WebNovels

Chapter 7 - Chapter 7

Pagi hari di Odelia dimulai dengan rasa mual yang luar biasa. Bukan karena aku mabuk bir murah di kedai semalam, tapi karena pemandangan yang menyambutku saat membuka mata: Elena von Aethelgard sedang berdiri di ujung tempat tidurku, mengenakan pakaian latihan yang sangat ketat, sambil memutar-mutar pedang kayu yang ukurannya tetap saja tidak masuk akal.

"Bangun, Pahlawan Panci. Hari ini kita tidak akan mengambil misi dari Guild," ucapnya dengan nada dingin yang sudah menjadi makanan sehari-hariku.

Aku menarik selimut menutupi wajah. "Nona, ini masih jam enam pagi. Bahkan ayam jantan di kandang belakang pun masih mengigau. Biarkan aku tidur lima menit lagi..."

"Lima menit?" Elena berjalan mendekat. Aku bisa merasakan aura membunuh yang dingin merembes melalui selimutku. "Setiap detik kau tidur, Raja Iblis semakin kuat. Setiap detik kau bermalas-malasan, zirahku semakin berkarat karena tidak ada tantangan. Bangun, atau aku akan menggunakan pedang kayu ini untuk 'mengetuk' kepalamu."

Aku menghela napas pasrah, menyingkap selimut, dan bangkit dengan rambut berantakan yang lebih mirip sarang burung gagak. "Kenapa tiba-tiba ingin latihan? Bukankah kita sudah cukup tangguh setelah mengalahkan Golem itu?"

Elena menatapku dengan pandangan merendahkan. "Kita? Aku yang mengalahkan Golem itu. Kau hanya berlari-lari seperti kelinci yang terkena rabies sambil memukul peralatan dapur. Keberuntunganmu tidak akan bertahan selamanya, Rian. Di dunia ini, jika kau tidak bisa mengayunkan senjata, kau hanya akan menjadi statistik kematian di papan pengumuman Guild."

[Ding!] [Menditeksi Motivasi Rendah pada Subjek.] [Quest Sampingan Aktif: "Survival of the Fittest".] [Tujuan: Bertahan hidup selama 30 menit dalam latihan tanding melawan Elena.] [Reward: Peningkatan Stat Agility +2 dan 1x Tiket Gacha "Bumbu Rahasia".] [Penalty: Anda akan dirawat di rumah sakit dengan biaya sendiri.]

"Sistem, kau benar-benar tidak membantu keuanganku ya," gerutuku pelan sambil memungut panci kesayanganku dari lantai.

Kami pergi ke lapangan latihan kosong di pinggiran kota. Udara pagi yang segar menusuk paru-paruku, tapi pikiranku hanya tertuju pada satu hal: Bagaimana caranya tidak menjadi gepeng di tangan Elena.

Elena berdiri sepuluh meter di depanku. Dia memegang pedang kayu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya diletakkan di pinggang. "Aturannya sederhana. Jika kau bisa menyentuh bajuku dengan pancimu dalam 30 menit, kau menang. Jika tidak... kau harus membersihkan seluruh peralatanku, termasuk zirah dalamku, selama satu minggu."

"Zirah dalam?!" Wajahku memerah. "Maksudmu... yang menempel langsung ke kulitmu itu?"

"Jangan berpikiran mesum! Itu hanya kain pelapis besi!" bentaknya, wajahnya sedikit memerah. "Sekarang, pasang kuda-kuda!"

Elena melesat. Dia tidak menggunakan sihir, hanya kecepatan murni, tapi bagiku dia terlihat seperti bayangan perak yang membelah udara.

WUSH!

Aku berguling ke samping, nyaris saja pedang kayunya menghantam bahuku. Tanah tempatku berdiri sebelumnya retak. Itu pedang kayu atau palu godam?!

"Kecepatanmu meningkat sejak kemarin," puji Elena datar, lalu dia berbalik dan meluncurkan serangan horizontal.

"Aku hanya takut mati, Nona!" teriakku sambil mengangkat panci.

TANG!!!

