Pagi hari yang tenang setelah melewati kemeriahan pasar malam yang penuh dengan lampion tersusun rapi bagaikan kunang-kunang yang berhamburan, kini terlihat hanya kios-kios yang mulai tutup dan ada juga penjual yang baru saja menjajahkan dagangannya.
Kini pasar malam sudah berubah menjadi pasar pagi yang mulai ramai dengan para pembeli yang lalu lalang, ini menandakan gairah pagi baru telah datang, tapi gairah tersebut tidak dapat mempengaruhi Manas tidurnya.
Seperti nya ia tidak bisa menikmati tidurnya lagi karena Sarira sedang menuju ke rumahnya.
Sarira datang ke rumah Manas untuk mengantar perlengkapan Manas yang ditinggalkan di koridor rumah Sarira.
"Manas.... Manas.... Apa kamu ada didalam?". Sarira mengetuk pintu Manas tapi tak ada respon dari Manas karena ia masih tertidur didalam rumahnya.
"Pintunya tidak dikunci?! Dasar dia ini selalu saja lupa untuk mengunci pintunya". Sarira mengerutkan keningnya karena Manas selalu lupa mengunci pintu kalau sedang mengantuk.
"Aku masuk kedalam ya". Sarira masuk kedalam kemudian menuju kearah kamarnya Manas, sewaktu didalam kamarnya Manas alangkah tidak terkejut nya Sarira melihat Manas yang masih tertidur diatas kasurnya.
"Sudah ku duga masih tidur manusia ini..... Hey bangun Manas ini sudah siang". Sarira menaruh barangnya Manas didekat pintu masuk kemudian membentangkan hordeng dan membuka jendala kamar Manas supaya sinar matahari dan udara dari luar masuk kedalam.
Teriknya sinar matahari siang langsung menghantam ke wajah Manas dan membuat tidurnya merasa tidak nyaman akibat kesilauan yang membuat ia bangun dari tidurnya
"Terang sekali, Ganggu orang tidur saja". Manas bangun dari tidurnya, ia merenggangkan tangannya kemudian mengosok-gosok matanya
Sarira: "Udah siang ini, kenapa kamu belum bangun juga?".
Manas: "Apa salahnya? Lagi pula hari ini aku tidak ada kegiatan hari ini".
Sarira: "Emangnya kamu tidak membantu Kakek Ramon di peternakan nya?".
Manas: "Tidak, aku disuruh beristirahat dulu oleh kakek"
Sarira: "Terus respon dari kakek Ramon apa melihat tubuhmu yang dibalut perban?".
Manas: "Responnya sama seperti ayah mu, aku semalaman dimarahi habis-habisan oleh kakek mangkanya itu aku masih mengantuk".
Manas: "Ada perlu apa kamu datang kemari?". Ia menguap karena masih mengantuk akibat dibangunkan oleh Sarira
Sarira: "Aku mengantarkan barang mu yang tertinggal Semalam, barangnya aku sudah taro didekat pintu".
Manas: "Oke terima kasih, kamu udah tidak ada urusan lagi kan? Pulang sana aku mau lanjut tidur". Manas menarik lagi selimutnya kemudian bersiap untuk tidur
Sarira: "Bangun udah siang, kamu lagi tidak ada kegiatan hari ini kan? temani aku yuk ke peternakan". Sarira menarik lagi selimutnya Manas
Manas: "Kamu kan bisa sendiri kesananya, aku mau tidur lagi".
Sarira: "Aku kan belum minta maaf ke Kakek Ramon tentang apa yang terjadi pada mu".
Manas: "Ia pasti sudah memaafkan mu, jadi tak usah repot-repot minta maaf".
Sarira: "Sudah ayo bangun temani aku kesana, sebelum berangkat kamu mandi dulu sana..... Pasti kamu belum mandi dari Semalam kan". Sarira menarik tangan Manas untuk membuatnya berdiri kemudian mendorongnya ke arah kamar mandi.
Sarira: "Cepat mandi sana, aku tunggu luar..... Jangan sampai tidur di kamar mandi". Sarira menunggu diluar saat Manas sedang mandi dan berbenah diri.
Ketika Manas sudah selesai bersiap, ia keluar rumah dengan wajah cemberut karena ia kesal jam tidurnya terganggu.
Sarira: "Kalau kamu sudah selesai ayo kita berangkat sekarang". Mereka berdua pergi ke peternakan dengan perasaan yang berbeda satu sama lain
Sesampainya disana, mereka melihat Kakek Ramon sedang memperbaiki atap kandang Taurus yang berlubang cukup besar.
