Setelah mereka menyaksikan kejadian tidak biasa itu, Manas membantu Kakek Ramon memperbaiki atap kandang Taurus serta Sarira yang sedang membuatkan mereka minuman di dapur Ramon.
"Bagaimana kesan misi pertama mu Manas? Apa kamu sudah kapok untuk berpergian keluar desa?". Tanya Ramon
"Entahlah, tapi aku rasa perjalanan ku yang kemarin seperti ada yang ingin menarik keluar dengan sengaja". Jawab Manas sambil memainkan palu yang sedang dipegangnya.
"Bukannya yang ingin menarik mu keluar itu sudah pasti Sarira?". Ramon kembali bertanya kepada Manas
"Memang sih, tapi rasanya kali ini ada yang sedang memperhatikan ku dan aku seperti tak ada pilihan lain". Lirih Manas sambil menghembuskan nafas.
"Kakek.... Manas.... Ini minuman nya aku taruh di teras ya". Teriak Sarira dari kejauhan
"Ya" Jawab Manas dan Ramon serempak
"Ayo Manas kita istirahat dulu" mereka berdua turun dari atap, lalu berjalan ke arah teras rumah
"Manas apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Lebih tepatnya setelah melihat dunia luar seperti apa". Tanya Ramon.
"Aku akan coba mencari tahu apa yang mengganggu ku akhir-akhir ini". Balas Manas
"Mengganggu mu? Memang nya apa yang mengganggu pikiran mu? Yang pasti bukan aku kan". Tanya Sarira dengan nada bercanda
"Ya kamu memang mengganggu tapi aku sudah terbiasa dengan tingkah mu.... Bukannya aku sudah pernah bilang kalau akhir-akhir ini ada yang mengganggu dalam pikiran ku" Balas Manas
"Seperti mau tak mau melakukan sesuatu supaya takut kehilangan sesuatu yang kamu bilang waktu itu?". Tanya balik Sarira
"Ya" jawab Manas
"Bisa kamu jelaskan padaku Manas kali ini dengan sejujurnya, karena aku tahu ada yang kamu sembunyikan semalam" tanya Ramon dengan penuh keyakinan di mata nya
"Sewaktu aku dirawat di Tempat perawatan prajurit Bandriya aku pernah bermimpi kalau ada beban yang diserahkan kepada ku dan aku ditanya apa aku sanggup untuk menanggung nya atau tidak". Balas Manas
"Terus kamu jawab apa?" Tanya Ramon.
"Aku belum sempat menjawabnya karena aku tiba-tiba kebangun dari koma ku, ya walaupun ada waktu untuk menjawab juga.... Aku juga belum dapat langsung menjawabnya ditambah lagi kejadian sebelumnya". Manas mengempalkan tangannya yang agak gemetaran karena teringat itu
Kakek Ramon meraih tangan Manas dan berusaha menenangkan ya
"Mungkin kejadian sebelum itu saling berhubungan satu sama lain dan juga mungkin yang memberikan mimpi itu sengaja memberikan kamu waktu untuk berpikir dengan tenang". Jawab Ramon menenangkan Manas
"Apa kamu mau mendengarkan saran ku?". Tanya Ramon
"Apa kek?" Jawab Manas
"Mungkin jawaban untuk permasalah ini, bisa kamu temukan di luar desa ini" sahut Ramon
"Kenapa harus aku mencari jawabannya sampai keluar desa?" Sanggah Manas
"Apa yang kamu lihat disana?" Ramon menunjuk kearah peternakan
"Hanya sekumpulan Taurus yang sedang makan di Lumbung peternakan". Ujar Manas
Ramon berdiri dan berjalan ke arah halaman rumah sambil mengajak Manas
"Manas sekarang apa yang kamu lihat?". Tanya balik Ramon
"Tetap sekumpulan Taurus yang sedang makan". Jawab Manas
"Apa ada perbedaan yang sekarang kamu lihat dengan sebelumnya?" Tanya Ramon dengan penuh kehangatan
"Sebelumnya aku tidak bisa melihat langit karena terhalang teras". Jawab Manas yang mulai sedikit menyadari apa maksud oleh Kakek nya
"Seperti nya kamu mulai menyadari nya". Ramon mengusap kepala Manas dengan perlahan.