Bunyi nyaring itu kembali bergema. Getarannya membuat seluruh lenganku mati rasa. Kekuatan fisik Elena benar-benar tidak masuk akal. Meski aku sudah naik level, perbedaan stat kami seperti bumi dan langit ke tujuh.

[Ding!] [Stat Check: Strength Anda adalah 12. Strength Elena adalah ERROR (Data tidak mencukupi).] [Saran: Gunakan kecerdikan, bukan otot. Anda tidak punya otot.]

Aku mencoba memutar otak. Jika aku terus bertahan, aku akan kelelahan. Aku harus menyerang, tapi bagaimana caranya mendekati monster cantik ini? Tiba-tiba, aku ingat hadiah gacha-ku tempo hari: Spons Cuci Piring Abadi.

Aku meraba saku, mengambil spons itu, dan menjepitnya di antara jari-jari kaki kiriku—sebuah teknik yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah putus asa.

"Apa yang kau lakukan dengan kaki itu?" tanya Elena, menghentikan serangannya sejenak karena bingung melihat poseku yang mirip kera sedang yoga.

"Ini... ini adalah Jurus Rahasia Klan Panci: Tendangan Pembersih Dosa!"

Aku melompat maju, bukan untuk memukul dengan panci, tapi melempar spons itu ke arah wajahnya. Elena dengan mudah menangkis spons itu dengan pedang kayunya. Namun, itulah rencanaku. Spons itu membal, menciptakan awan debu kecil (karena spons itu menyerap debu reruntuhan kemarin).

Di tengah debu itu, aku mengaktifkan skill baru yang baru saja terbuka di menu sistemku semalam.

[Skill Aktif: "Micin Explosive" (Level 1).] [Deskripsi: Mengubah material organik di sekitar menjadi bubuk yang sangat mengiritasi mata dan hidung. Efek samping: Membuat lapar.]

Aku menaburkan sisa garam kasar yang kubawa dan mengaktifkan skill itu. Tiba-tiba, debu di sekitar Elena berubah menjadi awan putih yang sangat pedas.

"Uhuk! Uhuk! Apa ini?! Baunya seperti... kuah bakso?!" Elena terbatuk-batuk, matanya mulai berair.

Ini kesempatanku! Aku berlari menembus asap, mengangkat panciku tinggi-tinggi. "Kena kau!"

Tapi, saat aku tinggal satu langkah lagi untuk menyentuh jubahnya, Corruption Meter di sudut mataku tiba-tiba melonjak.

[Corruption Meter: 0.30%] [Peringatan: Insting Predator Aktif.]

Waktu seolah melambat. Aku melihat leher Elena yang terbuka. Pikiranku tidak lagi ingin "menyentuh" untuk menang latihan. Sesuatu yang gelap di dalam diriku ingin menghantamkan pinggiran panci yang tajam itu tepat ke nadinya. Aku melihat bayangan darah yang memuncrat di atas rumput hijau. Sensasi itu begitu nikmat, begitu menggoda...

"Mati..." bisikku, suaranya bukan suaraku sendiri.

KLANG!

Elena, meskipun matanya terpejam karena perih, secara naluriah mengangkat pedang kayunya dan menahan serangan panciku yang kali ini membawa niat membunuh yang nyata. Kekuatan benturannya jauh lebih besar dari serangan-seranganku sebelumnya.

Elena membuka matanya yang merah dan berair. Dia menatapku dengan ngeri. "Rian? Matamu..."

Aku tersentak. Kabut hitam di pikiranku buyar. Aku melihat panciku tertahan hanya beberapa inci dari wajah Elena. Aku gemetar, keringat dingin mengucur deras.

"N-nona Elena... aku..."

Aku segera mundur beberapa langkah, menjatuhkan panciku ke tanah. Jantungku berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dada. Apa yang baru saja kulakukan? Aku benar-benar berniat membunuhnya.

[Ding!] [Latihan Berakhir. Waktu: 30 menit 1 detik.] [Anda Berhasil Bertahan Hidup.] [Peringatan: Sinkronisasi dengan "Masa Depan" meningkat. Harap jaga kewarasan Anda.]

