WebNovels

Chapter 13 - Saat Jalan Bercabang

Mata Radit menyipit, tatapannya setajam bilah pisau. Ia melangkah maju perlahan, setiap gerakannya dipenuhi rasa percaya diri.

"Ngobrol, ya?" suaranya rendah, namun cukup berat untuk membuat bocah itu gentar. "Kalau begitu, kenapa aku nggak diajak? Aku ada waktu."

Tantangan dingin dalam suara Radit seakan memadatkan udara di sekitar mereka. Kegelisahan melintas di wajah para pembully. Salah satu dari mereka bergeser, hendak mundur, sementara yang lain membeku, tak yakin harus berbuat apa.

"E-eh… santai, Dit. Cuma bercanda kok…" gagap bocah yang tadi mengejek Kaivan. Namun sebelum alasan itu selesai, Radit sudah bergerak.

Terlalu cepat untuk diikuti, tinju Radit menghantam wajahnya dengan bunyi hentakan padat yang menggema. Tubuh si pembully terhuyung ke belakang, tangan menutup pipi yang memerah, matanya membelalak kaget. Terdengar helaan napas tercekat dari yang lain; kepanikan terpancar di mata mereka, tapi tak satu pun berani maju.

Radit berdiri tegak, pandangannya menyapu kelompok itu bagai es yang mengiris. Suaranya rendah, sarat ancaman. "Aku nggak peduli kalian bercanda atau tidak. Kalau mau main-main, hadapi aku."

Tak ada jawaban. Mereka saling bertukar pandang panik, lalu salah satu menarik lengan bocah yang dipukul tadi. Tanpa sepatah kata, mereka mundur tergesa dan menghilang di ujung koridor.

Dari kejauhan, Tania, yang beberapa saat lalu tertawa, kini berdiri kaku. Tatapannya tertahan pada Radit, penuh kebingungan. Kenapa? batinnya bertanya. Kenapa Radit, yang tak pernah terlihat peduli pada siapa pun, tiba-tiba turun tangan demi Kaivan? Pertanyaan itu terus menggerogoti, tanpa jawaban.

Bagi Kaivan, pagi itu menandai sebuah perubahan. Untuk pertama kalinya, seseorang berdiri membelanya. Ia tak menemukan kata-kata untuk menampung gelombang rasa terima kasih di dadanya, tapi ia tahu momen ini takkan pernah ia lupakan.

Di bawah langit biru cerah, burung-burung beterbangan, Kaivan menoleh pada Radit. Suaranya nyaris berbisik, namun bobotnya terasa berat. "Terima kasih, Radit."

Radit membalas dengan senyum miring khasnya, di antara ketulusan dan sikap santainya. "Sudahlah. Kadang mereka memang kelewat menyebalkan." Ia menggaruk tengkuknya, nada suaranya ringan meski badai barusan telah berlalu.

Mereka berjalan menuju kelas, berdampingan. Keheningan turun, bukan menekan, justru terasa nyaman. Namun di benak Kaivan, rasa ingin tahu mulai tumbuh. Akhir-akhir ini Radit memperlihatkan sisi lain dirinya, lebih dalam, lebih kompleks.

Cahaya matahari menembus kanopi daun, berpendar di jalur yang mereka lewati. Lorong yang biasanya ramai terasa sunyi, hanya diisi irama langkah kaki.

Kaivan menarik napas, mengumpulkan keberanian. Suaranya lembut, terbawa angin pagi. "Radit," panggilnya ragu. "Sebenarnya, apa yang terjadi saat Pak Levan datang ke rumahmu?"

Radit menoleh sekilas, satu alis terangkat, matanya menyipit seolah menimbang maksud pertanyaan itu. "Levan?" ulangnya datar.

Kaivan mengangguk cepat, memperlambat langkah agar sejajar. "Iya, soal kejadian copet itu," desaknya, nada suaranya sedikit tegang. "Kenapa beliau datang menemuimu?"