Manas: "Sedang apa kek diatas sana?".
Ramon: "Oh manas dan Sarira, seperti yang terlihat.... Aku sedang memperbaiki atap".
Manas: "Apa perlu bantuan?".
Ramon: "Tak perlu, bukannya tadi kamu bilang mau tidur sampe sore hari".
Manas: "Niatnya begitu, tapi semua itu berubah setelah perusuh datang". Ia menunjuk kearah Sarira
Sarira menurunkan jari Manas kemudian berkata
Sarira: "Sudah lah, tak baik tidur lama-lama juga".
Ramon: "Memang nya ada perlu apa kalian kemari?".
Manas: "Dia ingin meminta Maaf kepada Kakek".
Ramon: "Minta maaf kepada ku?".
Sarira: "Aku minta maaf atas keteledoran ku saat menjaga Manas". Sarira membungkuk kan badan
Ramon: "Angkat kepala mu nak.... Yang harus nya minta maaf itu aku, Manas sudah menceritakan semuanya kepada ku semalam, kalau kalian bisa terlibat karena ulah seenaknya Manas menarik mu dalam kekacauan itu".
Sarira: "Kakek tidak perlu meminta Maaf lagi pula aku tidak terluka sedikit pun jadi kakek tak perlu minta maaf". Suasana seketika berubah menjadi keheningan yang canggung
Manas: "Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan atapnya kek?" Manas berusaha memecah keheningan dengan mengganti topik pembicaraan
Ramon: "Manas apa kamu bisa ikut dengan ku sebentar? Sarira kalau mau ikut juga tidak apa".
Manas: "Mau kemana kek?".
Ramon: "Ada yang mau ku tunjukkan padamu". Setelah itu Ramon pergi kedalam kandang Taurus dan menunjukan sebuah telur yang tepat berada di bawah lubang yang ada diatap kandang
Manas: “Sebuah Telur? Telur ini berasal dari Beast apa?”.
Ramon: “Aku juga tidak tahu, tengah malam tadi aku mendengar suara seperti benda berat yang terjatuh menghantam sesuatu dan suara para Taurus yang terdengar gelisah. Seketika aku terbangun dan langsung mencari suara itu berasal. Aku menelusuri peternakan dan melihat ada lubang di atap kandang Taurus.... Aku masuk kedalam untuk mengecek kondisi para Taurus disana dan sesampainya didalam aku melihat telur ini sudah ada didalam dengan berlumuran darah".
Ramon: “Kenapa kamu tidak mencoba kontrak membuat kontrak dengan telur itu?”.
Manas: “Bukannya kita tidak bisa membuat kontrak dengan Beast sewaktu masih dalam bentuk telur atau dalam kandungan induknya?”.
Ramon: "Kita memang tidak bisa membuat kontrak dengan beast yang belum memiliki wujud sempurna tapi kita bisa menyalurkan aether kita untuk menghangatkan dan membantu perkembangannya".
Manas: "Membantu perkembangannya?".
Ramon: "Ya benar, karena Beast dan Magic Beast saat dalam telur atau dalam kandungan induknya. Ia menyerap aether dari induknya untuk bertumbuh kembang"
Sarira: “Apa kamu yakin bisa melakukannya Manas?”.
Manas: “Sebenarnya aku juga tidak yakin tapi tidak ada salahnya untuk mencobanya ya kan”.
Manas: “Baiklah akan ku coba”. Manas mengulurkan tangannya dan menyentuh telur itu sambil menyalurkan aether yang ada didalam diri nya
Manas: “Apa berhasil?”
Sarira: “Warna telurnya berubah, yang awalnya putih kini muncul warna garis merah ditelurnya”.
Tak lama telur itu bercahaya dan menghilang, semua orang yang menyaksikannya merasa keheranan.
Sarira: Apa yang kamu lakukan Manas?". Nada suara Sarira terdengar panik begitu pula dengan Manas
Manas: "Mana ku tahu, aku cuma mengikuti arah dari kakek saja, bagaimana ini kek?".
Ramon: " Selama 40 tahun aku hidup, baru pertama kali aku melihat seperti ini".
Ramon: "Tenang saja, mungkin telur itu balik ketempat induknya saat energinya sudah pulih".
Manas: "Semoga saja Kakek benar tentang ini".
Tidak ada yang tahu ke mana telur itu pergi namun satu hal pasti, kejadian hari itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap biasa.
