantulkan bayangan di dinding berlumut. Saat kekacauan di luar meledak seperti badai, Tania bangkit berdiri, matanya melebar. Ia mengintip dari jendela, napasnya tertahan.

"Kaivan?" bisiknya, panik bergetar di suaranya.

Di luar, tubuh-tubuh berserakan di tanah. Kaivan berdiri sendirian, berlumuran darah, tapi tak terkalahkan. Gerakannya mematikan sekaligus anggun, seperti bayangan yang hidup. Ia bukan lagi bocah yang dulu. Ia telah menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang berbahaya.

Darius mengernyit, melangkah mendekati jendela. "Satu orang bikin semua ini?"

Benturan keras mengguncang ruangan. Tania tersentak, rasa takut mengiris kemarahannya. Saat itu ia tahu, Kaivan bukan seseorang yang bisa diremehkan.

Dari kerumunan di luar, Darius muncul. Bahunya lebar, tangannya menggenggam karambit berkilau, kesombongan terpampang jelas di wajahnya. "Berani-beraninya kau ganggu wilayahku dan cewekku, bocah. Kau mati."

Tania menyeringai dari jendela. Hancurkan dia, Darius, pikirnya. Namun matanya tak bisa lepas dari Kaivan—tenang, mengerikan.

Darius menyerang lebih dulu. Bilah pisaunya menyabet leher Kaivan, cepat dan presisi. Tapi Kaivan menggeser tubuhnya, gerakannya halus, nyaris tanpa usaha. Tanpa takut. Tanpa ragu.

Lalu Kaivan membalas. Tendangannya menghantam pergelangan tangan Darius—tepat dan tajam. Karambit itu terlepas, berputar di udara sebelum jatuh berdenting ke tanah. Sebelum Darius sempat bereaksi, telapak tangan Kaivan menghantam dadanya. Napas pria itu langsung hilang. Ia terhuyung mundur, tersedak.

Dari kejauhan, jantung Tania berdentum keras. Ketakutan mencengkeram dadanya, meski ia menyembunyikannya di balik senyum. Tidak… Darius tidak mungkin kalah.

Semua mata tertuju pada satu sosok di pusat kekacauan—Kaivan. Tubuhnya kecil, namun memancarkan teror. Ia membungkuk, mengambil karambit yang jatuh. Genggamannya mengencang, seperti musisi yang memegang instrumen suci. Tatapannya mengunci para pria yang masih berdiri.

"Kalian benar-benar mau melawanku bersama-sama?" katanya pelan, tapi kata-katanya menghantam seperti palu, menghancurkan kepercayaan diri mereka. Tak ada tawa. Hanya diam.

Bagi Kaivan, waktu kembali melambat. Setiap gerakan di sekelilingnya tampak berat, seperti bayangan yang terjebak dalam cairan kental. Ia melangkah maju. Karambit berputar di antara jemarinya, menari di udara dengan ritme sunyi.

Pria pertama menerjang dari kanan dengan pipa besi. Kaivan bergeser ke kiri, seluwes air. Cincin karambit menghantam keras, membuat senjatanya terlepas. Kaivan melanjutkan dengan tendangan tajam ke perut. Pria itu ambruk, mengerang kesakitan.

Dua orang berikutnya menyerang bersamaan—satu membawa rantai, satu lagi katana. Kaivan berputar; rantai itu meleset. Ia menebas lengan pemegang rantai dengan karambit—jeritan memecah udara. Dalam napas yang sama, ia memelintir pergelangan tangan pemegang pedang hingga bunyi retakan mengerikan terdengar. Bilah pedang itu jatuh.

Kaivan bergerak seperti bayangan cair—tak tersentuh, presisi. Karambitnya membelah udara, menenun ritme mematikan.

Darius, dipenuhi amarah, terhuyung bangkit dan mencoba menyerang lagi. Tapi Kaivan lebih cepat. Tendangan cepat dan kejam ke selangkangan menjatuhkannya seketika. Pemimpin geng yang perkasa itu… dipermalukan.

More Chapters