Radit terkekeh pelan, lebih mirip helaan napas. Bibirnya melengkung samar, menyimpan hangat yang jauh. "Oh, itu," gumamnya, hampir pada diri sendiri. Bahunya ditegakkan. "Dia cerita soal aku menolongnya," katanya ringan, meski ada getar halus di balik suara. "Sejujurnya, dia membesarkannya berlebihan. Waktu itu aku juga bingung harus bilang apa, jadi ya… diam saja."

Kaivan mengernyit, merasa ada yang disembunyikan. "Dan dia benar-benar ingin membalasnya?"

Radit mengangguk pelan, satu tangan masuk saku. "Katanya dia akan menanggung pendidikanku, sampai kuliah," akunya. Nadanya tetap datar, namun kilat tak percaya di matanya menunjukkan berat tawaran itu. Tawa pendek lolos. "Gila, kan?"

"Jadi… kamu bakal kuliah?" tanya Kaivan, matanya berbinar. Jarang sekali Radit membicarakan masa depannya, dan kesempatan ini tak ingin ia lewatkan.

Radit mengangkat bahu. "Entahlah. Jujur, aku lebih pengin kerja. Tapi kalau gratis, kenapa tidak?"

Kaivan tersenyum tipis, senyum yang lahir dari pemahaman sunyi. Di balik kata-kata santai Radit, ia menemukan sesuatu yang menginspirasi. Pagi itu, yang tampak biasa di permukaan, terasa seperti awal dari sesuatu yang lebih besar.

Suatu pagi, Kaivan terbangun dengan percikan energi yang tak biasa. Ada getaran di dalam dirinya, seakan hari itu menjanjikan sesuatu yang luar biasa. Saat ia membuka Tome Omnicent, sebuah halaman baru menyita perhatiannya, memuat perintah yang tak terduga:

"Pergilah ke jalan utama kota, dekat alun-alun dan sungai. Pergi sendirian. Bawa lem super dan tali. Temui seorang gadis."

Meski aneh, instruksi itu memantik rasa ingin tahunya. Apa hubungan tali dan lem dengan pertemuan ini? Siapa gadis itu?

Dengan hati-hati, Kaivan menyiapkan semua yang diminta Tome. Lem super masuk ke tas, disusul tali, persiapannya terasa lebih seperti misi daripada pertemuan santai. Rasa gelisah merayap, namun satu hal ia tahu: Tome Omnicent tak pernah menuntunnya pada sesuatu yang sia-sia.

Ia menyusuri labirin kota; gang-gang sempit diapit bangunan tua menjulang membuat langkahnya terasa seperti mimpi. Deru lalu lintas jauh mengiringi, sementara Kaivan tetap waspada, matanya mengamati tiap bayangan.

Saat akhirnya tiba di alun-alun pusat, detak jantungnya mengencang. Pertemuan itu kian dekat; antisipasi aneh mengikat dadanya. Tiba-tiba, halaman Tome berubah. Sebuah profil muncul, nama gadis itu: Zinnia. Rambutnya berwarna plum gelap dengan poni tebal, sesuai foto identitas yang terpampang di perkamen Tome.

Satu baris di profil itu mencolok, membuat dahi Kaivan berkerut. "Membenci laki-laki." Kata-kata itu terukir jelas, mengganggu. Ia terdiam, mengulanginya dalam benak. Bagaimana ia harus membantu seseorang yang, menurut Tome, menyimpan kebencian sedalam itu?

Tak jauh dari sana, keributan kecil memecah lamunannya. Pandangannya mengikuti sumber suara dan tertumbuk pada seorang gadis yang berjalan di tepi sungai. Langkahnya ringan, nyaris seperti menari. Dialah Zinnia. Ia memancarkan kepercayaan diri dan keceriaan, jauh berbeda dari deskripsi keras di Tome. Ada sesuatu yang memikat dari kehadirannya.

Keseimbangan rapuh itu pecah seketika. Tali sandalnya putus, membuatnya kehilangan pijakan. Dengan seruan terkejut, ia tersandung dan jatuh canggung ke tanah. Kaivan yang menyaksikan dari kejauhan terdiam. Posisi jatuhnya tak biasa, cukup mengejutkan hingga membuat Kaivan sejenak terpaku, sadar akan situasi, namun berusaha menahan pikirannya tetap tenang.

More Chapters