"Ayo kita lanjutkan perbaikan atapnya" ucap Ramon
"Ya". Jawab Manas dengan senyuman di wajahnya
Setelah membantu Kakek Ramon, mereka pergi keliling desa Birendra untuk mencari angin
"Apa kamu yakin mau mengambil tugas ini?". Tanya Sarira
Manas mengeluarkan sepucuk surat dari kantung bajunya yang mengingatkannya dengan perkataannya Kakek Ramon saat di teras
******
"Oh iya, bagaimana kalau aku memberikan mu tugas baru". Ucap Ramon
"Tugas baru?" Jawab Manas bingung
"Tunggu sebentar ya" Ramon masuk kedalam dan terdengar ia sedang mencari sesuatu
"Mana ya?..... Oh ini dia". Gumam Ramon
"Menurutmu tugas apa yang Kakek Ramon berikan kepada kita?" Tanya Sarira
"Entah.... Kita?". Tanya Manas
"Bukannya Kakek Ramon menyuruh kita ya?" Sarira memastikan perkataannya.
"Tak ada kita, aku tak mau mengajak mu kedalam bahaya lagi". Tegas Manas
Sarira cemberut mendengar penolakan dari Manas.
Tak lama, Kakek Ramon keluar dengan membawa surat yang seperti nya baru ia tulis lalu menyerahkan surat itu ke Manas
"Surat?". Tanya Manas
"Antar Surat ini ke alamat yang tertera disini". Pinta Ramon
"Apa isinya kek?". Tanya Manas
"Nanti kamu juga akan mengetahui isinya saat sampai disana". Jawab Ramon
******
"Mungkin ini bantuan dari kakek untuk permasalahan ku ini". Jawab Manas atas keraguan Sarira
"Kalau itu mau mu aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi" Ucap Sarira
"Terus apa yang kamu lakukan setelah aku pergi Sarira?" Tanya Manas ke Sarira yang sedang terlihat sedih karena merasa akan ditinggal Manas pergi lama
"Entahlah" Gumam Sarira.
"Jangan sampai kamu melakukan hal yang aneh-aneh saat aku tak ada ya" Ejek Manas untuk merubah suasana yang tak mengenakkan ini.
"Harusnya aku yang bilang gitu pada mu". Respon Sarira atas ejekan Manas, kedua kemudian tertawa karena mereka tidak ingin membuat sedih satu sama lain.
"Jadi kapan kamu akan Manas?". Tanya Sarira
"Mungkin Besok". Jawab Manas
Hari besok telah tiba dan Manas sudah berada di terminal Birendra sambil diantar oleh Kakek Ramon
"Apa tak ada yang ketinggalan" Tanya Ramon memastikan Manas supaya mengecek barang-barang bawaannya.
"Tak ada kek, pedang nya aku bawa ya". Ujar Manas
"Tak apa, kan memang sudah ku berikan padamu".
"Kalau gitu aku berangkat ya kek". Manas berpamitan kepada Kakek Ramon lalu masuk kedalam Equus Cart tapi saat ia sudah naik ke gerobak alangkah terkejutnya ia melihat Sarira yang sudah ada didalam menunggu Manas.
"Sarira!" Kejut Manas
"Hai, sudah berpamitan ya?". Tanya Sarira
"Apa yang kamu lakukan disini?!" Manas terkejut karena melihat Sarira yang sudah ada didalam
"Semua nya pegangan ya? Kita akan berangkat" Ucap kusir
"Kalau kamu ingin mengusir ku seperti nya sudah terlambat karena gerobak nya sudah berangkat". Ejek Sarira
"Apa yang kamu pikirkan Sarira? Apa ayah mu tak marah?". Manas bingung sekaligus takut kalau Sarira pergi tanpa izin
"Tenang saja, aku sudah dapat izin dari ayah ataupun Kakek Ramon kok". Jawab Sarira
"Dasar kakek, kenapa ia tak memberitahu kan ku". Manas menghela nafas
Manas meletakan barangnya kemudian duduk disebelah Sarira, kemudian ia menyadari kalau ada yang aneh
"Gerobak ini masih banyak yang kosong tapi kenapa langsung berangkat?" Heran Manas
"Oh kamu baru sadar ya, gerobak ini sudah dipesan oleh Kakek mu untuk mengantar kita". Ucap Sarira
"Dasar kakek tua bangka itu apa yang kamu perbuat!!!" Teriak Manas