Elena menyarungkan pedang kayunya. Dia tidak marah, tapi ekspresinya sangat serius—lebih serius dari biasanya. Dia mendekatiku, memegang bahuku dengan tangannya yang hangat.

"Rian, apa yang terjadi tadi? Untuk sesaat, auramu berubah menjadi sesuatu yang... tidak aku kenali."

Aku menunduk, tidak berani menatap mata birunya yang jujur. "Aku tidak tahu. Mungkin aku terlalu bersemangat memenangkan taruhan ini."

Elena terdiam lama. Dia melihat panci hitam yang tergeletak di rumput. "Kau punya sesuatu di dalam dirimu, Rian. Sesuatu yang sangat besar dan Aku bisa merasakannya. Itulah alasan kenapa aku membawamu. Bukan karena kau lucu atau karena kau bisa memasak... tapi karena aku merasa aku adalah satu-satunya orang yang bisa menghentikanmu jika hal 'itu' benar-benar keluar."

Aku mendongak, terkejut. "Kau tahu?"

Elena tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kesedihan mendalam. "Aku punya firasat. Seperti yang kukatakan semalam di jembatan, dunia ini terasa seperti pengulangan. Dan di setiap pengulangan yang samar di ingatanku, kau selalu berakhir dengan tangan berlumuran darah."

Suasana lapangan latihan yang cerah tiba-tiba terasa mencekam. Rahasia besar tentang Isekai ini mulai terkuak sedikit demi sedikit. Aku bukan pahlawan yang dipilih karena keberuntungan. Aku mungkin adalah "bom waktu" yang sengaja dikirim ke dunia ini.

"Tapi tenang saja," lanjut Elena, menepuk pipiku pelan dengan tangannya yang kasar namun lembut. "Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkanmu menjadi monster itu. Aku akan memukulmu dengan pedang kayuku setiap pagi jika perlu, agar kau tetap menjadi Rian si Bodoh pembawa panci."

Aku tertawa canggung, mencoba mencairkan suasana. "Itu terdengar lebih seperti penyiksaan daripada bantuan, Nona."

"Memang," Elena berbalik, mulai berjalan kembali ke kota. "Oh, dan karena kau tadi hampir membunuhku, kau tetap harus mencuci zirahn-ku. Menang tetap menang, tapi keselamatan komandan adalah prioritas utama."

"Ehh?! Curang! Aku kan sudah bertahan 30 menit!"

[Ding!] [Reward Dikirim.] [Anda mendapatkan 1x Tiket Gacha "Bumbu Rahasia".] [Gunakan sekarang?]

"Gunakan," gumamku dalam hati. Aku butuh sesuatu untuk menenangkan pikiranku.

Roda berputar cepat.

[Ding! Selamat! Anda mendapatkan Item: "Kecap Manis Takdir".] [Deskripsi: Memberikan rasa manis yang luar biasa pada masakan apa pun, namun memiliki efek samping membuat pemakannya menjadi sangat jujur selama 5 menit.]

Aku melihat botol kecil berisi cairan hitam itu di tanganku. Aku menatap punggung Elena yang berjalan menjauh.

"Mungkin aku bisa menggunakan ini untuk bertanya padanya tentang apa yang dia ketahui soal siklus dunia ini," pikirku.

Namun, saat aku memasukkan botol itu ke saku, aku melihat bayanganku di genangan air sisa hujan semalam. Bayangan itu tidak mengikutiku. Bayangan itu tetap berdiri di lapangan latihan, memegang panci yang sekarang berubah menjadi pedang besar berwarna hitam pekat, dan di belakangnya, Kota Odelia tampak terbakar hebat.

Aku segera berlari mengejar Elena, tidak berani melihat ke belakang lagi.

"Nona Elena! Tunggu aku! Aku tidak mau cuci zirah bagian dalammu sendirian!"

Dunia Aethoria mungkin indah hari ini, tapi di balik langit birunya, kode-kode sistem yang rusak terus berkedip, menghitung mundur menuju kehancuran yang tak terhindarkan.

More Chapters