WebNovels

Chapter 11 - Instruksi Pertama

"Jadi… masa depan seperti apa yang menantiku?"

Suaranya terdengar tenang, dipenuhi rasa ingin tahu, bergema pelan di dalam kamar yang sunyi.

"Kehidupan biasa. Menikah, penghasilan stabil, pekerjaan kantor."

Jawaban itu menghantamnya seperti hembusan udara dingin. Terlalu sederhana. Terlalu datar. Jauh dari keajaiban yang baru saja ia alami.

"Kalau begitu… hidupku terdengar membosankan sekali," gumamnya, nada kecewa tak bisa ia sembunyikan.

"Masa depan akan berubah sesuai pilihan yang kau ambil di masa kini."

Seakan menanggapi kegelisahannya, Tome kembali bergerak. Tinta baru merembes keluar, membentuk rangkaian kata yang perlahan mengisi halaman.

Kaivan membaca kalimat itu berulang kali. Pikirannya mulai terurai, keyakinannya tentang hidup perlahan retak oleh keraguan.

"Lalu… apa yang sebenarnya kau cari?"

Kalimat berikutnya muncul, seolah menantangnya untuk menatap isi hatinya sendiri.

Ia menatap kata-kata yang samar bercahaya itu dengan mata yang dipenuhi intensitas. Cahaya pagi menyelimutinya, sunyi, namun menekan. Jarinya menyentuh sampul kayu Tome, kasar dan terasa hidup di bawah sentuhannya, seakan jawaban itu berada sangat dekat namun tak tergapai. Napasnya melambat, sarat oleh beban pikiran.

"Aku hanya… aku hanya ingin membantu orang lain sekarang. Aku tidak mau terus berpaling, berpura-pura tidak peduli," ujarnya akhirnya. Setiap kata membawa tekad sunyi yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.

Lalu, hampir seperti berbicara pada diri sendiri, ia berbisik, "Kalau dulu aku tidak menolong nenek itu… mungkin aku tidak akan pernah bertemu Tome ini."

Ia membuka Tome. Halamannya terasa hangat, seolah berdenyut oleh energi tersembunyi. Teks kuno mulai muncul di hadapannya, mengalir di atas perkamen seperti ditulis oleh tangan tak kasatmata.

"Pergilah ke supermarket sepulang sekolah," demikian perintahnya. "Hentikan seorang siswa yang berniat mencuri."

"Seorang siswa… mencuri?" gumam Kaivan pelan. Kebingungan melintas di wajahnya, namun rasa penasaran justru menyala lebih terang. Apa hubungannya ini dengannya? Mengapa hal sekecil ini terasa begitu penting?

Ia menutup buku itu dengan hati-hati, lalu bersandar di kursi, menatap langit-langit. Keraguan sempat muncul, namun segera ia singkirkan. "Kalau buku ini memberiku arahan, pasti ada alasannya," bisiknya, berusaha meyakinkan diri sendiri.

Saat Kaivan melangkah melewati pintu kaca otomatis supermarket, hembusan dingin AC menyentuh wajahnya. Udara dipenuhi aroma roti panggang yang samar, bercampur dengan bau tajam cairan pembersih. Matanya menyapu setiap lorong dengan tajam dan penuh kewaspadaan.

Lalu ia melihatnya, seorang anak laki-laki mengenakan jaket denim biru, berdiri gelisah di dekat rak.

Radit berdiri kaku. Wajahnya muram. Pandangannya bolak-balik antara barang di rak dan pelanggan yang berlalu-lalang. Tangannya sedikit gemetar saat meraih perlengkapan mandi pria. Dengan gerakan tergesa dan gugup, ia menyelipkan barang-barang itu ke dalam saku jaketnya.

Tak jauh dari sana, Kaivan mengamati dari sudut matanya. Jantungnya berdegup kencang, namun wajahnya tetap tenang. Inilah momennya. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah maju, setiap gerakannya terukur, mantap.

"Hei," panggil Kaivan, nadanya hangat namun tegas. Ia berhenti sekitar dua meter, memastikan tidak memojokkan anak itu. "Perlu bantuan?"

Radit tersentak. Tangannya membeku di dalam saku. Ia berbalik cepat, menatap Kaivan dengan wajah pucat. Raut kaget dan curiga berkilat di matanya. "Apa urusanmu?" bentaknya, berusaha menutupi rasa bersalah.

Kaivan tidak mendekat. Tatapannya tenang saat bertemu mata Radit, kepalanya sedikit dimiringkan, gerakan kecil yang menenangkan. "Aku cuma ingin membantu," katanya pelan, suaranya mengalir lembut seperti angin sepoi.

Radit mencibir, meski tubuhnya jelas tegang. Ia melirik ke sekeliling dengan gugup, memastikan tak ada yang mendengar. "Urus saja urusanmu sendiri, bocah pendek."

Ucapan itu membuat Kaivan tersentak, namun ia melangkah satu langkah ke depan, menunjukkan bahwa ia tidak akan mundur. "Kau tahu," katanya, "kalau kau ketahuan sekarang, masalahmu akan jadi jauh lebih besar. Ada kamera di mana-mana, dan petugas keamanan selalu mengawasi."

Ekspresi Radit langsung berubah. Ia menoleh tajam, mencari sudut-sudut toko tempat kamera berada. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. "A-aku… aku tidak punya pilihan."

Kaivan menghembuskan napas perlahan dan mendekat, kini hanya berjarak sekitar satu meter. Ia merendahkan suaranya, hampir seperti bisikan. "Dengar. Aku tahu rasanya terjebak. Tapi ini bukan jalannya. Kalau kau butuh sesuatu, kita bisa cari cara lain."

Radit terdiam. Pandangannya jatuh ke lantai. Tangannya yang gemetar perlahan keluar dari saku. Dengan wajah dipenuhi rasa bersalah, ia mengeluarkan barang-barang itu, menatapnya sejenak, lalu mengembalikannya ke rak.

Kaivan mengangguk kecil, senyum samar terbit di bibirnya. "Bagus," ujarnya lembut. "Sekarang, ayo keluar. Kita bicara di luar."

Mata Radit bergetar, dipenuhi konflik batin. Namun akhirnya, ia mengangguk pelan. Berdampingan, mereka berjalan menuju pintu keluar, melewati pelanggan lain yang tak menyadari apa pun.

Di luar, lampu jalan menyala redup, menciptakan bayangan panjang di trotoar. Mereka berhenti di dekat bangku taman kecil di samping supermarket, ketika tiba-tiba dua petugas keamanan mendekat. Langkah berat mereka memecah keheningan, tatapan tegas langsung tertuju pada Radit.

"Boleh kami periksa sakumu?" tanya salah satu dari mereka, nadanya tegas namun tidak kasar.

Radit menelan ludah, melirik cepat ke arah Kaivan sebelum mengangguk. Perlahan, ia membuka jaketnya, memperlihatkan saku yang kosong. Petugas lain sekilas memeriksa tas Kaivan, namun tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

More Chapters